Presiden Nauru: China Harus Minta Maaf atas Arogansi di Pertemuan Pasifik 2018

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 07 Sep 2018, 10:01 WIB
Diperbarui 07 Sep 2018, 10:01 WIB
Presiden Nauru, Baron Waqa (AP)
Perbesar
Presiden Nauru, Baron Waqa (AP)

Liputan6.com, Nauru - Presiden Nauru mendesak China meminta maaf atas perilaku perwakilannya yang dinilai tidak sopan, ketika menghadiri agenda puncak Pertemuan Pasifik, pekan ini.

"Mereka bukan teman kami. Mereka hanya membutuhkan kami untuk tujuan mereka sendiri," Presiden Baron Waqa mengatakan pada wartawan.

"Maaf, tapi saya harus kuat dalam hal ini karena tidak ada yang datang dan mendiktekan hal-hal kepada kami," tegasnya, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Kamis (6/9/2018).

Forum Kepulauan Pasifik (PIF) yang digelar setiap tahunnya tengah berlangsung di Nauru. Agenda yang rutin digelar selama 49 tahun terakhir itu mengalami kendala ketika perwakilan China berbuat sesuatu, yang disebut oleh pihak tuan rumah sebagai "sikap arogan".

Diskusi umum KTT tentang perubahan iklim telah dibayangi oleh pertengkaran tuan rumah dengan China. Tak hanya itu, perlakuan terhadap pencari suaka yang ditahan di negara pulau itu berdasarkan kesepakatan dengan Australia juga jadi isu yang ramai.

Perseteruan dengan negara pulau yang hanya memiliki luas 21 kilometer persegi itu terjadi pada Selasa, 4 September 2018. Kepala delegasi China, Du Qiwe, dikabarkan berusaha untuk berbicara lebih dahulu dalam pertemuan tersebut, tapi tetap ditolak oleh Presiden Waqa, yang menginginkan dirinya berbicara hingga selesai.

Tidak terima dengan penolakan tersebut, delegasi China memutuskan untuk meninggalkan lokasi acara, alias walk-out. Du Qiwe sempat dilaporkan berjalan di sekitar ruangan untuk menekankan ketidaksenangannya pada Nauru.

"Apakah dia (Du Qiwe) bersikap seperti itu di depan presidennya sendiri? Saya ragu," kata Waqa pada konferensi pers, Rabu malam.

"Dia tidak menghormati Pasifik, pemimpin forum, dan delegasi lain yang datang untuk bergabung dengan kami. Apa Anda sedang bercanda? Lihatlah dia, dia bukan siapa-siapa. Dia bahkan bukan seorang menteri, dan dia menuntut untuk diakui dan berbicara di hadapan perdana menteri Tuvalu. Apakah dia gila?" kata dia geram.

Waqa, yang negaranya mendukung kedaulatan Taiwan, telah membuat marah Beijing sebelum KTT dimulai.

Perseteruan dengan Du Qiwe menyoroti isu meningkatnya pengaruh Beijing di Pasifik, di mana China memberikan sekitar US$ 1,78 miliar (setara Rp 26,5 triliun) bantuan ke negara-negara Pasifik, antara 2006 - 2016.

"Kami melihat banyak negara besar datang dan terkadang membeli jalan mereka melalui Pasifik, beberapa sangat agresif, bahkan sampai menginjak kita," kata Waqa.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Sikap China

Bendera China
Perbesar
Ilustrasi (iStock)

Pemerintah Nauru bersikeras agar China meminta maaf langsung, dan bahkan mengancam akan membawa insiden ini PBB dan berbagai forum internasional lainnya.

Sementara itu, Beijing disebut tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pada Rabu 5 September, bahwa Nauru telah melanggar peraturan forum "dan melancarkan lelucon buruk".

China bukan milik PIF, tetapi merupakan salah satu dari 18 negara yang menghadiri KTT tersebut sebagai "mitra dialog", untuk berdiskusi dengan negara-negara anggotanya.

Di lain pihak, Beijing dan Taipei telah bersaing untuk pengaruh diplomatik di Pasifik selama beberapa dekade. Masing-masing menawarkan bantuan dan dukungan ke negara-negara kepulauan kecil dengan imbalan pengakuan.

Taiwan membayar banyak infrastruktur yang digunakan oleh PIF Nauru, dan pengamat memprediksi ada ketegangan serupa pada acara tahun depan di Tuvalu, yang juga mengakui Taipei.

Lanjutkan Membaca ↓