Ini Penampakan Dramatis Gedung WTC Sebelum dan Sesudah Serangan 9/11

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 12 Sep 2018, 07:01 WIB
Diperbarui 12 Sep 2018, 07:01 WIB
Serangan teroris di World Trade Center, New York, Amerika Serikat pada 9 September 2001 (AP)
Perbesar
Serangan teroris di World Trade Center, New York, Amerika Serikat pada 9 September 2001 (AP)

Liputan6.com, New York - Hari ini, tepat 17 tahun silam merupakan hari di mana serangan terorisme paling mematikan terjadi di Amerika Serikat. Gedung World Trade Center (WTC) di New York diserang oleh terorisme dan kejadian ini dikenal dengan sebutan 9/11.

Kala itu, pelaku serangan 9/11 berawal saat 19 pembajak dari kelompok militan Al Qaeda membajak 4 pesawat jet penumpang pertama Boeing-767.

Pesawat yang membawa bahan bakar 20 ribu galon itu ditabrakkan ke bagian utara WTC yang terletak di jantung kota New York.

Tak lama kemudian, Boeing-737 dari maskapai yang sama terbang menukik tajam ke bagian selatan gedung tersebut. Sebagian sisi gedung pun runtuh, orang-orang yang berada di dalamnya tewas.

Hampir 3.000 orang tewas, 400 adalah petugas polisi dan petugas pemadam kebakaran, dalam serangan 9/11 di TC di New York, di gedung Pentagon di Washington DC, dan dalam kecelakaan pesawat di dekat Shanksville, PA.

Berikut adalah penampakan gedung World Trade Center (WTC) sebelum dan sesudah tragedi 11 September 2001, seperti dikutip dari laman lmtonline.com, Rabu (12/9/2018):

Sebelum

Pelaku serangan 9/11 berawal saat 19 pembajak dari kelompok militan Al Qaeda membajak 4 pesawat jet penumpang pertama Boeing-767 (AP)

Sesudah

Pelaku serangan 9/11 berawal saat 19 pembajak dari kelompok militan Al Qaeda membajak 4 pesawat jet penumpang pertama Boeing-767 (AP)

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Langkah Presiden AS Kala Itu

Serangan teroris di World Trade Center, New York, Amerika Serikat pada 9 September 2001 (AFP)
Perbesar
Serangan teroris di World Trade Center, New York, Amerika Serikat pada 9 September 2001 (AFP)

Pada 20 September 2001, Presiden George W. Bush memulai "War on Terror" (perang melawan teror).

"Warga Amerika tidak hanya akan menyaksikan satu perlawanan, tetapi rangkaian perlawanan yang tidak pernah kita lihat sebelumnya," kata Bush, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia.

Perang pun digencarkan di Afghanistan untuk mencari Osama bin Laden, pimpinan al-Qaida yang disebut menjadi dalang serangan 11 September.

Anggaran raksasa pun dikeluarkan untuk menjalankan "perang" ini.

Pada tahun pertama "War on Terror", Kongres Amerika mengucurkan dana darurat untuk perang sebesar US$ 29,3 miliar atau sekitar Rp 430 triliun.

Langkah ini disusul dengan pengiriman tentara Amerika ke Irak pada 21 Maret 2003. Bush menyebut CIA memprediksi ada senjata pemusnah massal di negara tersebut.

Alhasil, anggaran yang dikucurkan untuk perang di Afghanistan dan Irak terus melonjak. Pada penghujung periode kedua Bush di Gedung Putih, program "War on Terror" telah menghabiskan US$ 1,164 triliun atau sekitar Rp 18 ribu triliun.

Sekitar 10 tahun setelah Peristiwa 11 September, di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama, Osama bin Laden yang diburu, bisa ditemukan Pasukan Khusus Angkatan Laut Amerika dalam sebuah operasi di Pakistan, dan terbunuh pada 2 Mei 2011.

Pada Desember 2014, Obama pun mengumumkan penghentian operasi militer di Afghanistan.

Namun, munculnya kelompok yang menyebut diri mereka ISIS di Irak dan Suriah, membuat "War on Terror" terus berlanjut.

Obama total mengucurkan US$ 807 miliar atau sekitar Rp 12 ribu triliun pada dua periode kepemimpinannya. Sementara, Trump telah menganggarkan US$ 156 miliar atau sekitar Rp 2.300 triliun untuk "War on Terror".

Lanjutkan Membaca ↓