Seperti Diiris Pisau, Gunung Es Persegi Panjang Ditemukan NASA di Antartika

Oleh Afra Augesti pada 24 Okt 2018, 20:40 WIB
Diperbarui 26 Okt 2018, 20:13 WIB
Es Persegi Panjang Antartika

Liputan6.com, Ontario - Sejumlah balok es berbentuk persegi panjang simeteris yang tercipta secara alamiah, telah ditemukan oleh NASA saat menjelajahi Antartika pada 16 Oktober menggunakan pesawat khusus.

Burung besi yang menjalankan misi bernama Operation IceBridge ini dirancang untuk mengamati perubahan tingkat es di beberapa gletser di benua paling ujung dari Kutub Selatan.

Saat mengarungi udara di atas Antartika, ilmuwan senior NASA, Jeremy Harbeck, mengatakan bahwa gunung es persegi empat tersebut baru terpisah dari Larsen Ice Shelf.

Tampilannya yang tak masuk akal lantaran berbentuk datar (tabular), dianggap sebagai fenomena yang berbeda dengan gunung es pada umumnya, biasanya tidak beraturan --salah satunya seperti yang ditabrak kapal Titanic.

"Saya sering melihat gunung es dengan tepian yang relatif lurus, tapi saya belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, dengan dua sudut yang simetris," kata Harbeck dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari CNN, Rabu (24/10/2018).

Jan Lieser, ahli glasiologi laut Antarctic Climate & Ecosystems Cooperative Research Center, mengatakan bahwa ia tidak biasa melihat garis lurus dan sudut tajam pada lapisan es.

"Ini adalah kejadian alami, begitu indah, tapi tidak ada yang spesial ... Saya telah melihat banyak gunung es di sekitar Antartika yang memiliki sisi yang sangat lurus, sangat panjang," ucap Lieser.

Ia menambahkan, garis lurus bongkahan es tersebut terbentuk karena struktur kristal salju, kemudian pecah dan bereaksi terhadap tekanan udara.

"Tidak ada orang yang berkeliling di sekitar Antartika dengan membawa gergaji mesin dan memotong es-es itu ... Alam terkadang membuat kita terkesima," ungkapnya lagi.

Sementara itu, dalam pernyataan lain dari NASA, Harbeck menegaskan bahwa ia sebenarnya lebih tertarik untuk menangkap gunung es raksasa bernama A68, besarnya hampir sama dengan negara bagian Delaware, Amerika Serikat. A68 juga telah terpisah dari Larsen Ice Shelf pada tahun 2017.

"Kami hampir terbang untuk memeriksanya, tetapi kami berubah pikiran karena melihat yang satu ini menarik secara visual dan cukup fotogenik, jadi saya mengambil beberapa foto," jelas Harbeck.

Misi Operation IceBridge ini akan berakhir pada 18 November, menurut NASA.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Gunung Es Raksasa Pecahkan Gletser di Pulau Pine Antartika

Gletser di Antartika
Citra satelit menunjukkan gletser di Pulau Pine, Antartika pada 17 September 2018 dan 1 Oktober 2018. (Kredit: Citra Landsat OLI diproses oleh Stef Lhermitte / Delft University of Technology)

Keretakan panjang dan celah besar juga ditemukan baru-baru ini di sepanjang gletser di Pine Island atau Pulau Pinus di Antartika Barat.

Berdasarkan citra satelit, keretakan tersebut diprediksi bisa mencapai panjang 19 mil (30 kilometer) dan dimulai di tengah-tengah lapisan es --tempat lempengan es menyentuh air laut hangat yang melelehkannya dari bawah.

Menurut asisten profesor dari Department of Geoscience and Remote Sensing di Delft University of Technology (Belanda), Stef Lhermitte, keretakan itu kini sudah berukuran sekitar 6 mil (10 km), sebelum satu atau lebih anak gunung es lepas dari gletser.

"Kejadian serupa pernah terjadi setahun lalu, pada 2017, ketika gunung es berukuran 4,5 kali lebih luas dari Manhattan memecah gletser Pulau Pine," kata Stef, dikutip dari Live Science, Rabu 10 Oktober 2018.

Stef menemukan celah baru itu dengan menganalisis gambar satelit dari gletser, yang ia terima setiap hari di kotak masuk surat elektroniknya.

"Saat itu, Rabu malam (3 Oktober) dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sehari sebelumnya," kenangnya.

Jika satu gunung es pecah dalam satu bagian, itu akan berdampak terhadap area seluas 115 mil persegi di Antartika (300 kilometer persegi), atau bahkan lebih besar dari yang pernah pecah pada tahun lalu.

"Gunung es yang pecah pada 2017 adalah seluas 103 mil persegi, atau 267 km persegi," papar Stef.

Akan tetapi, terlepas dari apakah retakan itu mengarah ke satu atau banyak gunung es, ini akan menjadi peristiwa besar keenam yang pernah dialami gletser Pulau Pine, Antartika sejak 2001.

Sementara itu, gletser Pulau Pine telah "melahirkan" gunung es pada Januari 2001, November 2007, Desember 2011, Agustus 2015, dan September 2017.

Namun, berdasarkan ucapan Stef, peristiwa lahirnya gunung es baru akan terjadi dalam beberapa minggu atau bulan, waktu dekat ini, dan mungkin tidak akan memakan waktu bertahun-tahun.

"Saya berharap, gunung es tersebut akan muncul mulai sekarang hingga musim panas Antartika tahun ini," papar Stef.

Permukaan Laut Naik

Garis merah menunjukkan di mana gunung es gletser Pulau Pine patah pada 2017. Garis biru menunjukkan celah yang baru ditemukan. (Citra Landsat OLI diproses oleh Stef Lhermitte / Delft University of Technology)

Setelah kerusakan terjadi, gunung es tersebut kemungkinan akan tetap membeku jika mengambang di Antartika. Akan tetapi, apabila arus laut membawanya lebih jauh ke utara, gunung es akan mencair di perairan yang lebih hangat, Stef mengatakan.

Gletser Pulau Pine Island adalah salah satu gletser yang paling cepat mengalir di Antartika. Setiap tahun, benua yang diselimuti salju tebal ini kehilangan 45 miliar ton (40,8 miliar metrik ton) es.

Pada gilirannya, fenomena di atas menyebabkan permukaan laut naik 0,03 inci (1 milimeter) setiap delapan tahun, The Washington Post melaporkan tahun lalu, dan permukaan laut akan naik 1,7 kaki (0,5 m) jika seluruh gletser mencair.

"Karena itulah, bongkahan-bongkahan es menjadi sesuatu yang amat penting, sebab mereka menghalangi gletser yang mengalir dengan kekuatan penuh ke laut," ujar Stef.

Setelah peristiwa lahirnya gunung es baru terjadi, gletser Pulau Pine akan mundur hampir 4 mil (6 km).

Lanjutkan Membaca ↓