Konsulat RI: WNI di Sabah Harus Berhati-Hati Agar Tak Jadi Korban Penculikan

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 02 Nov 2018, 16:50 WIB
Gedung Pancasila

Liputan6.com, Tawau - Konsulat Republik Indonesia (KRI) di Tawau telah mengeluarkan peringatan bagi WNI yang bekerja di Sabah untuk berhati-hati setiap saat, terutama ketika melaksanakan tugas atau kegiatan di laut.

Kepala Perwakilan RI di Tawau, Sulistijo Djati Ismojo mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "semua orang Indonesia, terutama yang bekerja di sektor perikanan, harus mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari menjadi korban penculikan," demikian seperti dikutip dari The Star Malaysia, Jumat (2/11/2018).

Peringatan itu muncul setelah beredar sebuah artikel dari portal Marine Link yang memperingatkan seluruh pelaut dan warga pesisir akan adanya ancaman penculikan.

Artikel berjudul 'Pembajakan mengancam warga Filipina' itu juga menyatakan Petugas Penjaga Pesisir Filipina memperingatkan ada sekitar 10 orang anggota kelompok Abu Sayyaf (ASG) yang bersenjata pistol, senapan, dan peluncur granat berencana melakukan penculikan di sebuah wilayah dirahasiakan di Sabah, terutama menyasar kapal asing yang melintas.

Artikel itu juga menyebut ASG menumpangi kapal berwarna biru putih yang dikenal warga lokal dengan nama jungkong.

Sulistijo menyerukan seluruh WNI untuk mematuhi peringatan, peraturan dari pemerintah Malaysia, termasuk aparat kelautan Malaysia.

"Pastikan semua kapal dilengkapi peralatan keamanan dan sistem yang disyaratkan pemerintah Malaysia," kata dia.

Dia juga mengingatkan para pelaut untuk selalu menghubungi markas Komando Keamanan Sabah Timur (Esscom) dan segera melapor jika melihat kegiatan mencurigakan.

Sementara itu, dua nelayan WNI, yang diculik oleh orang-orang bersenjata Filipina di perairan Pulau Bodgaya, Semporna, Sabah pada 11 September, masih berada di tangan para tawanan --yang diduga terafiliasi dengan ASG.

Orang Indonesia asal Sulawesi, Samsul Saguni (40) dan Usman Yunus (35) diyakini telah dibawa melintasi perbatasan ke Filipina selatan oleh kelompok-kelompok penculik yang bekerja dengan kelompok Abu Sayyaf di Jolo.

Ada permintaan tebusan sebesar 4 juta ringgit (berkisar Rp 14,3 miliar) untuk pembebasan mereka tetapi diketahui bahwa keluarga-keluarga belum mendapatkan uang.

Sementara itu, Ketua Menteri Sabah Mohd Shafie Apdal mengatakan dia telah berbicara dengan pasukan keamanan di pantai timur menyusul peringatan pembajakan dan penculikan di perairan Sabah yang dikeluarkan oleh sumber Filipina baru-baru ini.

"Kami hanya ingin memastikan bahwa patroli dan tindakan pencegahan lainnya ditingkatkan. Pasukan keamanan di pantai timur telah memberikan jaminan untuk meningkatkan keamanan di perbatasan kami untuk keselamatan penduduk setempat serta turis," katanya kepada wartawan, Rabu 1 November 2018.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

RI-Malaysia Berkoordinasi Demi 2 WNI yang Diculik di Sabah

Gedung Pancasila dan Ilustrasi Bendera Indonesia (Liputan6.com/Gempur M Surya)
Gedung Pancasila dan Ilustrasi Bendera Indonesia (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Pemerintah Indonesia, melalui KBRI Kuala Lumpur dan KRI Tawau di Sabah, Malaysia, menjelaskan pada 13 September 2018 bahwa mereka telah berkoordinasi dengan otoritas setempat perihal penanganan kasus dua nelayan WNI yang diculik di perairan dekat Pulau Gaya, Semporna, Sabah, pada 11 September 2018 lalu.

Pihak KBRI Kuala Lumpur memastikan bahwa dua nelayan yang diculik berstatus sebagai WNI, berinisial SS dan UY, berasal dari Provinsi Sulawesi Barat.

"Kemlu RI melalui perwakilan RI di Malaysia akan terus bekerja sama dengan otoritas Malaysia dalam operasi penyelamatan mereka," kata Fungsi Pensosbud KBRI Malaysia Agung Sumirat dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com, Kamis 13 September 2018.

Pihak KJRI Tawau turut mengonfirmasi hal serupa.

"KJRI Tawau telah berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait di wilayah itu," kata Staf Pensosbud KRI Tawau Firma Agustina.

Kelompok Abu Sayyaf telah melakukan berbagai aksi penculikan terhadap nelayan WNI yang melaut di perairan Sabah, Sulawesi Utara, atau Filipina selatan.

Pada Desember 2016-Januari 2017, tujuh WNI diculik dan disandera kelompok itu. Sebagian besar berhasil dibebaskan per Januari 2018, berkat upaya pemerintah RI yang bekerja sama dengan otoritas setempat. Sementara sisanya diketahui melarikan diri dari jerat sandera Abu Sayyaf, hingga akhirnya ditemukan oleh otoritas Filipina, yang kemudian menyerahkan mereka kepada pemerintah Indonesia.

Lanjutkan Membaca ↓