Angkatan Laut Jepang Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan yang Jadi Sengketa

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 18 Sep 2018, 07:00 WIB
Diperbarui 18 Sep 2018, 07:00 WIB
Kota Sansha di Pulau Yongxing atau Pulau Woody di gugus kepulauan Paracel, salah satu lokasi yang kerap dipersengketakan di Laut China Selatan (AFP PHOTO via VOA)

Liputan6.com, Tokyo - Jepang telah melakukan latihan kapal selam pertama di Laut China Selatan, menurut laporan sebuah surat kabar pada Senin 17 September 2018, sebuah langkah yang dapat memprovokasi Beijing yang mengklaim sebagian besar perairan yang disengketakan itu.

Kapal selam JS Kuroshio (Oyashio-class submarine), pada hari Kamis 13 September lalu, bergabung dengan tiga kapal perang Jepang di perairan barat daya dari Scarborough Shoal yang dikuasai China, Asahi Shimbun melaporkan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (18/9/2018).

Scarborough merupakan wilayah yang dipersengketakan oleh Filipina dan China. Wilayah itu kemudian berakhir di bawah kekuasaan Beijing.

Sementara itu, tiga kapal perang yang mendukung latihan tersebut diduga kuat meliputi; JS Kaga, JS Inazuma, dan JS Suzutsuki, dalam pelayarannya menuju Asia Tenggara. Ketiganya juga dijadwalkan berlabuh di Indonesia pada Selasa 18 September, menurut informasi yang diterima Liputan6.com.

Asahi Shimbun juga mengatakan bahwa latihan itu adalah yang pertama digelar oleh Tokyo di Laut China Selatan.

Japan Maritime Self-Defense Force melakukan latihan "anti-kapal selam", termasuk latihan untuk melihat kapal musuh dengan perangkat sonar, kata Asahi Shimbun, mengutip sumber-sumber pemerintah Jepang yang tidak disebutkan namanya.

Sumber-sumber mengatakan, itu adalah latihan angkatan laut yang sah di perairan netral, dengan hak akses yang dijamin berdasarkan hukum internasional.

Setelah latihan di Laut China Selatan, kapal selam Jepang berencana berlabuh pada Senin 17 September di Cam Ranh, Vietnam tengah, dalam upaya untuk menampilkan kerjasama pertahanan Tokyo dengan Hanoi, kata Asahi Shimbun.

Ini akan menjadi ajang berlabuh pertama oleh kapal selam Jepang di pelabuhan strategis penting sejak Perang Dunia Kedua, tambahnya.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Sengketa Laut China Selatan

Pulau Pag-asa, bagian dari gugus kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Gugus kepulauan Spratly menjadi salah satu lokasi yang kerap dimiliterisasi oleh China (AP Photo/Rolex Dela Pena, Pool, File)
(Ilustrasi) Pulau Pag-asa, bagian dari gugus kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Gugus kepulauan Spratly menjadi salah satu lokasi yang kerap dimiliterisasi oleh China (AP Photo/Rolex Dela Pena, Pool, File)

Laut China Selatan yang disengketakan merupakan rute pelayaran global penting dan apa yang diyakini sebagai cadangan minyak dan gas alam yang signifikan.

China mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan yang kaya sumber daya bernilai US$ 5 triliun --meskipun ada klaim yang bersaing dari Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam. Uang itu 'bergerak' dalam sebuah rute perdagangan pelayaran di Laut China Selatan setiap tahun.

Beijing juga telah terlibat dalam upaya reklamasi selama bertahun-tahun di terumbu karang yang dikuasainya di kawasan itu, dan membangun fasilitas sipil dan militer di wilayah yang diperebutkan.

Awal bulan ini, Beijing mengecam Inggris karena mengirim kapal perang dekat dengan pulau-pulau yang disengketakan - salah satu dari serangkaian operasi "kebebasan navigasi" yang dilakukan baru-baru ini oleh AS dan sekutu-sekutunya sebagai sinyal ke Beijing akan hak mereka untuk akses perairan yang disengketakan.

Lanjutkan Membaca ↓