Pemilu Presiden Brasil Terancam Kacau Balau oleh Gangguan Berita Palsu

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 11 Okt 2018, 15:02 WIB
Diperbarui 11 Okt 2018, 15:02 WIB
Foto salah satu kandidat terkuat dalam Pemilu Presiden Brasil (AP/Eraldo Peres)
Perbesar
Foto salah satu kandidat terkuat dalam Pemilu Presiden Brasil (AP/Eraldo Peres)

Liputan6.com, Brasilia - Saat masyarakat Brasil mendekati akhir dari proses pemilu presiden yang paling terpolarisasi dalam sejarah, akademisi dan aktivis digital terus berjuang membendung gelombang berita palsu, yang mengancam liputan akurat tenggelam oleh banyaknya kebohongan via Facebook dan WhatsApp.

Pada Senin 8 Oktober 2018, pengadilan pemilu Brasil memerintahkan Facebook untuk menghapus tautan ke 33 berita palsu, yang menargetkan Manuela D’Ávila, seorang politisi partai komunis dan calon wakil presiden untuk Fernando Haddad dari partai Pekerja (PT).

Partai D’Ávila memuji keputusan itu sebagai kemenangan, tetapi seorang pakar media digital mengatakan itu merupakan upaya untuk menyampaikan informasi yang sebenar-benarnya, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (11/10/2018).

"Ini bukan apa-apa, karena tidak relevan di tengah kebohongan dan serangan tidak mendasar dalam pemilu presiden," kata Pablo Ortellado, seorang profesor kebijakan publik di University of São Paulo, yang memimpin proyek pemantauan debat publik di media sosial. "Hanya ada sedikit informasi yang benar."

Fernando Haddad, yang menggantikan pendiri Partai Pekerja karena dipenjara atas tuduhan korupsi, Luiz Inácio Lula da Silva sebagai calon presidennya, memenangkan 29 persen suara dalam pemilihan putaran pertama pada hari Minggu.

Raihan suara tersebut berada di bawah pesaing utama dari pihak sayap kanan Brasil, Jair Bolsonaro, yang mengambil 46 persen dari total akhir hitung. Kedua kandidat pria itu kembali akan menghadapi pemungutan suara pada 28 Oktober.

Dalam keputusan pengadilan pemilu, Hakim Sérgio Banhos memberikan tenggat waktu 24 jam kepada Facebook untuk memberikan alamat IP komputer, yang digunakan oleh beberapa oknum dalam mengunggah berita palsu.

Sejauh ini Facebook belum menjawab tentang desakan pemberian alamat IP, tetapi menuruti permintaan untuk menghapus seluruh tautan berita palsu yang berkaitan dengan pemilu presiden Brasil.

Menurut dokumen pengadilan, seluruh berita palsu yang dituntut segara dihapus, termasuk di antaranya adalah video dengan menyertakan gambar dari demonstrasi di Rio de Janeiro, foto dua orang tanpa busana menendang salib, kandidat D’Ávila berbicara tentang kampanye anti-homophobia, dan "gambar anak-anak hiperseksual".

Ditambahkan oleh dokumen terkait, rekaman video itu ditambahkan dengan pesan yang mengarah ke capres Hadad, yang berbunyi: "Dia ingin menjadi wakil presiden untuk partai Pekerja-nya Lula. Apa yang Anda pikirkan?"

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hoaks Kian Tidak Terkendali

Jair Bolsonaro
Perbesar
Seorang wanita berfoto dengan kaus bergambar Capres Brasil, Jair Bolsonaro dari sayap kanan di sebuah toko pinggir jalan yang populer di Sao Paulo, 8 Oktober 2018. Bolsonaro unggul dalam penghitungan suara pemilu putaran pertama. (AFP/NELSON ALMEIDA)

Sementara itu, kampanye capres Bolsonaro telah menyerang Haddad dan Partai Pekerja (PT) melalui program materi pendidikan, yang bertujuan memerangi homofobia di sekolah-sekolah.

Janji kampanye tersebut merupakan lanjutan dari program yang dibawanya saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan di bawah pemerintahan Presiden Dilma Rouseff pada 2011 silam, tetapi tidak pernah didistribusikan.

Berita palsu telah membanjiri jaringan media sosial Brasil dengan materi yang menunjukkan bahwa Bolsonaro dan D’Ávila ingin "menyelamatkan" anak-anak.

Dalam 10 minggu terakhir, Comprova --proyek pemantauan yang dibentuk oleh 24 organisasi media-- telah menyelidiki 110 dugaan berita palsu di WhatsApp dan Facebook.

"Kami tahu bahwa kami tidak dapat menghentikan gelombang berita palsu dengan segera," kata perwakilan Comprova, mengingat bahwa semakin banyak hoaks tersebar di jaringan WhatsApp, yang tidak mungkin untuk dikontrol karena bersifat pribadi.

"Kami hanya melihat sebagian dari ini (gelombang hoaks), dan kami tahu itu tidak representatif, itu hanya sebuah indikasi. Itu sangat sulit," lanjutnya.

Lanjutkan Membaca ↓