Setelah Brexit, Petani Inggris Dibolehkan Rekrut 2.500 Imigran per Tahun

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 07 Sep 2018, 08:01 WIB
Diperbarui 09 Sep 2018, 07:13 WIB
Pertanian di Inggris (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Para petani Inggris akan diizinkan merekrut 2.500 imigran non-Uni Eropa setiap tahun, di bawah rencana baru yang akan membantu mengurangi kekurangan pekerja musiman setelah Brexit.

Serikat Petani Nasional telah menyerukan pengaturan khusus untuk pekerja jangka pendek, di tengah kekhawatiran tanaman dibiarkan membusuk di peternakan Inggris karena kekurangan tenaga kerja.

Di bawah skema baru, yang akan berjalan selama dua tahun dari musim semi berikutnya, warga negara non-UE yang melakukan perjalanan ke Inggris, untuk bekerja di ladang buah dan sayuran, akan dapat tinggal selama enam bulan sebelum kembali.

Dikutip dari Independent.co.uk, Kamis (6/9/2018), badan-badan industri di Inggris memperkirakan sektor pertanian setempat bergantung pada 75 ribu tenaga kerja imigran.

Mengungkap rencana tersebut, Menteri Dalam Negeri Sajid Javid mengatakan: "Para petani sangat penting bagi ekonomi Inggris, dan pemerintah akan mendukung mereka dengan cara apa pun yang kami bisa."

"Rencana ini akan memastikan para petani memiliki akses ke tenaga kerja musiman, yang mereka butuhkan untuk tetap produktif, dan menguntungkan selama masa-masa sibuk tahun ini," ucap Menteri Javid menjelaskan.

Dia menambahkan, pemerintah menginginkan sistem imigrasi yang mampu menyaring dengan baik para imigran. Mereka yang menguntungkan bagi Inggris, Javid menjelaskan, akan disambut dengan terbuka dan jaminan hukum yang jelas.

Di lain pihak, Menteri Lingkungan Michael Gove mengatakan pemerintah telah mendengarkan "argumen kuat" dari para petani tentang perlunya tenaga kerja musiman untuk menjaga industri hortikultura tetap produktif dan menguntungkan.

Dia berkata: "Dari selada di East Anglia sampai stroberi di Skotlandia, kami ingin memastikan bahwa petani dapat terus tumbuh, menjual dan mengekspor lebih banyak bahan pangan dari Inggris."

Kabar itu disambut baik oleh Minette Batters, ketua Serikat Petani Nasional Inggris, yang menggambarkannya sebagai "kemenangan besar".

"Ini mengikuti dua tahun upaya NFU (lembaga investasi daerah), petani dan anggota parlemen, tentang isu kekurangan pekerja yang menghambat produksi pangan. Selain itu, kami senang pemerintah mengakui bahwa hortikultura adalah sektor yang sukses berkembang sebagai penghasil buah dan sayuran, yang lebih baik dan sehat untuk disantap," ujar Batters.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Skema Bantuan Pertanian Sejak Perang Dunia II

Ilustrasi Bendera Inggris
Ilustrasi (iStock)

Dalam lima tahun terakhir, petani Inggris mulai merasakan kekurangan pekerja yang cukup signifikan. Hingga 2017, jumlah imigran yang biasa dipekerjakan sebagai tenaga musiman menurun jumlahnya sekitar 10 persen.

Kini, setelah pemerintah Inggris meyakinkan tentang regulasi pekerja musiman, para petani Inggris optimistis bahwa masa panen 2019 akan berkinerja lebih baik.

Skema pekerja pertanian musiman diperkenalkan di Inggris, sebagai tanggapan terhadap kekurangan tenaga kerja setelah Perang Dunia II.

Di bawah program tersebut, petani buah dan sayuran diizinkan mempekerjakan pekerja migran dari berbagai negara, terutama Bulgaria dan Rumania, hingga enam bulan sekaligus.

Aliran pekerja musiman itu mulai menyusut seiring dengan semakin ketatnya aturan masuk bagi imigran, yang dimulai sejak 2013 silam.

Dua operator skema akan menjalankan rencana baru itu, mengawasi penempatan pekerja, memastikan mereka mencapai lokasi kerja mereka, dan mengawal hingga masa tinggal visa habis.

Lanjutkan Membaca ↓