7 Bencana Alam Mengerikan Ini Dipicu Pemanasan Global?

Oleh Afra Augesti pada 25 Okt 2018, 20:10 WIB
Diperbarui 25 Okt 2018, 20:10 WIB
Saat Kota New York Kembali Dilanda Badai Salju

Liputan6.com, Jakarta - Ilmuwan telah beberapa kali mengatakan bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, yakni proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di planet ini.

Pemanasan global juga bisa diartikan sebagai naiknya suhu Bumi secara menyeluruh, ditandai dengan es di Kutub yang mencair dan temperatur di berbagai tempat di seluruh dunia yang cenderung naik.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), selama 3 abad terakhir, suhu rata-rata di permukaan Bumi telah meningkat 1 derajat Celcius.

IPCC menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan Abad ke-20, kemungkinan besar, disebabkan oleh naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia --melalui efek rumah kaca.

Efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.

"Pada tahun 2050, mungkin akan meningkat 1,5 derajat Celcius. Perubahan-perubahan yang tampaknya kecil ini, sebenarnya dapat menyebabkan masalah serius bagi umat manusia, seperti beberapa bencana alam," kata IPCC, seperti dikutip dari Bright Side, Kamis (25/10/2018).

Lalu, jenis bencana alam seperti apa yang muncul akibat adanya pemanasan global? Berikut 7 di antaranya:

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 8 halaman

1. Kekeringan

ilustrasi kemarau dan kekeringan
(Foto: Tama66/Pixabay) Ilustrasi kemarau dna kekeringan.

Konsekuensi dari pemanasan global amat terasa jelas bagi seluruh orang di dunia. Tentu saja, tidak semua bagian Bumi berada dalam bahaya, karena yang terdampak parah adalah sebagian besar wilayah di belahan Bumi selatan.

Misalnya, di Afrika Selatan selama 3 tahun terakhir ini, hanya ada curah hujan rata-rata tahunan. Itu artinya, penduduk setempat memiliki jumlah air tawar dan tanah yang lebih sedikit.

Secara umum, para ilmuwan mengatakan bahwa jumlah air tawar di dunia akan semakin berkurang.

3 dari 8 halaman

2. Hujan Deras

20160308-Ilustrasi Hujan-iStockphoto
Ilustrasi Hujan (iStockphoto)

Hujan adalah peristiwa alam yang luar biasa, tetapi tidak untuk masa-masa kini. Karena suhu yang panas, air akan menguap dari permukaan Bumi dan masuk ke atmosfer, sehingga menyebabkan hujan tropis di sebagian besar planet ini.

Namun, masalah kemarau panjang tidak dapat diselesaikan hanya dengan hujan, sebab air hanya akan mengalir ke danau dan sungai, lalu menguap dari sana.

Siklus tersebut bakal terus berulang.

4 dari 8 halaman

3. Banjir

Banjir
Ilustrasi Foto Banjir (iStockphoto)​

Saat hujan lebat dapat menaikkan permukaan laut, namun bagi banyak negara, hujan deras akan menyebabkan banjir besar. Bencana ini sekarang sudah bersifat merusak dan amat mengerikan.

Selain itu, banjir yang kerap terjadi pada masa kini, sebagian besar tidak bisa dikendalikan dan selalu mengarah pada tragedi. Terkadang bahkan berubah menjadi lebih buruk karena pemanasan global --terutama di daerah pantai dan sekitarnya.

5 dari 8 halaman

4. Kebakaran Hutan

Pemandangan Mengerikan Usai Kebakaran Hebat Tewaskan 74 Orang di Yunani
Petugas pemadam kebakaran mencoba memadamkan api saat kebakaran di Desa Kineta, dekat Athena, Rabu (24/7). Kebakaran hutan hebat telah menewaskan 74 orang di Yunani. (AFP Photo/Valerie Gache)

Karena panas, jumlah kebakaran hutan menjadi kian meningkat. Bagi orang-orang, insiden ini menyebabkan banyak masalah, sebab Si Jago Merah hampir tidak mungkin untuk dikendalikan, sehingga warga harus dievakuasi dan menghabiskan banyak anggaran daerah.

Selain itu, api dapat menyebabkan banyak partikel mikroskopis berterbangan ke udara bebas dan mengotori paru-paru manusia.

Kebakaran hutan memang sering terjadi, namun sekarang pemanasan global hanya memperburuk situasi.

6 dari 8 halaman

5. Ikan Semakin Berkurang

Ilustrasi ikan kecil (iStock)
Ilustrasi ikan kecil (iStock)

Kenaikan suhu Bumi akan berdampak negatif pada makhluk hidup di laut. Karena perubahan iklim, jumlah tempat bernaung ikan-ikan kian berkurang. Akan semakin sulit bagi mereka untuk menemukan makanan.

Bahkan kenaikan suhu 0,5 derajat Celcius bisa menyebabkan kematian 80% terumbu karang. Sedangkan peningkatan 1 derajat Celcius bisa membunuh semuanya.

Bagi manusia, itu artinya jumlah ikan di dunia menjadi lebih sedikit dan harga ikan di pasaran akan menjadi lebih mahal.

7 dari 8 halaman

6. Panen yang Buruk

Ilustrasi memanen wortel
Ilustrasi (AFP)

Ini bukan hanya tentang jumlah buah dan sayuran yang berkurang karena kekeringan, namun juga kualitas makanan yang bakal menurun secara dramatis akibat pemanasan global.

Emisi karbondioksia (CO2) yang jumlahnya kini meningkat, membuat tanaman tumbuh lebih cepat, sehingga tumbuh-tumbuhan tidak akan cukup untuk mengembangkan banyak mikro elemen.

Jadi, kemungkinan akan ada banyak buah dan sayuran yang mengandung lebih sedikit protein, vitamin, dan mineral yang diperlukan untuk kesehatan tubuh manusia.

8 dari 8 halaman

7. Topan dan Badai Salju

Saat Kota New York Kembali Dilanda Badai Salju
Seorang pejalan kaki melintas di dekat jembatan Manhattan saat badai salju di bawah drive Franklin Delano Roosevelt di New York (21/3). Badai salju yang melanda sebagian Amerika Serikat telah membawa salju dan angin kencang. (AP Photo / Mary Altaffer)

Hujan lebat dan banjir bukan satu-satunya masalah terparah akibat pemanasan global. Dunia harus mempersiapkan diri sebelum topan dan badai salju menerjang.

Seperti yang telah disebutkan pada poin 2, air di danau atau sungai menguap lebih cepat dan akan kembali ke tanah dalam bentuk hujan dan salju. Kecepatan penguapan akan meningkatkan siklus air di lautan yang menyebabkan badai hebat.

Bencana ini membuat kehidupan di Bumi menjadi tidak hanya kurang menyenangkan, tetapi juga lebih berbahaya.

Namun pada hakikatnya, pemanasan global masih dapat dicegah. Setidaknya, yang dapat kita lakukan adalah mengurangi risiko di masa depan dari tindakan sepele, misalnya, tidak membuang sampah sekecil apa pun secara sembarangan, menyortir sampah dan menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan.

Apakah kita sudah mempraktikkan kebiasaan enteng seperti itu?

Lanjutkan Membaca ↓