Abaikan Kritik Pembunuhan Jamal Khashoggi, AS Bahas Hubungan Strategis dengan Arab Saudi

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 23 Okt 2018, 10:31 WIB
Anggota asosiasi wartawan Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto Jamal Khashoggi, saat mereka mengadakan protes di dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul pada Senin, 22 Oktober 2018 (AP/Lefteris Pitarakis)

Liputan6.com, Riyadh - Seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengadakan pembicaraan dengan putra mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman di Riyadh, meskipun ada kekhawatiran yang meningkat atas peran Saudi dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin bertemu dengan MBS --julukan populer Mohammed bin Salman-- pada hari Senin, 22 Oktober 2018.

Dikutip dari BBC pada Selasa (23/10/2018), pemerintah Arab Saudi melaporkan bahwa Mnuchin dan MBS telah menekankan "pentingnya kemitraan strategis Saudi-AS".

Pertemuan di ibukota Saudi itu digelar secara tertutup, dan pihak AS sejauh ini tidak membuat komentar publik apapun terkait pembicaraan tersebut.

Keduanya tetap menggelar pertemuan terkait meskipun fakta bahwa Mnuchin --seperti sejumlah politikus dan pengusaha Barat lainnya-- telah menarik diri dari sebuah forum investasi besar, yang diadakan di Riyadh, pekan ini.

Komentar terbaru Presiden Donald Trump menunjukkan AS belum memutuskan tanggapannya.

"Saya tidak puas dengan apa yang saya dengar," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun dia menambahkan: "Saya tidak ingin kehilangan semua investasi yang telah dilakukan di negara kita," mengacu pada kesepakatan senjata multi-miliar dolar dengan Arab Saudi.

Trump berkata: "Kita akan sampai ke dasar itu."

Sementara itu, para pejabat Turki mengatakan, Jamal Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, setelah kunjungannya pada 2 Oktober lalu.

Para pejabat Saudi telah memberikan serangkaian penjelasan yang saling bertentangan, tetapi sekarang mengatakan "operasi jahat" harus disalahkan.

Saudi awalnya mengatakan Khashoggi telah meninggalkan konsulat pada hari yang sama ketika dia mengunjunginya. Namun, pada Jumat lalu, mereka mengakui untuk pertama kalinya, bahwa sang jurnalis Washington Post meninggal dalam sebuah "perkelahian yang tidak diinginkan".

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, di sisi lain, mengatakan dia akan mengungkapkan "kebenaran utuh" dari kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di hadapan parlemen setempat, pada hari Selasa.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Berbagai Kecaman di Tingkat Global

Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang hilang sejak 2 Oktober di Istanbul, Turki (AP/Hasan Jamali)
Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang hilang sejak 2 Oktober di Istanbul, Turki (AP/Hasan Jamali)

Menambahkan kutipan laporan dari CNN, sementara AS masih bersikap abu-abu, beberapa sekutu kuat Negeri Paman Sam telah tegas mengkritik klaim pembunuhan Jamal Khashoggi versi Kerajaan Arab Saudi.

Menteri Brexit di Inggris, Dominic Raab, mengatakan pada Minggu 21 Oktober, bahwa penjelasan Saudi tentang kematian Khashoggi tidak dapat dipercaya.

"Pemerintah Inggris ingin melihat orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian itu," kata menteri Brexit kepada acara salah satu program televisi BBC.

Di lain pihak, pemerintah Kanada merilis pernyataan singkat, menyebut klaim Riyadh patut dipertanyakan.

"Penjelasan yang disampaikan hingga saat ini, kami lihat kurang konsisten dan tidak memiliki kredibilitas," ujar Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland dalam sebuah pernyataan.

"Kami menegaskan kembali seruan untuk penyelidikan menyeluruh, dalam kerja sama penuh dengan pemerintah Turki, dan pencatatan ketat tentang keadaan di sekitar kematian Khashoggi," lanjut Menlu Chrystia.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres "sangat terganggu" oleh penjelasan itu, kata juru bicaranya.

Dan dalam teguran yang tajam, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan pada hari Minggu, bahwa negaranya akan menghentikan semua ekspor senjata ke Arab Saudi selama ketidakpastian tentang kematian Khashoggi.

Uni Eropa, dalam sebuah pernyataan dari perwakilan tertingginya untuk urusan luar negeri dan kebijakan keamanan, Federica Mogherini, mengatakan pihaknya bersikeras menuntut "penyelidikan terus menerus, kredibel dan transparan, yang menjelaskan kejelasan tentang kasus pembunuhan tersebut, dan memastikan akuntabilitas penuh dari semua yang bertanggung jawab di dalamnya".

Lanjutkan Membaca ↓