Ilmuwan Temukan Parasit Berjumlah Besar di Antartika, Pertanda Apa?

Oleh Liputan6.com pada 06 Nov 2018, 12:31 WIB
Es Persegi Panjang Antartika

Liputan6.com, Antartika - Parasit laut yang jarang diketahui telah mengejutkan para peneliti Antartika setelah mereka menemukan jumlahnya yang banyak di lautan belahan selatan, sebuah fakta yang bisa mengubah cara memahami ekosistem Antartika.

Dikutip dari laman ABC Indonesia, Selasa (6/11/2018), Parasit syndiniales telah ditemukan di lautan di seluruh dunia, termasuk Antartika tetapi biasanya hanya pada tingkat 1 persen dari kehidupan laut di setiap sampel.

Ketika para ilmuwan Tasmania mengambil sampel air dari Samudra Selatan dan membaginya melalui pengurutan DNA, mereka mendapatkan pandangan yang jauh lebih dekat dari yang diberikan mikroskop elektron.

Mereka menemukan parasit syndiniales pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Parasit pembunuh plankton ini terbentuk sebanyak 50 persen dari materi hidup dalam sampel.

Ilmuwan Divisi Antartika Australia, Bruce Deagle, mengatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk lebih memahami ekosistem laut melalui DNA dibandingkan dengan melihat melalui mikroskop.

"Di bawah mikroskop, Anda tidak melihat parasit ini, mereka ada dalam bentuk yang sangat kecil atau mereka kista yang siap untuk menginfeksi organisme lain, atau mereka sebenarnya di dalam organisme."

"Mereka ada di dalam fitoplankton, jadi kami tak memperkirakan melihat hal itu."

Ia mengatakan, parasit tersebut begitu berlimpah di perairan yang kaya nutrisi dekat es laut.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Kemungkinan Terdampak Parasit Kecil

Gletser di Antartika
Citra satelit menunjukkan gletser di Pulau Pine, Antartika pada 17 September 2018 dan 1 Oktober 2018. (Kredit: Citra Landsat OLI diproses oleh Stef Lhermitte / Delft University of Technology)

Dr.Deagle mengatakan ada banyak hal tentang bagaimana organisme mematikan berinteraksi dengan fitoplankton - alga laut mikroskopis, yang bisa ditemukan.

"Begitu mereka menginfeksi sel mereka akhirnya akan membunuh sel itu - itu akan meledak dan mereka akan terus menginfeksi sel lain," katanya.

Ia mengatakan penemuan parasit dalam tingkat tinggi seperti itu dapat memaksa para ilmuwan untuk meninjau studi mereka tentang ekosistem Samudera Selatan.

"Pemahaman kami tentang ekosistem itu didasarkan pada model dan penelitian yang tidak memasukkan parasit itu sebagai faktor," kata Dr Deagle.

"Kami telah memodelkan populasi ini dan melihat ekosistem tanpa memasukkan parasit sebagai variabel, dan dampak parasit tersebut."

"Dengan memahami mereka, kami akan mendapatkan pandangan yang lebih baik tentang bagaimana ekosistem dikendalikan."

"Ini mungkin salah satu alasan mengapa kami melihat pembesaran [fitoplankton] telah berakhir, dibandingkan dengan kehabisan nutrisi."

Karena parasit menyerang fitoplankton, yang membentuk dasar rantai makanan laut, itu bisa berdampak pada organisme yang lebih besar seperti udang-udangan, udang kecil, ikan, dan paus."

"Semua organisme yang lebih besar itu bergantung pada energi yang berasal dari fitoplankton, dan [penelitian] ini memberikan faktor baru yang benar-benar memengaruhi produktivitas seluruh ekosistem dan dasar jaring makanan, jadi bagaimana tepatnya dampaknya adalah sesuatu yang harus kita ketahui," kata Dr Deagle.

Lanjutkan Membaca ↓