Ini Kalimat Terakhir Anthonius, Petugas Airnav yang Meninggal Saat Gempa Palu

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 01 Okt 2018, 15:08 WIB
Diperbarui 02 Okt 2018, 20:14 WIB
Jasad Anthonius Gunawan Agung, petugas Airnav yang tewas saat gempa Palu (Twitter/@Airnav_Official)

Liputan6.com, Palu - Sosok Anthonius Gunawan Agung jadi sorotan lantaran aksi heroiknya yang menghebohkan media sosial. Banyak warganet yang memuji sekaligus sedih dengan upaya yang dilakukan oleh pria yang pada Oktober ini genap berusia 22 tahun.

Dikutip dari situs Sky News, Senin (1/10/2018) ternyata, sang pilot maskapai Batik Air yang menerbangkan pesawatnya berkat bantuan Anthonius buka suara. Ia membeberkan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Anthonius sebelum meninggal dunia.

Apa ucapan Anthonius?

Sebelumnya, saat gempa Palu, Anthonius Gunawan Agung tengah berada di menara kontrol Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu untuk memastikan Batik Air terbang dengan selamat. Namun, tiba-tiba atap ambruk akibat gempa dan Anthonius langsung melompat dari menara.

Peristiwa ini dikabarkan oleh pengamat penerbangan dan investigator swasta khusus kasus-kasus kecelakaan pesawat, Gerry Soejatman dalam akun twitternya.

Dalam akun twitternya, Gerry menulis bahwa Anthonius adalah seorang petugas ATC yang melompat dari menara saat gempa Palu setelah dia memastikan Batik Air terbang dengan selamat.

Namun, beberapa saat kemudian, akun twitter resmi AirNav mengabarkan bahwa Anthonius telah meninggal dunia.

Jika tidak ada Anthonius maka ratusan penumpang yang ada di dalam pesawat akan berada dalam bahaya. Ia memilih untuk menyelesaikan tugasnya, meski gempa Palu ia rasakan.

Anthonius Gunawan Agung yang panik memutuskan untuk melompat dari atas menara karena takut bangunan yang ia injak akan roboh. Dengan beraninya ia melompat dari jendela lantai empat dan mengakibatkan patah kaki.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Kalimat Terakhir Anthonius

Anthonius Gunawan Agung (Twitter/@Airnav_official)
Anthonius Gunawan Agung (Twitter/@Airnav_official)

Menurut sang pilot, kalimat terakhir yang diucapkan oleh Anthonius adalah:

"Batik 6231 runway 33 ready to take off."

Mendengar instruksi tersebut, sang pilot lantas menebangkan pesawatnya. Tak lama, gempa terjadi dan landasan rusak. Jika terlambat beberapa detik saja, maka pesawat itu akan rusak dan mengancam keselamatan penumpang.

Kisah Anthonius tak hanya menjadi bahan perbincangan dalam negeri. Aksi berani yang berujung maut itu disorot oleh media luar.

Situs CNN misalnya, yang memuat kisah Anthonius dalam artikel bertajuk "Indonesia salutes air traffic controller who gave his life for others".

Pria yang masih berusia 21 tahun itu segera dievakusi usai tubuhnya jatuh ke tanah. Saat diselamatkan, kondisi pria itu masih bernyawa.

Sementara itu, situs berita Australia ABC.net mengutip pernyataan dari juru bicara badan navigasi udara Indonesia atau Airnav, Yohannes Sirait yang menyatakan bahwa Anthonius telah merelakan nyawanya demi menyelamatkan ratusan orang yang ada di dalam pesawat.

"Anthonius telah memantau lepas landasnya pesawat. Jika ia meninggalkan pos-nya sebelum pesawat lepas landas, maka saya tidak tahu bagaimana nasib ratusan orang di dalam armada itu," ujar Yohannes Sirait, seperti dimuat dalam artikel berjudul "Indonesian earthquake: Air traffic controller dies ensuring flight gets off the ground".

Lanjutkan Membaca ↓