Ditikam Saat Kampanye, Capres Brasil Kehilangan Lebih dari 2 Liter Darah

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 08 Sep 2018, 17:00 WIB
Diperbarui 22 Sep 2018, 18:49 WIB
Kandidat presiden Brasil, Jail Bolsonaro, mengalami serangan penikaman saat tengah berkampanye (AFP/Raysa Leite)

Liputan6.com, Sao Paulo - Calon presiden Brasil dari kubu sayap kanan, Jair Bolsonaro menjadi korban penikaman di tengah kampanye di Minas Gerais pada Kamis 6 September 2018. Meski terluka parah, ia berhasil lolos dari maut.

Para dokter yang merawatnya di RS Santa Casa de Misericordia di Kota Juiz de Fora menyebut, sang politikus kehilangan 40 persen atau lebih dari dua liter darah akibat luka yang dialaminya.

Bolsonaro, menurut dokter, menderita luka dalam dan berpotensi mengancam nyawanya di bagian usus, namun, ia kini telah pulih.

"Secara klinis, pasien dalam kondisi baik pascaoperasi," kara direktur rumah sakit Eunice Dantas.

Dantas mengatakan, Bolsorano harus menjalani perawatan lanjutan selama setidaknya seminggu di rumah sakit. Pasien kini telah dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Sao Paulo, Brasil. 

Pihak keluarga mengungkapkan pisau yang ditancapkan pelaku menembus perut korban sedalam 12 sentimeter.

Putra korban, Flavio Bolsonaro mengatakan, ayahnya mungkin tak akan bisa kembali berkampanye jelang pemilihan presiden Brasil yang digelar bulan depan. Politikus itu masih dalam kondisi lemah dan masih kesulitan bicara.

"Ia tak bisa turun ke jalan untuk berkampanye, tapi kami bisa," kata dia seperti dikutip dari BBC News, Sabtu (8/9/2018).

Jair Bolsonaro adalah politikus kontroversial. Ia meraup dukungan atas sikap kerasnya terhadap kejahatan. Politikus itu mendukung pelonggaran UU pengendalian senjata dan memiliki sikap anti-aborsi yang tanpa kompromi.

Di sisi lain, pria itu bikin marah banyak orang di Brasil dengan komentar rasis dan homofobik. Misalnya, ia menyamakan homoseksualitas dengan pedofilia, dan mengatakan seorang anggota kongres terlalu buruk untuk diperkosa.

Pria berusia 63 tahun, yang mewakili Partai Sosial Liberal (PSL), punya banyak pengikut di media sosial. Banyak orang menjulukinya sebagai 'Donald Trump-nya Brasil'.

Jajak mendapat menunjukkan, Bolsonaro berpotensi meraup suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden Oktober mendatang, jika Presiden Luis Inácio Lula da Silva tak boleh berlaga dalam pilpres.

Lula, yang berasal dari kubu sayap kiri, sudah lama difavoritkan kembali duduk di kursi presiden. Namun, saat ini ia dipenjara dan sedang mengajukan banding atas larangan pencalonannya pasca-vonis bersalah dalam kasus korupsi.

Dalam video yang beredar di media sosial sejak Jumat kemarin, Bolsonaro menyampaikan pesan dari tempat tidur pasien.

Dengan suara serak, dia bersyukur kepada Tuhan dan tim medis yang telah menyelamatkan nyawanya.

Menurut Bolsorano, syok akibat penikaman yang menimpanya ibarat kepala terkena bola yang ditendang keras dalam permainan sepak bola.

Dia mengaku, rasa sakit yang ia rasakan tak terkira namun Bolsorano yakin ia bisa mengatasinya. "Saya tak pernah menyakiti siapapun," tambah dia.

 

Saksikan video detik-detik penikaman capres Brasil berikut ini:

2 of 2

Pelaku Alami Gangguan Mental?

Ilustrasi bendera Brasil (AFP)
Ilustrasi bendera Brasil (AFP)

Pasca-insiden penikaman, polisi menangkap seorang tersangka, Adelio Obispo de Oliveira, 40 tahun. Aparat mengungkapkan, pihaknya kini sedang menyelidiki kesehatan mental pelaku. 

Adelio Obispo de Oliveira sempat dianiaya dan dipukuli oleh pendukung Bolsonaro yang murka, sebelum ia berhasil diloloskan dari penghakiman massa dan dibawa ke tahanan.

Adelio Bispo de Oliveira adalah pendukung sayap kiri yang sangat vokal dan kerap mengkritik Bolsonaro. Dia mengunggah banyak pesan di Facebook yang mengecam kebijakan politikus tersebut.  Antara 2007 dan 2014, tersangka berafiliasi dengan partai PSOL yang berhaluan kiri.

De Oliveira ikut dalam aksi mendukung pembebasan mantan Presiden Lula, namun dalam beberapa bulan terakhir, di media sosial,  dia menyatakan kekecewaannya dengan semua politisi dan menyatakan bahwa dia tidak berniat untuk memilih salah satu kandidat presiden.

Kerabatnya mengatakan bahwa ia tampaknya memiliki masalah mental dan kehilangan kontak dengannya.

Meski berada di kubu berseberangan, lawan-lawan politik Bolsonaro mengutuk insiden penikaman itu. Fernando Haddad, yang diperkirakan akan menggantikan Lula mewakili Partai Pekerja dalam pilpres menyebut, aksi tersebut "tidak masuk akal dan amat disesalkan".

Sementara itu, dari ibu kota Brasilia, Presiden Michel Temer mengatakan, serangan semacam itu tidak bisa ditoleransi di negara demokratis. Ia juga berharap Bolsonaro pulih segera.

Beberapa pengamat yakin, serangan penikaman tersebut dapat meningkatkan peluang Bolsonaro pada pilpres bulan depan.

Para wartawan menggambarkan serangan itu sebagai perubahan dramatis dalam salah satu pemilihan presiden Brasil yang paling diwarnai ketidakpastian dalam beberapa dasawarsa.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait