Misteri Hilangnya Jamal Khashoggi Terkuak, Arab Saudi Akui Ia Tewas di Konsulat Istanbul

Oleh Teddy Tri Setio BertyElin Yunita Kristanti pada 20 Okt 2018, 10:07 WIB
Diperbarui 20 Okt 2018, 10:07 WIB
Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)
Perbesar
Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, Riyadh - Jurnalis Jamal Khashoggi hilang usai memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober 2018. Kala itu ia mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice Cengiz, perempuan yang sudah jadi tunangannya.

Khashoggi, yang dikenal kritis terhadap kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, kemudian dikabarkan dibunuh oleh para algojo yang dikirim dari Riyadh. Jasadnya lalu dimutilasi.

Sejumlah laporan bahkan menyebut, sang penulis dimutilasi hidup-hidup dengan barbar. Aparat Turki mencari jasad korban hingga ke hutan.

Dunia pun geger. Namun, Arab Saudi tetap bungkam. Dua pekan berlalu dengan penyangkalan. Hingga akhirnya, pada Sabtu pagi 20 Oktober 2018, Riyadh mengakui bahwa Jamal Khashoggi tewas.

Pernyataan kejaksaan Arab Saudi, yang disiarkan stasiun televisi negara, menyebut, perkelahian pecah antara Khashoggi dan sejumlah orang di konsulat, yang berakhir dengan kematian korban.

"Investigasi masih terus dilakukan dan 18 warga Arab Saudi telah ditahan," demikian cuplikan pernyataan tersebut seperti dikutip dari BBC News, Sabtu (20/10/2018).

Dua pejabat senior, deputi kepala intelijen Ahmad al-Assiri dan Saud al-Qahtani, pembantu senior Putra Mahkota Mohammed Bin Salman dipecat terkait kasus tersebut.

Saud al-Qahtani adalah anggota sosok terkemuka di Kerajaan Arab Saudi. Ia bertindak sebagai penasihat Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Sementara, Mayor Jenderal Ahmed al-Assiri menjadi juru bicara kerajaan terkait perang di Yaman.

Laporan di media Arab Saudi dikeluarkan tak lama setelah Raja Salman berbicara lewat telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait kasus hilangnya Khashoggi.

Raja Salman juga dilaporkan memerintahkan pembentukan komite kementerian, yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed, untuk merestrukturisasi dinas intelijen.

Pihak Arab Saudi dilaporkan bertindak setelah mendapatkan informasi hasil penyelidikan sementara dari aparat Turki. Penyelidikan pun dilakukan terhadai sejumlah tersangka.

 

Saksikan video terkait kasus Jamal Khashoggi berikut ini:

2 dari 2 halaman

Reaksi Donald Trump

Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang hilang sejak 2 Oktober di Istanbul, Turki (AP/Hasan Jamali)
Perbesar
Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang hilang sejak 2 Oktober di Istanbul, Turki (AP/Hasan Jamali)

Tak lama setelah pengakuan meluncur dari pihak Arab Saudi, Gedung Putih bereaksi.

"Kami merasa prihatin mendengar konfirmasi kematian Khashoggi dan menyampaikan duka cita mendalam pada keluarga, tunangan, dan rekan korban," demikian pernyataan Gedung Putih.

Pihak AS mengaku akan terus memantau penyelidikan internasional terkait insiden tewasnya Khashoggi.

Sementara itu, Donald Trump mengatakan, penangkapan sejumlah tersangka merupakan langkah pertama yang penting.

Dia memuji Kerajaan Arab Saudi, yang menurutnya, bertindak cepat menangani kasus tersebut.

Miliarder nyentrik itu juga menekankan arti penting Arab Saudi sebagai sekutu AS, dan penyeimbang kekuatan Iran di Timur Tengah.

Trump tak merasa perlu menerapkan sanksi apapun pada Riyadh. Alasannya, itu akan berpengaruh pada perekonomian AS.

Sebelumnya, Trump mengatakan, akan ada 'konsekuensi berat' jika Arab Saudi terbukti membunuh Jamal Khashoggi.

Lanjutkan Membaca ↓