Kepala WHO Usulkan Upaya Penyelamatan 10 Juta Orang pada 2025

Oleh Liputan6.com pada 09 Okt 2018, 08:31 WIB
Kepala WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus (AFP)

Liputan6.com, New York - Laporan studi terbaru di bidang kesehatan menyebut bahwa tercatat lebih banyak orang meninggal karena penyakit tidak menular, seperti serangan jantung, stroke, dan kanker dibandingkan kelompok penyakit lainnya. Jumlah kematian terbanyak ada di negara-negara miskin dan menengah.

Oleh karena itu, kepala Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) di Sidang Umum PBB baru-baru ini mengusulkan kebijakan-kebijakan yang akan menyelamatkan 10 juta jiwa pada tahun 2025.

Tujuh dari 10 orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan paru-paru kronis, demikian menurut hasil studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia, Senin (8/10/2018).

Berbagai penyakit itu tidak hanya merenggut korban jiwa, tapi juga biaya yang sangat besar. Laporan The Lancet memperkirakan bahwa dalam 15 tahun ke depan, biaya yang harus dikeluarkan negara-negara berkembang saja, diperkirakan akan mencapai lebih dari US$ 7 miliar. 

Tiga tahun lalu, para pemimpin dunia berjanji untuk mengurangi kematian akibat penyakit-penyakit tidak menular ini sebanyak sepertiga pada 2030.

Dalam sebuah pertemuan di PBB akhir bulan lalu, Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kurang dari separuh negara-negara di dunia akan memenuhi target tersebut, dan dia mendesak para pemimpin global untuk memberikan kembali komitmen mereka dalam meraih tujuan-tujuan itu.

Tedros menyerukan lebih banyak komitmen politik dan investasi domestik. "Saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa dengan komitmen politik, segala sesuatunya menjadi mungkin. Tanpa komitmen itu, kemajuan sangat pelan," ujarnya.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Daftar 'Best Buys'

Ilustrasi jantung (iStock)
Jika keluarga memiliki riwayat penyakit jantung, perlu memperhatikan beberapa hal. (iStock)

Dirjen WHO menyebut sebuah daftar yang dijuluki "best buys", yaitu perubahan kebijakan yang berbiaya sedikit tapi menghasilkan manfaat besar.

"Kebijakan WHO efektif dan terjangkau bagi semua negara. Mengeluarkan anggaran demi populasi yang lebih sehat bukanlah biaya. Itu adalah investasi pada manusia yang akan sangat bermanfaat di kemudian hari," imbuhnya.

Tedros mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk menaikkan pajak tembakau, membatasi iklan alkohol, dan mengurangi kadar garam, gula dan lemak dalam produk-produk makanan. Upaya-upaya itu akan menurunkan risiko diabetes, kanker, penyakit jantung, dan stroke.

Tedros juga menganjurkan negara-negara untuk menyediakan layanan kesehatan universal sebagai cara terbaik untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit tidak menular. 

Lanjutkan Membaca ↓