Vladimir Putin Sebut Insiden di Krimea Sebagai Akal-Akalan Presiden Ukraina

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 29 Nov 2018, 12:33 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Alexei Nikolsky)

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin angkat bicara soal insiden terbaru yang melibatkan militer negaranya dengan tiga kapal Ukraina di Laut Azov, Selat Kerch, Semenanjung Krimea pada akhir pekan lalu.

Putin menyebut insiden itu sebagai 'akal-akalan' Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, dan menuduhnya memfabrikasi kejadian tersebut demi meningkatkan simpati menjelang Pemilu Ukraina 2019.

"Dia (Poroshenko) harus melakukan sesuatu untuk membuat situasi lebih tegang," kata Putin pada forum investasi pada hari Rabu 28 November 2018, seperti dikutip dari BBC, Kamis (29/11/2018).

Pada 25 November, penjaga perbatasan Rusia FSB menembaki dan menyita dua kapal AL Ukraina serta sebuah kapal tug boat sipil.

Ukraina menyebut sikap Rusia sebagai 'agresi' karena menyerang tiga kapal yang berlayar dengan mematuhi peraturan internasional. Sedangkan Rusia menyebut kejadian itu sebagai insiden pelanggaran perbatasan yang dilakukan oleh kapal Ukraina.

Uni Eropa telah menyatakan "sangat prihatin tentang peningkatan ketegangan yang berbahaya" dan mengatakan penggunaan kekuatan Rusia "tidak dapat diterima", tetapi tidak menyebutkan sanksi kepada siapapun atas insiden tersebut.

Lebih lanjut, Putin mengatakan bahwa insiden di Selat Kerch "tidak diragukan lagi provokasi" yang diselenggarakan oleh Ukraina.

"Dan, saya pikir, presiden yang saat ini berkuasa akan bersaing dalam pemilihan presiden Ukraina pada Maret 2019," tambahnya.

Poroshenko memiliki peringkat popularitas rendah, dengan jajak pendapat bulan ini menunjukkan sekitar 10 persen dari pemilih berencana untuk memilih dia tahun depan dan hampir 50 persen mengatakan mereka tidak akan memilih dia dalam keadaan apapun, surat kabar Kyiv Post melaporkan.

Putin menambahkan bahwa keputusan presiden Ukraina untuk memberlakukan darurat militer setelah "insiden perbatasan" saja tidak terjadi pada puncak konflik dengan separatis pro-Rusia di Ukraina timur pada tahun 2014.

Selat Kerch, Laut Azov, Semenanjung Krimea (AP PHOTO)

Presiden Rusia itu juga menegaskan bahwa respon militer negaranya adalah tepat karena Ukraina telah "masuk tanpa izin" ke wilayah perairan Rusia di Laut Azov, dengan menambahkan bahwa bahkan sebelum krisis Krimea meletus, wilayah itu adlah adalah perairan Rusia.

Namun, pejabat Ukraina menerbitkan peta pada hari Rabu, menempatkan ketiga kapal Ukraina tepat di luar perairan wilayah Krimea pada saat mereka ditangkap.

"Kebusukan politik ini akan mereda," kata Putin, beberapa jam setelah Rusia mengumumkan bahwa mereka akan mengirim sistem pertahanan udara S-400 (ground-to-air missile) baru ke Krimea bulan depan, untuk bergabung dengan tiga yang telah dikerahkan tahun ini.

Setidaknya tiga pelaut Ukraina terluka pada hari Minggu 25 November karena insiden di Selat Kerch, bagian antara Laut Hitam dan Laut Azov di lepas pantai Semenanjung Krimea.

Semenanjung itu dianeksasi Rusia dari Ukraina pada 2014.

Ketiga kapal Ukraina itu berlayar dari Odessa ke Mariupol, pelabuhan Ukraina utama di laut Azov, ketika mereka dihadapkan oleh empat kapal FSB (penjaga perbatasan Rusia).

Kedua negara sepakat untuk berbagi laut dalam perjanjian tahun 2003, tetapi keputusan Rusia untuk membuka jembatan melintasi Selat Kerch tahun ini telah memperparah ketegangan.

Ukraina mengatakan Rusia dengan sengaja memblok Mariupol dan pelabuhan lain, Berdyansk, mencegah kapal-kapal melewati Selat Kerch.

Semua 24 pelaut Ukraina yang ditangkap kini telah diberikan dua bulan dalam penahanan pra-sidang oleh pengadilan di Krimea yang dianeksasi oleh Rusia.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Donald Trump Batal Jumpa Vladimir Putin di KTT G20?

Presiden AS Donald Trump bersalaman dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Martinez Monsivais)
Presiden AS Donald Trump bersalaman dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Martinez Monsivais)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ia mungkin akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menyusul bentrokan maritim terbaru antara Rusia dan Ukraina di Semenanjung Krimea.

Trump mengatakan kepada Washington Post dia menunggu "laporan lengkap" setelah kapal Rusia menembaki dan menyita tiga kapal Ukraina pada hari Minggu 25 November 2018.

uru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan, Washington ingin melihat penegakan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia.

Trump dan Putin akan bertemu di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires akhir pekan ini.

Namun, Trump mengatakan kepada Washington Post bahwa laporan yang datang dari tim keamanan nasionalnya akan "sangat menentukan" jadi-tidaknya pertemuan itu.

"Mungkin saya tidak akan mengadakan pertemuan (dengan Putin). Mungkin saya bahkan tidak akan mengadakan pertemuan. Saya tidak suka agresi itu. Saya sama sekali tidak menginginkan agresi itu," katanya.

Keduanya sempat dijadwalkan membahas keamanan, pengawasan senjata, dan masalah di Ukraina dan Timur Tengah ketika KTT G20 diadakan pada Jumat dan Sabtu, penasihat keamanan nasional John Bolton mengatakan pada wartawan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa perebutan kapal Ukraina adalah "eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional".

Lanjutkan Membaca ↓