IMF: Perang Dagang AS - China Bikin Dunia Lebih Miskin dan Berbahaya

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 09 Okt 2018, 11:33 WIB
Diperbarui 09 Okt 2018, 11:33 WIB
Ilsutrasi bendera China dan Amerika Serikat (AP/Andy Wong)
Perbesar
Ilsutrasi bendera China dan Amerika Serikat (AP/Andy Wong)

Liputan6.com, Washington DC - Dalam penilaian terakhirnya terhadap ekonomi global, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berisiko menjadikan dunia "lebih miskin dan berbahaya".

IMF telah menurunkan ramalannya untuk pertumbuhan global tahun ini dan tahun depan.

Dikatakan pula bahwa perang dagang besar-besaran antara kedua negara akan menempatkan bentrokan signifikan dalam pemulihan ekonomi global.

Para ekonom utamanya mengatakan hambatan perdagangan lebih lanjut akan memukul sektor rumah tangga, bisnis, dan ekonomi yang lebih luas. Demikian dikutip dari BBC pada Selasa (9/10/2018).

"Kebijakan perdagangan mencerminkan peta politik yang tidak tenang di beberapa negara, menimbulkan risiko lebih lanjut," kata Maurice Obstfeld, Kepala Ekonom IMF.

Baru-baru ini, China mengumumkan tarif perang dagang baru pada seluruh barang AS senilai US$ 60 miliar (setara Rp 913 triliun, dengan kurs Rp 15.228 per 1 dolar), termasuk produk-produk seperti gas alam cair, yang diproduksi di negara-negara yang setia kepada Presiden Donald Trump.

Dalam sebuah twit, Presiden Trump memperingatkan Beijing untuk tidak berusaha memengaruhi pemilihan paruh waktu AS, yang akan berlangsung pada 6 November mendatang.

"Akan ada pembalasan ekonomi yang besar dan cepat terhadap China jika petani kita, peternak, atau pekerja industri menjadi sasaran!" tegas Trump.

Tarif perang dagang AS atas impor China senilai US$ 200 miliar (setara Rp 3.045 triliun) mulai berlaku bulan lalu.

Pertumbuhan ekonomi global sekarang diperkirakan mencapai 3,7 persen pada 2018 dan 2019, turun dari prediksi IMF sebelumnya, sebesar 3,9 persen pada Juli.

Dikatakan, risiko terhadap prospek jangka pendek telah "bergeser ke sisi negatifnya".

Turunnya pertumbuhan global juga mencerminkan prediksi ekspansi yang lebih lambat di zona euro, serta turbulensi di sejumlah negara berkembang.

Venezuela yang dilanda krisis diperkirakan akan memasuki tahun keenam resesi pada 2019, dengan inflasi diprediksi mencapai 10 juta persen tahun depan.

Argentina, yang baru-baru ini menyetujui dana talangan (bailout) IMF, juga diprediksi akan mengalami penyusutan ekonomi pada 2018 dan 2019.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Seberapa Buruk Dampak Perang Dagang?

Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Aktivitas kapal ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,24 miliar . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Eskalasi tarif perdagangan AS dan China diperkirakan akan mencapai pertumbuhan di kedua negara pada 2019, ketika dorongan dari pemotongan pajak Presiden Trump akan mulai berkurang.

Obstfeld mengatakan dunia akan menjadi "tempat yang lebih miskin dan lebih berbahaya", kecuali para pemimpin dunia bekerja sama untuk meningkatkan standar hidup, meningkatkan pendidikan dan mengurangi ketidaksetaraan.

IMF memperingatkan bahwa dunia menghadapi pukulan permanen terhadap pertumbuhan ekonomi, jika AS menindaklanjuti ancaman untuk memaksakan tarif 25 persen pada semua mobil impor.

Selain itu, tarif global yang ditetapkan AS juga memukul kepercayaan bisnis, investasi, dan biaya pinjaman.

Dalam skenario terburuk, ekonomi AS akan mengalami pukulan yang signifikan, sementara pertumbuhan ekonomi di China akan turun di bawah 5 persen pada 2019, dibandingkan dengan prediksi saat ini sebesar 6,2 persen.

Lanjutkan Membaca ↓