16-11-1945: Operasi Rahasia untuk Membawa 88 Ilmuwan Nazi ke AS

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 16 Nov 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 16 Nov 2018, 06:00 WIB
Ilustrasi Nazi (Wikipedia/Public Domain)
Perbesar
Ilustrasi Nazi (Wikipedia/Public Domain)

Liputan6.com, Washington DC - Tak hanya memicu malapetaka yang menewaskan sekitar 200 ribu manusia, bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Hiroshima dan Nagasaki juga mengakhiri Perang Dunia II. Namun, bukan hanya itu senjata mematikan yang diproduksi selama pertempuran global tersebut.

Diam-diam, Nazi mengembangkan senjata, yang tak hanya mengerikan, tapi juga bisa memicu kematian massal. Dari racun saraf, penyakit yang bisa memicu wabah, hingga roket V-1 dan V-2.

Senjata-senjata mematikan itu baru ditemukan belakangan. Meski telah merenggut ribuan nyawa di Eropa, kehadirannya tak mampu membalikkan kekalahan Nazi.

Di penghujung perang, pada 1945, ketika kekuasaan Hitler redup dan Nazi di ambang kekalahan besar, pihak Rusia dan Amerika Serikat berebut teknologi yang dimiliki Reich Ketiga.

Dalam rangka itu, pada 16 November 1945, 88 ilmuwan Nazi dibawa ke AS. Keputusan tersebut kontroversial. 

Jelang kedatangan, jurnalis dan fotografer diwanti-wanti untuk tak memotret atau mewawancarai mereka. Beberapa hari kemudian, kabar dari Swedia menyebut, para ilmuwan dari Jerman adalah anggota tim ahli Nazi di Peenemeunde, di mana senjata V-1 dan V-2 diproduksi.

Sebelumnya, seperti dikutip dari smithsonianmag.com, Kamis (15/11/2018), beberapa hari dan pekan setelah Jerman menyerah kalah, pasukan AS menyisir wilayah pedesaan. Tujuannya, untuk mengumpulkan senjata-senjata Nazi yang tececer.

Suatu ketika, mereka menjumpai mesin perang Nazi yang tak terduga, demikian diungkapkan penulis Annie Jacobsen kepada All Things Considered NPR pada 2014.

"Misalnya, mereka tak menduga Hitler menciptakan senjata racun syaraf (nerve-agents)," kata Jacobsen, dalam bukunya, Operation Paperclip: The Secret Intelligence Program That Brought Nazi Scientists To America.

Tentara AS tak mengira Hitler sedang membangun senjata biologis yang bisa menyebarkan wabah pes di wilayah lawan.

"Saat Operation Paperclip dimulai, Pentagon kemudian menyadari, 'tunggu dulu, kita butuh senjata-senjata ini untuk kita sendiri'."

Dan, setelah mempelajarinya, Departemen Pertahanan AS tersebut berpendapat, itu saja tak cukup. Ilmuwan Nazi pun diincar.

Dan Amerika bukan satu-satunya yang menginginkan mereka. Uni Soviet melakukan hal yang sama.

Tentu saja, itu adalah fakta yang ironis. AS dan Uni Soviet, yang bersekutu untuk melawan Jerman dan rezim Nazi di Perang Dunia II, terlibat perseteruan untuk mendapatkan para ilmuwan paling cemerlang --yang membantu Hitler menyediakan senjata paling mematikan -- untuk membuat sistem persenjataan demi mengancam satu sama lain selama Perang Dingin yang pecah beberapa tahun kemudian.

AS kemudian membawa 88 ilmuwan Nazi yang ditangkap ke AS. Mereka kembali dipekerjakan. Bedanya, menurut History.com, para ahli bekerja untuk AS. 

Pihak militer berusaha menutup-nutupi fakta dengan menyebut bahwa para ilmuwan Nazi adalah 'tahanan damai' yang akan mengawal AS mengembangkan hal-hal yang dianggap penting bagi keamanan nasional.

Namun, sejatinya, beberapa dari ilmuwan Nazi memiliki rahasia mengerikan. Wernher von Braun, misalnya. Ia bukan hanya otak di balik program roket V-2 tapi juga pengetahuan yang mendalam tentang apa yang terjadi di kamp-kamp konsentrasi.

Von Braun menunjuk sejumlah orang dari kamp konsentrasi yang mengerikan, termasuk di Buchenwald, untuk kerja rodi membangun roketnya.

Paperclip Operation dirahasiakan rapat-rapat. Bahkan, para agen Office of Special Investigations, yang bertigas memburu para petinggi Nazi pascaperang, tak menyadari bahwa selama beberapa dekade ada bagian pemerintah AS yang berkolaborasi dengan mereka.

Memang, harus diakui, para ilmuwan berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di AS, seperti program Apollo. Meski demikian, secara etika dan moral, warisan Operation Paperclip patut dipertanyakan.

 

Saksikan video terkait Nazi berikut ini:

2 dari 2 halaman

Roket Nazi dan Kisah Tragis Astronot Monyet

Monyet bernama Albert II menjadi primata pertama yang berhasil ke angkasa luar pada Selasa 14 Juni 1949.
Perbesar
Monyet bernama Albert II menjadi primata pertama yang berhasil ke angkasa luar pada Selasa 14 Juni 1949 (NASA)

Albert II dalam kondisi tak sadar saat tubuhnya yang kecil dimasukkan ke dalam rudal rancangan Nazi. Hari itu, Selasa 14 Juni 1949, monyet rhesus (Macaca mulatta) yang sudah dibius tersebut diluncurkan ke angkasa luar dari pangkalan udara White Sands, New Mexico, Amerika Serikat.

Roket Blossom V-2 yang akan membawanya adalah versi yang lebih besar dari misil yang dijatuhkan Adolf Hitler lima tahun sebelumnya, untuk menghancurkan sejumlah kota di Eropa -- London, Antwerp, dan Liege.

Pasca-kekalahan Nazi dan Hitler, senjata pemusnah massal tersebut diadopsi Amerika Serikat, dengan bantuan sejumlah ilmuwan Jerman, untuk tujuan yang sangat berbeda. Bukan untuk perang.

Proses lepas landas berjalan lancar. Blossom V-2 mendorong kapsul berisi Albert II ke ketinggian 83 mil atau 134 kilometer, membuatnya sebagai primata pertama yang berhasil ke angkasa luar.

Sekitar tiga menit setelah peluncuran, ketika roket mencapai titik puncaknya (zenith), kapsul yang membawanya terpisah dari Blossom V-2. Berdasarkan rencana, parasut akan segera terkembang, membawa Albert II kembali ke Bumi dengan selamat.

Namun, parasut tersebut gagal memperlambat laju penurunan. Kapsul yang membawa Albert II terhempas ke Bumi, memicu terbentuknya kawah selebar 10 kaki atau 3 meter di permukaan tanah.

Enam menit setelah diluncurkan, monyet seberat enam pon atau 2,7 kg itu mati.

Selain menjadi momentum 88 ilmuwan Nazi ke AS, sejumlah peristiwa bersejarah terjadi pada 16 November.

Pada 1988, Benazir Bhutto terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan. Hal itu terjadi setelah dirinya meraih kemenangan dalam pemilihan umum yang diadakan pada 16 November 1988.

Seperti dimuat BBC History, hasil tersebut membuat Benazir menjadi wanita pertama yang memimpin sebuah negara muslim.

Benazir sendiri adalah putri dari mantan pemimpin Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto.

Sementara, pada 16 November 1961, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy memutuskan untuk memberikan bantuan militer tambahan pada pemerintah Vietnam Selatan.

Saat itu, Vietnam masih terbagi menjadi dua negara, yaitu Vietnam Selatan dan Vietnam Utara. Kedua negara saling berperang karena adanya perbedaan paham, dan AS ikut membantu Vietnam Selatan yang beribu kota di Saigon --sekarang Ho Ci Minh City-- untuk mengalahkan seterunya yang berstatus sebagai negara komunis.

Lanjutkan Membaca ↓