Kerangka Bocah dari Abad ke-5 Ditemukan di Italia, Mulutnya Dijejali Batu

Oleh Afra Augesti pada 16 Okt 2018, 08:31 WIB
Diperbarui 16 Okt 2018, 08:31 WIB
Makam Bocah Abad ke-5
Perbesar
Makam bocah berumur 10 tahun dari Abad ke-5 ditemukan di Italia. Mulutnya disumpal batu. (David Pickel/Stanford University)

Liputan6.com, California - Arkeolog menemukan makam kuno dari abad ke-5 di Italia. Di dalamnya, ilmuwan menemukan kerangka anak kecil sekitar umur 10 tahun yang kondisinya mengenaskan.

Dugaan sementara, bocah itu merupakan korban "pemakaman vampir", sebab lokasi ditemukannya situs tersebut dahulunya terjangkit wabah malaria yang membunuh banyak penduduk.

Prosesi "pemakaman vampir" adalah penguburan jenazah dengan menempatkan sebuah batu besar di mulut jasad. Entah apa maksud dari tradisi ini, periset yang berasal dari University of Arizona yakin bahwa tindakan itu dilakukan untuk menjaga agar si bocah tidak bangkit kembali.

Opini itu didasarkan pada keyakinan masyarakat setempat yang masih mempercayai adanya vampir --makhluk pengisap darah manusia. Meski kenyataannya, anak tersebut meninggal akibat malaria.

"Saya belum pernah melihat kerangka seperti ini. Sangat menakutkan dan aneh," kata arkeolog David Soren dari University of Arizona.

"Orang-orang lokal biasa menyebutnya Vampire of Lugnano," kata dia, seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (16/10/2018).

Hingga berita ini dibuat, peneliti belum melakukan tes DNA terhadap kerangka bocah tersebut. Mereka juga belum bisa menentukan jenis kelaminnya.

Namun, berdasarkan temuan, prosesi penguburan seperti itu dikenal sebagai La Necropoli dei Bambini atau Pemakaman Bayi. Adapunj lokasi makam berada di atas sebuah vila Romawi yang didirikan pada abad ke-1 di Lugnano, Italia.

Penggalian di situs itu dimulai pada 1988, dan sejauh ini hanya ditemukan tulang-belulang dari anak-anak yang masih kecil.

Bukti menunjukkan bahwa semua penguburan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Menurut hasil tes DNA yang telah dilakukan sebelumnya, arkeolog mengungkapkan bahwa di tubuh jenazah-jenazah itu ditemukan Plasmodium falciparum, yaitu parasit mematikan penyebab malaria.

Uji DNA tersebut diterapkan pada kerangka bocah berumur 3 tahun yang dimakamkan dengan cara serupa.

"Di dekat makam bocah-bocah itu juga ditemukan kerangka 12 anak anjing yang berusia kurang dari enam bulan dan seekor anjing berusia sekitar satu tahun. Semua ditemukan dengan kondisi tubuh tidak lengkap. Paling sering kepala atau rahang bawah yang hilang," tulis Soren dalam laporan tahun 1996 terkait kuburan kuno di Italia itu.

"Karena anak anjing dianggap sakral dalam adat kuno rakyat Romawi, kemungkinan hewan-hewan ini kehilangan bagian tubuh mereka sebagai hasil dari praktik ritual penduduk."

Contoh lain misalnya, seorang anak yang dikubur bersamaan dengan burung gagak, jimat, dan bagian tubuh katak. Semua ini dianggap sebagai obat untuk menagkal penyakit dan demam agar tak mengusik mereka yang masih hidup.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Membuka Informasi Baru

Makam Bocah Abad ke-5
Perbesar
Makam bocah berumur 10 tahun dari Abad ke-5 ditemukan di Italia. Mulutnya disumpal batu. (David Pickel/Stanford University)

Kerangka anak lain, seorang gadis berusia sekitar 3 tahun, ditemukan dengan batu di tangan dan kakinya -- sebuah praktik yang digunakan oleh banyak budaya di seluruh dunia untuk mencegah kebangkitan orang mati.

"Mengingat usia anak-anak ini dan deposisi uniknya, dengan batu ditempatkan di dalam mulut, maka bisa disimpulkan bahwa praktik penguburan zaman itu sudah tidak normal," kata arkeolog David Pickel dari Stanford University.

"Ini hanya menyoroti betapa uniknya pemakaman anak di Lugnano," dia menambahkan.

Pemakaman yang disebut "vampir" ini telah ditemukan sebelumnya di Italia dan Polandia, dengan batu ditempatkan di mulut atau di tenggorokan. Terkadang bahkan ada tiang yang ditusukkan ke batang tubuh (torso).

Namun, tidak ada bukti bahwa vampir hidup pada masa itu.

Penggalian di Lugnano telah dihentikan untuk sementara waktu. Para arkeolog berencana untuk mengorek kembali tahun depan.

"Makam menjadi tempat penting bagi para ilmuwan, karena ini membukakan jalan kami untuk mengetahui peradaban kuno," kata ahli biologi Jordan Wilson dari University of Arizona.

"Kami memiliki pepatah dalam bioarchaeology yang berbunyi 'orang mati tidak mengubur diri mereka sendiri'. Kita bisa tahu banyak tentang kepercayaan dan harapan sebuah kelompok masyarakat dari cara mereka memperlakukan orang mati."

Lanjutkan Membaca ↓