Kesehatan Bayi Ikut Dipengaruhi oleh Pola Olahraga dan Diet Ayah?

Oleh Liputan6.com pada 19 Nov 2018, 09:30 WIB
Diperbarui 19 Nov 2018, 09:30 WIB
Anak main di lantai (iStock)

Liputan6.com, Ohio - Banyak orang tahu bahwa kesehatan perempuan, termasuk kebiasaan berolahraga dan diet, dapat menimbulkan dampak kesehatan pada bayi yang dikandungnya.

Perempuan calon ibu berupaya mengurangi kelebihan berat badan dan memeriksakan diri ke dokter untuk mengoptimalkan kesehatan mereka. Namun, belum banyak yang diketahui tentang pilihan olahraga dan diet sang ayah ikut memainkan peran, hingga baru-baru ini.

Sebuah penelitian di Wexner Medical Center, Ohio University, menyajikan sudut pandang yang unik. Riset mereka mengkaji dampak kebiasaan berolahraga ayah pada keturunannya.

Riset itu ternyata menunjukkan pola sebab-akibat, kata Kristin Stanford, anggota Pusat Penelitian Diabetes dan Metabolisme di Ohio, yang memimpin penelitian tersebut.

Hasilnya menunjukkan, olahraga ringan sekali pun berdampak pada bayi keturunan mereka.

"Ada peningkatan metabolisme pada keturunan mereka. Meningkatkan metabolisme glukosa, penurunan berat badan, dan sensitivitas insulin keturunan mereka," kata Kristin, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Minggu (18/11/2018).

"Gagasannya adalah jika sang ayah ingin memiliki anak, jika mereka suka berolahraga – mungkin satu bulan menjadi proses pembuahan – maka akan menimbulkan dampak sangat dramatis pada kehidupan anak mereka," imbuh Kristin.

Para peneliti juga mendapati bahwa olahraga, dengan diet yang buruk sekali pun, akan membantu proses pembuahan.

Penelitian itu itu dilakukan pada tikus-tikus. Menurut temuan peneliti, tikus percobaan yang menjalani diet tinggi lemak mengalami masalah kesehatan negatif, seperti obesitas dan resistensi insulin, tetapi dampak-dampak itu tidak ditemukan ketika tikus yang menjalani diet tinggi lemak itu dipaksa aktif atau dengan kata lain "berolahraga".

"Diet tinggi lemak, dimana dalam kasus percobaan kami dilakukan selama tiga minggu, mengubah profil tikus-tikus. Tetapi olahraga mengembalikan profil mereka," imbuh Kristin.

Masih lebih banyak upaya harus dilakukan untuk mengetahui apakah hal yang sama dapat diterapkan pada manusia dan bayi keturunannya. Tetapi dalam penelitian atas tikus-tikus ini, olahraga pada tikus jantan merupakan kunci penting bagi kesehatan keturunan mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengatakan satu dari empat orang dewasa di seluruh dunia sangat tidak aktif. Ini meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, kanker dan diabetes.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Tips Mencegah Obesitas pada Anak

Ilustrasi ayah dan anak (iStock)
Ilustrasi ayah dan anak (iStock)

Obesitas atau kelebihan berat badan pada si kecil sangat berbahaya, karena dapat meningkatkan risiko penyakit seperti jantung, diabetes, sesak napas atau penyakit lainnya.

Untuk itu sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mencegah hal itu terjadi. Untuk mengupayakan pencegahan obesitas pada si kecil. Anda dapat melakukan 3 hal ini:

1. Ajak Anak Aktif Bergerak

Anak-anak yang aktif cendrung memiliki berat badan yang ideal. Karena pada saat beraktivitas, tubuh akan membakar membakar kalori yang menumpuk. Untuk menghilangkan bosan si kecil, Anda bisa mengajak si kecil untuk beraktifitas di luar ruangan. Aktivitas ini membuat bahagia dan melatih perkembangan sosialnya dengan bertambahnya teman.

2. Pola Makan Sehat

Obesitas terjadi karena kalori yang masuk dan energi yang dibuang tidaklah seimbang. Untuk itu jika si kecil mengonsumsi banyak makan, maka harus mengimbanginya dengan aktivitas yang tinggi.

Selain dengan mengisi aktivitas, berikanlah makanan untuk si kecil yang sehat dan gizi seimbang serta penuhi kebutuhan nutrisi dan protein si kecil dengan memberikan sayur-sayuran, buah-buahan, dan ikan.

3. Hindari Gaya Hidup Diam

Jika Anda tidak memiliki cukup waktu untuk menemani si kecil beraktivitas di luar ruangan. Buatlah suasana di rumah menjadi lebih menyenangkan seperti membuat mainan lego atau membantu untuk membersihkan kamarnya. Hindari kebiasaan anak diam menonton televisi atau bermain game di rumah.

Lanjutkan Membaca ↓