FPCI Beri Penghargaan kepada Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 20 Okt 2018, 16:32 WIB
Diperbarui 20 Okt 2018, 21:16 WIB
Penghargaan dari FPCI ini diberikan atas inisiatif kedua belah pihak (Korea Utara dan Korea Selatan) dalam menciptakan perdamaian (Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Liputan6.com, Jakarta - Di sela-sela acara Conference of Indonesian Foreign Policy 2018, Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyampikan Courage for Peace Award kepada Kim Jong-un dan Moon Jae-in atas inisiatif kedua pemimpin tersebut menciptakan perdamaian.

Penghargaan ini diberikan oleh Dino kepada dua perwakilan duta besar yang berada di Indonesia.

"Penghargaan dari FPCI ini diberikan atas inisiatif kedua belah pihak (Korea Utara dan Korea Selatan) dalam menciptakan perdamaian," ujar Dino Patti Djalal saat pembukaan CIFP 2018 di The Kasablanka, Sabtu (20/10/2018).

"FPCI sangat menyoroti perdamaian yang ada di Semenanjung Korea. Oleh karenanya Courage for Peace Award ini diberikan," tambahnya.

Riuh tepuk tangan peserta yang datang begitu meriah ketika kedua duta besar naik ke atas panggung dan berjabat tangan saat diberikan penghargaan.

"Mewakili Presiden Kim Jong-un, ini adalah kebanggaan bagi warga Korea Utara. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada FPCI Indonesia atas penghargaan ini," ujar Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia, An Kwan-il.

"Saya juga menyampaikan terima kasih kepada bapak Dino atas penyelenggaraan acara dan pemberian penghargaan ini. Saya juga ucapkan selamat atas keberlanjutan acara ini," tambahnya.

"Sudah ada banyak Korea intern meeting and relationship telah dilakukan antar dua belah pihak."

Senada dengan Kwan-il, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia juga menyampikan terima kasihnya atas penghargaan ini.

"Saya sangat merasa terhormat bisa hadir di acara ini. Kami juga berharap dengan adanya penghargaan ini hubungan kedua negara bisa berjalan dengan baik," ujar Kim Chang-beom.

"Olimpiade Musim Dingin pada Februari lalu merupakan sebuah pembuktian bahwa perdamaian ada di depan mata," tambahnya.

Kebersamaan kedua duta besar ini di atas panggung lalu kembali dihujani tepuk tangan dari peserta yang hadir di acara itu.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Pidato Menlu RI di CIFP 2018

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan sela antar menteri di Sidang Umum PBB 2018 (25/9) (sumber: Kemlu RI)
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan sela antar menteri di Sidang Umum PBB 2018 (25/9) (sumber: Kemlu RI)

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menyebutkan bahwa Indonesia akan terus berkomitmen untuk menjaga kestabilan dan perdamaian dunia.

Terpilihnya Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB merupakan sebuah prestasi dan tanggung jawab besar untuk mewujudkan itu semua.

"Untuk mewujudkan hal ini, cara yang paling tepat adalah menjunjung hubungan multilateral antarbangsa," ujar Menlu Retno saat menyampaikan sambutannya di acara Conference of Indonesian Foreign Policy (CIFP 2018) di Jakarta, Sabtu (20/10/2018).

"Hubungan multilateral sangat penting karena setiap negara anggota akan dihormati suaranya oleh semua pihak," jelas Menlu.

Dengan hubungan multirateral, konflik dapat diselesaikan dan perdamaian dunia mampu diwujudkan. Dalam kesempatan ini, Menlu Retno juga menyebut bahwa perang dan konflik merupakan hal yang sia-sia untuk dilakukan.

"Perang dan konflik akan selalu memakan korban. Korban yang paling banyak adalah wanita dan anak-anak," ujar Menlu RI.

Menlu Retno juga menyapaikan keresahannya soal ketidakstabilan dunia saat ini. Di mana rivalitas antara negara besar terjadi, di bidang politik dan ekonomi.

"Di tengah situasi yang sangat buruk ini. Ada banyak harapan masyarakat dunia pada Indonesia. Negara berkembang juga berharap pada Indonesia. Sebab, kini Indonesia menjadi Anggota DK PBB," jelas Menlu Retno.

"Rekam jejak diplomasi Indonesia sangat bisa dibanggakan. Indonesia selalu jadi dalam bagian pemberian solusi dan bukan bagian dari masalah," tambahnya.

Lanjutkan Membaca ↓