Pemilu Paruh Waktu AS 2018, Republik Pertahankan Dominasi di Kursi Senat

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 07 Nov 2018, 15:01 WIB
US Capitol, Gedung Kongres AS (DPR dan DPD) (Wikimedia / Creative Commons)

Liputan6.com, Washington DC - Partai Republik diproyeksikan mempertahankan dominasi mereka atas Senat Amerika Serikat atau US Senate (DPD) setelah berhasil memperoleh keunggulan kursi dalam pemilu paruh waktu AS (mid-term election) yang diselenggarakan pada 6 November 2018. 

Menurut perhitungan awal The Associated Press, Republik memperoleh 51 kursi, sementara Demokrat memperoleh 42 kursi. Ada total 100 kursi yang diperebutkan. Sedangkan, syarat suatu partai agar dapat mendominasi Senat adalah dengan memiliki 51 kursi.

Meskipun partai yang mengontrol Gedung Putih (Presiden Donald Trump merupakan anggota Republik) biasanya kehilangan kursi Senat dalam pemilihan paruh waktu, namun, Republik berhasil mempertahankan dominasinya dengan meredam saingannya, Partai Demokrat. Karena, sebagian besar kursi, termasuk dari 10 negara bagian yang pada Pilpres 2016 lalu dimenangkan oleh Presiden Trump, berhasil dimenangkan oleh Republik, demikian seperti dikutip dari USA Today, Selasa (7/11/2018).

Proyeksi kemenangan kuat Republik menjadikan mereka akan mengamankan dua tahun lagi kontrol atas Senat, di mana mereka akan berusaha melanjutkan mengejar prioritas kebijakan utama mereka seperti pencabutan dan penggantian jaminan kesehatan nasional Obamacare dan perubahan lebih lanjut pada undang-undang pajak AS.

Anggota Republik Mike Braun diproyeksikan mengalahkan Senator Demokrat Joe Donnelly di Indiana, sementara Anggota Republik, Kevin Cramer diperkirakan akan menggulingkan petahana Senator Demokrat Heidi Heitkamp di North Dakota. Sementara itu, Anggota Republik Josh Hawley diproyeksikan akan mengalahkan Senator Demokrat Claire McCaskill di Missouri, menurut NBC News.

Sementara itu, Republik diproyeksikan untuk memegang dua kursi Senat yang rentan, menurut NBC. Senator Republik Ted Cruz akan memenangkan pemilihan ulang, sementara Anggota Republik Marsha Blackburn diharapkan menang dalam voting di Tennessee untuk mengisi kursi Anggota Republik Senator Bob Corker yang sudah pensiun.

Pemilihan paruh waktu di Amerika diselenggarakan secara nasional setiap empat tahun sekali, dan berlangsung di tengah-tengah masa jabatan seorang presiden, yang berkuasa selama empat tahun, sehingga dinamakan 'paruh waktu'.

Ada banyak jabatan yang dipilih namun yang paling penting adalah pemilihan anggota Kongres AS --yang terdiri dari House of Representatives (majelis rendah, serupa DPR) dan Senat (majelis tinggi, serupa DPD).

 

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Demokrat Merebut DPR dari Republik

Bendera Amerika Serikat (AP PHOTO)
Bendera Amerika Serikat (AP PHOTO)

Sementara itu, Demokrat diproyeksikan akan merebut DPR (House of Representatives) dari tangan Partai Republik, setelah memperoleh keunggulan suara sementara dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (mid-term election) 2018 yang berlangsung pada 6 November 2018 waktu setempat.

Proyeksi kemenangan Demokrat dinilai kuat, karena, partai itu memperoleh keunggulan suara yang terpaut cukup jauh dari Republik. Menurut perhitungan sementara CNN, Demokrat telah memperoleh 196 kursi, sementara Republik 182 kursi. Total kursi yang diperebutkan adalah 435 kursi. Sedangkan syarat sebuah partai untuk mendominasi DPR adalah dengan menduduki 218 kursi.

Kemenangan itu --yang kian dekat-- akan menempatkan Demokrat sebagai kubu dominan di DPR untuk pertama kalinya sejak 2010, demikian seperti dikutip dari CNBC.

Meski Republik diproyeksikan akan kehilangan kontrol atas DPR, Presiden Donald Trump (yang merupakan anggota Republik) tetap menggembar-gemborkan hasil kemenangan Senat AS pada pemilu dengan menyebutnya, "sukses luar biasa" dan menambahkan, "Terima kasih untuk semuanya!"

Analis menyebut bahwa Trump seharusnya khawatir atas kemenangan Demokrat di DPR. Kepemimpinan partai bermaskot keledai di DPR akan membantu membentuk bagaimana rakyat di seluruh negeri memandang presiden --apakah akan mendukung atau beroposisi terhadap eksekutif.

Tapi, besar kemungkinan, kepemimpinan Demokrat di DPR akan dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengkritisi tajam sejumlah kebijakan dan berbagai isu yang merundung sang presiden, mulai dari: skandal campur tangan dan kedekatan Rusia dengan Trump, dugaan skandal pajak sang miliarder nyentrik, isu pajak dan kesehatan nasional, Obamacare, serta imigran.

Sementara itu, pemimpin Fraksi Demokrat di DPR, Nancy Pelosi, pada kampanye jelang pemilu, telah memaparkan rencana potensial Demokrat jika mereka kembali mendominasi DPR, yakni untuk mengurangi korupsi dan politik uang, memotong harga obat, memperketat kebijkan kepemilikan senjata dan meloloskan perlindungan hukum bagi imigran muda yang dibawa ke AS secara ilegal sebagai anak-anak.

Tapi, tidak jelas berapa banyak agenda yang dapat mereka selesaikan ketika Donald Trump masih menjabat sebagai presiden dan Republik berhasil mempertahankan dominasinya di DPD Amerika Serikat (US Senate) usai pemilu paruh waktu 2018.

Lanjutkan Membaca ↓