PM Jepang: Setelah Brexit, Inggris Bisa Masuk Pakta Perdagangan Bebas Pasifik

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 09 Okt 2018, 07:31 WIB
PM Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih (7/6) (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Tokyo - Perdana Menteri Jepang, Shinzō Abe, mengatakan Inggris akan disambut "dengan tangan terbuka" dalam pakta perdagangan bebas Pasifik, setelah meninggalkan Uni Eropa, atau Brexit.

Komentarnya itu mengikuti desakan dari para produsen otomotif Jepang bahwa Brexit tidak boleh memukul produksi, dan memaksa mereka untuk memikirkan kembali investasi di Eropa.

Dalam wawancara dengan Financial Times di Tokyo, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Senin (8/10/2018), PM Abe mengatakan Inggris akan kehilangan perannya sebagai pintu gerbang ke Eropa setelah Brexit, tetapi masih akan "didukung oleh kekuatan global".

Shinzo Abe, seorang arsitek kunci dari Trans-Pacific Partnership (TPP), sedang berusaha untuk meningkatkan perjanjian 11-negara, setelah Donald Trump mengeluarkan AS dari kesepakatan tersebut pada hari pertama pemberlakuan efektif, di mana menyebutnya sebagai "bencana potensial bagi Jepang".

Tetapi keanggotaan Inggris dalam TPP akan tergantung pada penarikannya dari serikat pabean Uni Eropa, yang akan memungkinkan London untuk menetapkan tarif secara mandiri.

Jepang, Singapura dan Meksiko telah meratifikasi perjanjian tersebut, sementara Australia, Brunei, Kanada, Chile, Malaysia, Selandia Baru, Peru, dan Vietnam baru sebatas menandatanganinya.

Inggris akan menjadi anggota pertama dari perjanjian yang tidak memiliki batas di Samudera Pasifik atau Laut China Selatan, meskipun blok tersebut tidak termasuk Tiongkok atau Korea Selatan.

Jepangmendorong London dan Brussels --ibu kota Uni Eropa-- untuk menghindari kesepakatan "tidak teratur", yang akan mempengaruhi bisnis Jepang dengan investasi di Inggris.

"Saya berharap bahwa kedua belah pihak dapat saling berkompromi tentang kebijaksanaan mereka, dan setidaknya menghindari apa yang disebut Brexit yang tidak teratur," kata Abe, menambahkan bahwa bisnis Jepang akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret tahun depan.

Dia menambahkan, "Saya sungguh berharap bahwa dampak negatif Brexit terhadap ekonomi global, termasuk bisnis Jepang, akan diminimalkan."

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Inggris Akan Kehilangan Banyak?

Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara di hadapan Uni Eropa (AP/Virginia Mayo)
Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara di hadapan Uni Eropa (AP/Virginia Mayo)

Inggris akan banyak kehilangan, bahkan dari penarikan sebagian oleh bisnis Jepang, yang merasa syarat-syarat kesepakatan Brexit merugikan kepentingan jangka panjang mereka.

Perusahaan seperti Nissan dan Hitachi telah menginvestasikan lebih dari 40 miliar pound sterling (setara Rp 794 triliun, dengan kurs Rp 19.870 per 1 pounds) di Inggris sejak tahun 1980-an.

Selain itu, lebih dari 1.000 perusahaan Jepang bersama-sama mempekerjakan sekitar 140.000 orang di Inggris, terutama di bidang manufaktur, farmasi, dan jasa keuangan.

Perdana Menteri Shinzo Abe dan lobi bisnis terbesar Jepang di Lodnon, Keidanren, telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Brexit bisa menjadi "sangat negatif" bagi perusahaan Negeri Sakura di Inggris.

Dalam pernyataan jujur yang disampaikan pada KTT G20 2016 di Beijing, Jepang menetapkan daftar permintaan terkait kesepakatan Brexit, di mana mencakup desakan terhadap PM Theresa May agar menegosiasikan kesepakatan Inggris di pabean Uni Eropa dan pasar tunggal, serta menjamin aliran bebas pekerja antara Inggris dan seluruh benua.

Duta besar Jepang untuk Inggris, Koji Tsuruoka, juga menggamabrkan potret suram keterlibatan Jepang dalam ekonomi Inggris, jika kesepakatan Brexit menempatkan laba pada risiko.

Lanjutkan Membaca ↓