Tangkal Hama Merugikan, Australia Gunakan Kecerdasan Buatan

Oleh Liputan6.com pada 25 Nov 2018, 10:00 WIB
Ilustrasi komputer dan peretasan

Liputan6.com, Queensland - Mempertahankan kesehatan ekosistem unik di Australia telah menjadi latihan yang mahal. Pemerintah Federal berencana untuk menghabiskan lebih dari AU$ 300 juta untuk penanganan biosekuriti selama lima tahun ke depan.

Percobaan yang sedang berlangsung di Murdoch University, Australia Barat, akan menghemat waktu dan uang dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi tanaman, vertebrata dan serangga secara digital, yang diduga menimbulkan ancaman biosekuriti.

Profesor Simon McKirdy, Direktur Harry Butler Institute di Universitas Murdoch, mengatakan bahwa perangkat lunak dari AI bisa menghemat ribuan jam kerja dengan mengidentifikasi risiko biosekuriti dalam hitungan detik.

Ilmuwan peneliti Andre deSouza menggunakan perangkat lunak Kecerdasan Buatan (AI) untuk menyortir seekor serangga yang bisa menjadi ancaman biosekuriti. (Foto: Murdoch University)

"Kecerdasan buatan kini sampai pada titik di mana ia sangat cepat dan sangat akurat," katanya, sebagaimana dikutip dari ABC Indonesia, Minggu (25/11/2018). "Ini bisa menjadi alat triase yang sangat efektif bagi kami dalam memeriksa sampel di lapangan dan di laboratorium."

Profesor McKirdy mengatakan bahwa kecerdasan buatan dapat mengidentifikasi hal-hal yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

"Kami mengambil proses pengenalan wajah dan menerapkannya pada organisme lain, apakah itu tikus, tokek atau serangga. Alat ini mulai mengidentifikasi fitur-fitur tertentu dari hewan dan tumbuhan yang berbeda," lanjutnya.

Belajar Seperti Anak Kecil

Profesor McKirdy mengatakan bahwa timnya terkesan dengan seberapa cepat perangkat lunak itu mempelajari informasi baru.

"Mereka menantang sistem dengan gambar baru organisme ini. Seperti anak kecil, setiap langkah baru yang kami letakkan di depannya, sistem AI mempelajari dan menjadi lebih baik untuk dapat mengidentifikasi apakah itu tikus, tokek, atau serangga tertentu," tutur McKirdy.

Sementara diskusi berkecamuk secara global tentang prospek kecerdasan buatan mengancam pekerjaan manusia, McKirdy mengatakan teknologi itu dirancang untuk membantu spesialis keamanan hayati daripada menggantikannya.

"Ini tentang memberi mereka alat yang lebih kuat yang dapat mempercepat dan menambah akurasi mereka. Misalnya, jika sistem ini menyortir 100 gambar, maka sistem itu akan melakukan triase dan kembali dan berkata, 'Kami benar-benar berpikir ada empat gambar di sini yang perlu dilihat oleh ahli manusia'," ungkapnya.

"Kemudian ahli manusia dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk memastikan mereka mendapatkan jawaban yang benar pada diagnosis," pungkas McKirdy.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 of 2

Membawa Kecerdasan Buatan ke Lapangan

Ilustrasi belalang (AFP)
Ilustrasi belalang (AFP)

Situs uji coba untuk teknologi AI adalah Pulau Barrow, sebuah cagar alam kelas A yang berlokasi 1.200 kilometer di utara Perth, Australia.

Pulau ini juga merupakan rumah bagi pabrik gas Gorgon multi-miliar dolar yang dioperasikan oleh raksasa energi Chevron, yang mendanai uji coba AI.

Profesor McKirdy mengatakan dia bisa melihat AI digunakan oleh ahli biosekuriti di pos pemeriksaan bandara dan penyeberangan perbatasan negara.

"Tujuan kami adalah untuk mendapatkan sistem ini ke titik di mana kita bisa melihat petugas biosekuriti di perbatasan, di lapangan, atau bahkan petani berada di posisi di mana sistem AI ini bisa menjadi sebuah aplikasi di telepon yang memungkinkan mereka mengambil gambar yang baik," ucapnya.

"Kemudian, hampir secara seketika atau real time mereka dapat memperoleh respon dari sistem bahwa ada kemungkinan ini adalah hama yang memprihatinkan atau tidak. Ini akan membuang banyak waktu yang dihabiskan untuk hal-hal yang bukan masalah," papar McKirdy.

Lanjutkan Membaca ↓