China Rugi hingga Rp 582 Triliun Akibat Polusi Udara

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 03 Okt 2018, 07:31 WIB
Diperbarui 06 Nov 2018, 20:48 WIB
Ilustrasi polusi udara di kota Beijing (AP/NG Han Guan)

Liputan6.com, Hong Kong - Polusi udara, yang mengakibatkan lubang ozon, diperkirakan telah memicu kerugian hingga 267 miliar yuan (setara Rp 582 triliun, dengan kurs Rp 2.187 per 1 yuan) terhadap ekonomi China.

Fakta yang disampaikan oleh laporan studi oleh Chinese University of Hong Kong itu berasal dari hasil analisis data pada kematian dini dan berkurangnya produksi pangan.

"Ini adalah angka yang cukup besar dan signifikan, mengingat jumlahnya mencapai sekitar 0,7 persen dari PDB nasional," kata peneliti utama Steve Yim Hung-lam, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post pada Selasa (2/10/2018).

Laporan tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Environmental Research Letters, muncul saat China baru-baru ini memperketat target pengurangan efek cemar pada lapisan ozon, yang dihasilkan oleh kota-kota besar setempat.

Ini merupakan bagian dari rencana aksi tiga tahun untuk mengembalikan langit baru dari cengkeraman polusi udara, pada periode 2018 hingga 2020 mendatang.

Tim Yim menganalisa kontribusi polusi pada tahun 2010 terhadap pencemaran ozon (O3) dan pencemaran permukaan halus (PM2.5) dari enam sektor ekonomi, yakni industri, komersial dan pemukiman, pertanian, pembangkit listrik, transportasi darat dan "lain-lain", seperti penerbangan dan kebakaran.

Data yang dianalisis berasal dari kualitas udara dan pemodelan meteorologi, inventarisasi emisi, serta 150 jenis polutan dan mekanisme reaksi kimia.

Lubang ozon tingkat dasar terbentuk dalam reaksi kimia antara nitrogen oksida--berasal dari asap kendaraan, pembangkit listrik dan kegiatan industri--dan senyawa organik yang mudah menguap, dar dipancarkan dari sebagian besar sumber serupa, tetapi juga yang lain seperti pelarut dan bahkan tanaman.

Reaksi ozon akibat polusi udara dapat mengurangi efektivitas fotosintesis pada tanaman, menghambat pertumbuhan, dan bahkan melemahkannya.

Kedua polutan tersebut ditemukan memicu 1,1 juta kematian prematur rata-rata di China setiap tahunnya, dan sekitar 1.000 tanaman di Hong Kong.

Sekitar 20 juta ton beras, gandum, jagung dan kedelai juga hilang karena paparan ozon setiap tahun, lanjut laporan terkait.

Secara kolektif, biaya ekonomi dari kerusakan kesehatan masyarakat--rumah sakit dan pengeluaran rawat jalan, absen dari pekerjaan dan sejenisnya--mencapai sebesar 267 miliar yuan, atau sekitar 0,66 persen dari produk domestik bruto tahunan China.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Sudah pada Tingkat Membahayakan

Ilustrasi polusi udara
Ilustrasi polusi udara (iStock)

Industri adalah penyumbang terbesar untuk kedua jenis polusi, tetapi untuk PM2.5, sumber terbesar kedua adalah sektor perumahan dan komersial, karena jumlah batu bara kotor masih dibakar untuk pemanasan di musim dingin di beberapa bagian negara.

Peneliti mengatakan masalah tersebut mencerminkan kebutuhan kebijakan emisi nasional untuk dioptimalkan guna mengatasi berbagai masalah dengan manfaat maksimal, dan bukan hanya satu.

"Di sinilah ada masalah: jika saya menangani satu hal dengan baik, saya mungkin tidak akan membuat dampak yang efektif terhadap yang lain," katanya.

"Tujuan makalah ini adalah untuk menyoroti pentingnya memastikan 'manfaat tambahan' dalam kebijakan pengendalian emisi," tegas peneliti.

Dalam merancang kebijakan yang tepat, peneliti mengatakan, pembuat kebijakan tidak boleh hanya melihat satu aspek, tetapi jangkauan yang luas.

"Kita seharusnya tidak hanya melihat kesehatan, hanya kualitas udara atau hanya produksi tanaman. Kita harus melihat semuanya secara komprehensif, dan memilih kebijakan optimal yang dapat meraup dampak maksimal untuk berbagai masalah," lanjutnya menjelaskan.

Lubang ozon adalah masalah besar berikutnya yang harus dihadapi China, dan isu ini menjadi sangat serius di beberaoa daerah seperti Delta Sungai Mutiara, dan wilayah teluk yang berukuran besar.

Laporan yang dirilis pada bulan Juni itu juga menyebut baghwa Hong Kong, Makau dan Provinsi Guangdong, menunjukkan konsentrasi ozon rata-rata meningkat 16 persen dari tahun ke tahun, untuk mencapai tertinggi enam tahun tahun lalu.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait