Putra Mahkota Arab Saudi Alihkan Isu Jamal Khashoggi ke Konflik Gaza?

Oleh Afra Augesti pada 14 Nov 2018, 12:00 WIB
Diperbarui 15 Nov 2018, 17:14 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Liputan6.com, Riyadh - Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, dikabarkan berusaha membujuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memulai perang di Jalur Gaza.

Menurut pemberitaan yang diterbitkan pada media Qatar, Al Jazeera, hal tersebut dilakukan Sang Putra Mahkota untuk mengalihkan fokus publik yang terus menerus menyoroti kasus pembunuhan jurnalis Washington Pot, Jamal Khashoggi.

Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, dikutip dari Middle East Eye, perang di Jalur Gaza adalah salah satu cara ampuh yang bisa dilakukan oleh pihak kerajaan, agar masyarakat internasional tak lagi menaruh perhatian pada insiden Jamal Khashoggi.

Sumber anonim itu menambahkan, opsi lain yang dilakukan oleh Mohammed bin Salman yakni menyuap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dengan membeli peralatan militer dari Turki.

Sementara itu, Erdogan menegaskan bahwa rekaman yang berkaitan dengan pembunuhan Jamal Khashoggi, yang telah dibagikan oleh Ankara dengan sekutu negara-negara Barat, berisi sesuatu yang "mengerikan" dan mengejutkan seorang perwira intelijen Arab Saudi yang mendengarkannya.

"Kami memutar rekaman tentang pembunuhan ini kepada semua orang yang menginginkannya dari kami. Organisasi intelijen kami tidak menyembunyikan apa pun. Kami mengirimkan rekaman tersebut untuk semua pihak yang menginginkan isi dari perekam itu, termasuk Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Jerman, dan Inggris," kata Erdogan.

"Rekaman itu benar-benar mengerikan. Memang, ketika petugas intelijen Saudi mendengarkan rekaman terkait, ia sangat terkejut dan berkata: 'Orang yang merekam ini pasti telah mengonsumsi heroin, hanya seorang pemakai heroin yang bakal melakukan ini'," Erdogan menambahkan.

Erdogan juga menekankan, pembunuhan Khashoggi harus ditempatkan pada tingkat tertinggi pemerintah Saudi, meski ia sendiri yakin bahwa Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, tidak akan bertanggung jawab atas perintah tersebut.

Sejauh ini belum ada konfirmasi atau bantahan dari pihak Arab Saudi terkait tuduhan yang dimuat Al Jazeera.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Eskalasi Konflik Israel-Palestina

Stasiun TV Hamas Hancur
Ledakan yang disebabkan serangan udara Israel di atas kantor stasiun televisi Al Aqsa milik Hamas di Jalur Gaza, Senin (12/11). Militer Israel melakukan serangan udara untuk membalas serangan roket yang diluncurkan dari daerah Palestina. (AP/Adel Hana)

Militer Israel mengklaim bahwa sejauh ini, pihaknya telah menyerang lebih dari 100 sasaran di Jalur Gaza. Serangan ini merupakan tanggapan terhadap lebih dari 370 roket yang ditembakkan dari wilayah yang dikuasai Hamas, pada Senin sore hingga Selasa pagi, 13 November 2018.

Pertahanan udara berhasil mencegat lebih 100 roket dari Gaza dan sebagian besar jatuh di daerah terbuka. Beberapa rumah dan sarana sipil lainnya hancur, menurut militer Israel yang dikutip dari DW Indonesia, Rabu (14/11/2018).

Para dokter sebelumnya melaporkan sekitar 20 penduduk Israel terluka. Sedangkan kementerian kesehatan Gaza menyebut, 3 warga Palestina tewas dan 9 orang terluka karena serangan Israel.

Kelompok militan 'Front Populer untuk Pembebasan Palestina' menyatakan, 2 dari 3 penduduk Palestina yang tewas adalah anggotanya, sedangkan yang ketiga adalah anggota sayap bersenjata Jihad Islam.

Perang Baru Militer Israel vs. Militan Palestina?

Militer Israel dan kelompok militan Palestina di Gaza telah terlibat dalam tiga perang sejak 2008. Bentrokan mematikan dalam beberapa bulan terakhir telah menimbulkan kekhawatiran berkobarnya perang keempat.

Madia lokal melaporkan, kabinet keamanan Israel, yang memiliki wewenang untuk memutuskan perang, telah bertemu pada Selasa pagi waktu setempat.

Juru bicara militer Israel mengatakan, sebuah bus Israel terkena rudal anti-tank dari Jalur Gaza dan mengakibatkan beberapa orang cedera. Seorang tentara terluka parah, tambahnya.

Kelompok militan Palestina di Gaza, termasuk Hamas, mengaku bertanggung jawab atas serangan roket dan serangan ke bus Israel itu, yang mereka katakan sedang digunakan oleh tentara Israel.

Gedung siaran TV Al-Aqsa milik Hamas, pun hancur dalam serangan Israel. Militer Israel menuduh stasiun televisi itu "berkontribusi untuk tindakan militer Hamas".

Tidak ada laporan mengenai korban cedera. Para karyawan media itu diyakini telah dievakuasi setelah ada tembakan peringatan.

Lanjutkan Membaca ↓