Mantan Menlu AS: Donald Trump Sulit Diarahkan, Semaunya Sendiri

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 08 Des 2018, 12:16 WIB
Mantan menteri luar negeri AS, Rex Tillerson (kiri), bersama dengan Presiden Donald Trump (AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Washington DC - Mantan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson angkat bicara soal mantan bosnya, Donald Trump.

Dalam sebuah wawancara pada Kamis 6 Desember 2018 malam, ia mengaku kerap berulang kali harus memberi tahu sang miliarder nyentrik bahwa apa ingin dilakukannya tidak mungkin terlaksana karena melanggar hukum atau perjanjian internasional. 

Mantan CEO Exxon itu menyebut Trump sebagai "seorang pria yang sangat tidak disiplin, tidak suka membaca, tidak mengindahkan arahan, tidak suka masuk ke rincian tentang banyak hal". Donald Trump hanya percaya dengan apa yang diyakininya.

Dikutip dari BBC pada Sabtu (8/12/2018), Tillerson juga mengangkat beberapa kekhawatiran tentang kondisi dialog politik AS di era media sosial.

"Saya akan jujur ​​kepada Anda, itu menyulitkan saya, terkait bahwa orang-orang Amerika tampaknya ingin tahu begitu sedikit tentang masalah (krusial), bahwa mereka puas dengan 128 karakter," katanya, menambahkan bahwa dia tidak bermaksud menjadi kritikus presiden via media sosial.

Selama ini, Trump seringkali mengumumkan kebijakan atau sikap dalam akun Twitter pribadinya, @realDonaldTrump. Angka 128 yang disebut Tillerson, adalah jumlah maksimal dalam kicauan Twitter yang pernah berlaku sebelumnya.

Tak berapa lama, Donald Trump segera merespons kritik mantan menlunya itu via Twittre. Ia mencuit di sea-sela perjalanan kembali ke Gedung Putih dari negara bagian Missouri, Jumat sore.

"Mike Pompeo melakukan pekerjaan yang hebat, saya sangat bangga padanya," twit Trump.

"Pendahulunya, Rex Tillerson, tidak memiliki kapasitas mental yang diperlukan. Dia bodoh seperti batu dan saya tidak bisa menyingkirkannya cukup cepat. Dia malas sekali. Sekarang ini adalah permainan bola baru, semangat yang luar biasa di AS!" lanjutnya dalam cuitan berisi 270 karakter.

Padahal, sebelumnya, Donald Trump pernah memuji Rex Tillerson sebagai "salah satu pemimpin bisnis yang benar-benar hebat di dunia", ketika dia diangkat sebagai menlu bahkan anggota kabinet Trump pertama yang dibentuk Februari 2017.

Namun, hubungan mereka memburuk dengan cepat. Keduanya bentrok soal kebijakan di Korea Utara, Qatar, Iran, Rusia, China dan kesepakatan iklim Paris.

Para analis politik mengatakan bahwa pribadi Tillerson yang cermat tidak pernah bisa menyatu dengan perangai Trump yang selalu terburu-buru.

Ketegangan semakin terasa setelah media melaporkan bahwa Tillerson telah menyebut Trump sebagai presiden yang "bodoh". Namun, sang menlu kala itu berusaha menunjukkan seolah tidak ada konflik, walau sejatinya ia tidak pernah membantah ataupun mengiyakan laporan miring terkait.

Masa jabatan Tillerson berakhir dengan canggung, 13 bulan setelah dilantik. Ironisnya, pencopotannya disampaikan oleh Trump melalui Twitter, beberapa jam setelah sang menlu kembali dari perjalanan resmi ke Afrika.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Keresahan Kembali Muncul di Twitter

Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump memberi hormat saat berjalan menuju pesawat Air Force One sebelum berangkat dari Pangkalan Udara Langley di Virginia, (2/3). Trump tampak gagah mengenakan jaket panglima tertinggi Navy Seal. (AFP Photo / Saul Loeb)

Kini, Donald Trump dikabarkan kembali membuah resah di Twitter, di mana dia beberapa kali menyinggung tentang lemahnya salah satu pengisi jabatan tinggi di kabinetnya.

Oleh para pengamat, hal ini disebut sebagai contoh terbaru tentang kecenderungan Trump menyampaikan ketidaksukaannya, secara langsung di media sosial.

Trump dan pendukungnya menyebut tindakan tersebut sebagai "pukulan telak", namun kubu kontra menyebutnya sebagai bukti ego yang rapuh atau kurangnya pengendalian diri.

Beberapa outlet media AS menyebut bahwa prospek bekerja pada presiden yang kerap berlaku "semaunya sendiri", akan berkontribusi pada meningkatnya tantangan yang dihadapi Gedung Putih dalam mengisi posisi kosong di pemerintahan.

Dari 706 posisi kunci yang membutuhkan konfirmasi, menurut investigasi oleh surat kabar Washington Post, ada 125 tempat yang masih belum memiliki nominator.

Dilaporkan bahwa, saat ini, posisi riskan tengah mengintai Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein, yang semoat menyebut bahwa dia tidak ingin dicopot via twit presiden.

Meski Donald Trump belum menunjukkan sikap apapun terhadap Rosenstein, nanun banyak pihak menduga ada keretakan hubungan di antara keduanya.

Lanjutkan Membaca ↓