Pertama dalam Sejarah, Ethiophia Dipimpin Presiden Perempuan

Oleh Tanti Yulianingsih pada 25 Okt 2018, 17:02 WIB
Diperbarui 25 Okt 2018, 17:02 WIB
Sahle-Work Zewde terpilih jadi presiden perempuan pertama dalam sejarah Ethiophia. (AFP)
Perbesar
Sahle-Work Zewde terpilih jadi presiden perempuan pertama dalam sejarah Ethiophia. (AFP)

Liputan6.com, Addis Ababa - Anggota parlemen Ethiopia telah memilih Sahle-Work Zewde sebagai presiden perempuan pertama di negara itu. Pemilihannya untuk posisi seremonial terjadi selang sepekan setelah Perdana Menteri Abiy Ahmed menunjuk kabinet dengan setengah pos yang diisi oleh perempuan.

Menurut pemberitaan BBC, Kamis (25/10/2018), Sahle-Work adalah seorang diplomat Ethiophia berpengalaman yang baru-baru ini memegang posisi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pidato penerimaannya, Presiden Sahle-Work berbicara tentang pentingnya menjaga perdamaian, demikian laporan media lokal.

Menurut Pusat Pemantauan Pengungsi Internal yang bermarkas di Jenewa, negara Afrika Timur dengan populasi lebih dari 100 juta orang, saat ini dilanda perselisihan berdarah antar-masyarakat yang telah menelantarkan 1,4 juta orang tahun ini.

Africanews.com memberitakan, Zewde juga menggunakan kesempatan itu untuk menyoroti penderitaan ibu dan perempuan di Ethiopia, mendesak para pembuat undang-undang untuk bekerja membangun masyarakat yang menolak penindasan terhadap perempuan.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Paraguay Juga Dipimpin Presiden Perempuan Pertama

Alicia Pucheta, calon presiden interim Paraguay. Ia akan mengisi kekosongan sementara kursi presiden Paraguay, usai Presiden Horacio Cartes mundur dari jabatannya, hingga sampai presiden terpilih Mario Abdo Benitez dilantik (Norberto Duarte / AFP PHOTO)
Perbesar
Alicia Pucheta, calon presiden interim Paraguay. Ia akan mengisi kekosongan sementara kursi presiden Paraguay, usai Presiden Horacio Cartes mundur dari jabatannya, hingga sampai presiden terpilih Mario Abdo Benitez dilantik (Norberto Duarte / AFP PHOTO)

Paraguay akan memiliki presiden perempuan untuk pertama kali dalam sejarah, setelah presiden petahana Horacio Cartes mengundurkan diri pada Senin, 28 Mei 2018.

Pengunduran diri itu dilakukan Cartes sebagai salah satu syarat formal, mengingat, pria itu telah terpilih menjadi anggota senat Paraguay pada pemilu 2018 lalu.

Wakil Presiden Alicia Pucheta (68) akan mengisi kekosongan kursi Cartes sampai presiden terpilih Mario Abdo Benitez --yang telah memenangi pemilu pada April 2018-- lalu dilantik.

Parlemen Paraguay akan mengonfirmasi pengunduran diri Horacio Cartes dan melantik Alicia Pucheta sebagai presiden sementara (interim) pada hari Rabu, 30 Mei 2018. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia 29 Mei 2018.

Penentang legalisasi aborsi, Pucheta, berasal dari Partai Colorado sayap kanan, yang telah berkuasa di Asuncion selama beberapa dekade.

Senator Desiree Masi dari kelompok oposisi mengatakan, ia tak melihat nominasi Pucheta sebagai kemajuan bagi perempuan di Paraguay.

"Seorang perempuan yang menunjukkan kepatuhan penuhnya kepada mereka yang berkuasa tidak mewakili kita," katanya. "Suatu hari, seorang perempuan akan berkuasa sebagaimana seharusnya, melalui kotak suara (pemilu)."

Tapi Lilian Samaniego, seorang senator dari Partai Colorado, punya pendapat berbeda. Ia menilai bahwa hal tersebut "dapat menjadi contoh dan memotivasi para perempuan Paraguay untuk terus berjuang merengkuh kesetaraan nyata dengan laki-laki".

Paraguay hanya memiliki delapan perempuan di antara total 45 senatornya (majelis tinggi), dan 11 di antara total 80 anggota representative (majelis rendah).

Pengunduran diri Horacio Cartes sudah diperkirakan sejak dia terpilih menjadi anggota senat Paraguay dalam pemilihan April. Para senator baru akan dilantik pada 30 Juni.

Lanjutkan Membaca ↓