5 Hujan Meteor Ini Menyuguhkan Pemandangan Langit yang Menakjubkan pada Akhir 2018

Oleh Afra Augesti pada 22 Okt 2018, 20:40 WIB
Hujan Meteor Perseid

Liputan6.com, Jakarta - Musim gugur adalah musimnya hujan meteor di belahan Bumi utara. Orang-orang yang hidup di wilayah ini dapat dengan mudah menyaksikan apa yang umum dikenal sebagai bintang jatuh, bahkan dengan mata telanjang.

Menurut situs web accuweather.com yang dikutip pada Senin (22/10/2018), ada banyak hujan meteor yang akan bersinar terang di langit malam Bumi pada Oktober hingga Desember 2018, dengan intensitas kecil hingga menengah dan berwana-warni.

Menurut astronom, hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati jejak puing-puing yang ditinggalkan oleh komet. Sebagian besar pecahan ini terbakar ketika memasuki atmosfer planet.

Sementara itu, Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Atariksa LAPAN, Emanuel Sungging Mumpuni, menyebut bahwa penduduk Indonesia bisa menyaksikan langsung fenomena alam ini di mana pun mereka berada, dengan catatan: tempat untuk menonton hujan meteor harus yang gelap, jauh dari lampu kota dan bebas polusi.

"Iya betul, karena terjadi sangat singkat dan redup, sehingga perlu tempat yang gelap (dan tak berawan)," katanya ketika dihubungi Liputan6.com.

"Cukup tempat duduk yang nyaman, minuman hangat dan kalau memungkinkan kamera yang bisa merekam terus menerus untuk dokumentasi," lanjutnya, saat menegeaskan bahwa seseorang tidak memerlukan peralatan khusus, seperti teleskop, untuk menyaksikan hujan meteor akhir tahun ini.

Bila ingin menikmati pemandangan langit menakjubkan tersebut, Anda juga bisa memanfaatkan Interactive Meteor Show Sky Map yang disediakan oleh Timeanddate.com.

Berikut 5 hujan meteor yang bisa disaksikan dengan jelas di langit malam Bumi pada Oktober hingga Desember 2018.

 

Saksian video pilihan berikut ini:

 

2 of 6

1. Draconid: 5-10 Meteor/Jam

Hujan Meteor Draconid (NASA)
Hujan Meteor Draconid (NASA)

Malam puncak: 8-9 Oktober

Draconid adalah hujan meteor pertama dari yang terjadi selama paruh pertama bulan Oktober. Hujan meteor ini paling baik dilihat setelah tengah malam (sepertiga malam) dan dinilai sebagai salah satu hujan meteor terbaik.

Tahun ini menjadi tahun yang sangat baik untuk melihat Draconid, sebab hujan meteor tersebut terjadi tepat sebelum Bulan baru, yang berarti sinar rembulan bisa "mencemari" kilau cahaya Draconid.

3 of 6

2. Orionid: 20 Meteor/Jam

Meteor Orionid
Meteor paling terang, bola api, meninggalkan jejak berasap yang terus melayang di angin dataran tinggi, yang terlihat di sisi kanan gambar. (Wikimedia/Creative Commons)

Malam puncak: 21-22 Oktober

Hujan meteor Orionid merupakan puing-puing dari Komet Halley.

"Pada tahun-tahun sebelumnya, Orionid biasanya menghasilkan (maksimal) 20-25 bintang jatuh," kata American Meteor Society (AMS).

Orionid mencapai puncaknya beberapa hari sebelum Bulan purnama. Sedangkan waktu terbaik untuk melihat hujan meteor ini adalah sekitar pukul 04.00 (GMT) dan saat fajar tiba.

4 of 6

3. Northern Taurid: 5 Meteor/Jam

Hujan Meteor Taurid
Hujan Meteor Taurid. (NASA)

Malam puncak: 11-12 November

Meskipun hujan meteor Northern Taurid diperkirakan akan diabaikan oleh para pengamat, karena hanya membawa sekitar lima meteor per jam, namun hujan meteor ini bisa membawa bola api spektakuler yang menerangi seluruh langit. Bola api tersebut akan bersinar selama beberapa detik.

Selain itu, kemunculan Northern Taurid juga tumpang tindih dengan hujan meteor lain, yakni Southern Taurid yang memperlihatkan beberapa bintang jatuh ke langit.

5 of 6

4. Leonid: 10-20 Meteor/Jam

Hujan Meteor Leonid
Hujan Meteor Leonid. (AP Photo/Mark Almond)

Malam puncak: 17-18 November

Penduduk Bumi di negara Barat umumnya merayakan Thanksgiving pada pertengahan November dan tahun ini, mereka bisa menyaksikan fenomena langit yang indah ketika hujan meteor Leonid tiba.

Meski terhalang oleh sinar Bulan, namun pancaran sinar Leonid dapat dilihat jelas setelah pukul 02.00 waktu setempat, setelah Bulan terbenam.

"Hujan meteor ini telah berubah menjadi badai meteor, buntut dari amukan yang terjadi pada masa lalu. Bahkan, Leonid mampu menghasilkan 'pertunjukan' yang paling mengesankan dalam sejarah astronomi," kata Senior Ahli Meteorologi dan Astronomi AccuWeather, Dave Samuhel.

Namun, badai meteor tersebut diperkirakan tidak akan terjadi tahun ini, sebab badai meteor dari Leonid biasanya terjadi setiap 33 tahun. Badai terakhir tercatat pada 2001.

"Pada 2001, saya mengamati fenomena itu di langit, pada sepanjang malam November, dengan membandingkan badai meteor yang terjadi pada 1966 dan 1833," imbuh Samuhel.

 

6 of 6

5. Geminid: Lebih Dari 120 Meteor/Jam

Hujan Meteor Geminid
Hujan Meteor Geminid. (NASA)

Malam puncak: 12-14 Desember

Musim gugur tahun ini akan ditutup oleh salah satu hujan meteor terbaik dan paling dapat diandalkan sepanjang tahun: Geminid.

Geminid menyajikan pemandangan lebih dari 120 meteor dalam satu jam. Pada 2017, pengamat mendokumentasikan sebanyak 180 meteor dalam satu jam di waktu puncak.

Hujan meteor ini tak hanya dikenal karena jumlah puing-puing yang ditampilkan, melainkan juga bentuknya yang warna-warni.

"Geminid sifatnya cerah dan sangat beraneka warna," kata American Meteor Society.

Geminid akan mulai melesat di langit tak lama setelah senja dan secara bertahap akan meningkatkan intensitasnya saat malam berlangsung, lalu mencapai puncaknya setelah pukul 02.00 waktu setempat.

Geminid akan menjadi salah satu hujan meteor terakhir yang terjadi sampai akhir April 2019.

Menurut NASA, Geminid dikenal aktif setiap Desember, ketika Bumi melewati jejak puing-puing berdebu yang ditumpahkan oleh asteroid 3200 Phaethon.

Sedangkan julukan Geminid disematkan pada hujan meteor ini karena benda langit tersebut berpendar dan terletak di rasi bintang Gemini.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓