6-9-1966: Arsitek Apartheid Tewas Ditikam di Sidang Parlemen Afrika Selatan

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 06 Sep 2018, 06:00 WIB
Ilustrasi pisau penusukan

Liputan6.com, Pretoria - Pada Selasa 6 September 1966, saat jarum jam menunjuk ke pukul 14.15, seorang pria gagah berseragam kurir berwarna biru memasuki gedung parlemen Afrika Selatan. Ia berjalan menuju kursi di barisan depan di mana Perdana Menteri Hendrik Verwoerd berada.

Sekonyong-konyong, ia mencabut pisau seharga dua dolar dari sabuknya dan menikam sang perdana menteri yang belum lama memasuki ruangan sidang di House of Assembly.

Pelaku menikam korban empat kali, di bagian leher dan dada, sebelum ditaklukkan oleh sejumlah anggota parlemen. Empat politikus yang berlatar belakang dokter kemudian bergegas menolong Verwoerd dengan memberikan Resusitasi jantung paru-paru atau CPR (cardiopulmonary resuscitation).

PM Verwoerd lantas dilarikan ke Groote Schuur Hospital, namun ia dinyatakan meninggal dunia saat kedatangannya di RS.

Perdana Menteri Afrika Selatan, Hendrik Verwoerd tewas ditikam di gedung parlemen (AFP)

Pemakaman kenegaraan Verwoerd di Pretoria pada 10 September 1966 dihadiri seperempat juta orang, hampir semuanya berkulit putih. Sementara, karpet bernoda darah yang menetes dari tubuh sang perdana menteri masih terpasang di gedung parlemen sebelum akhirnya diganti pada 2004.

Perdana Menteri Hendrik Verwoerd disebut-sebut sebagai 'arsitek apartheid -- sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan dari sekitar awal Abad ke-20 hingga tahun 1990.

Ia berperan membentuk aturan pelaksanaan apartheid saat menjadi menteri urusan pribumi dan kemudian perdana menteri. Verwoerd pernah menggambarkan apartheid sebagai "kebijakan bertetangga yang baik".

Selama masa jabatannya sebagai perdana menteri, gerakan anti-apartheid seperti Kongres Nasional Afrika (ANC) dan Pan Africanist Congress (PAC) dilarang. Para tokohnya pun diseret ke meja hijau dan dipenjarakan.

Pembunuh atau Pahlawan?

Meski terang-terangan menikam PM Afrika Selatan hingga tewas, pelakunya Dimitri Tsafendas lolos dari hukuman mati.

Sekitar 1,5 bulan setelah insiden penikaman tersebut, Hakim A.B. Beyers memutusnya tak waras dan tidak memenuhi syarat untuk diadili. Namun, untuk menjaga perasaan Kantor Kepresidenan, ia memerintahkan terdakwa ditahan.

"Saya tak bisa menyidang seorang pria yang tak tak bisa berpikir rasional seperti halnya saya tak bisa mengadili seekor anjing," kata hakim.

Namun, seperti dikutip dari Daily Nation, Tsafendas konon sepenuhnya waras dan tak sinting. Namun, rezim apartheid tak mau mengakui seorang komunis, yang pernah ditahan lima kali atas aktivitas subversif, mengelabui sistem keamanan dan diterima bekerja di gedung parlemen.

Pihak penguasa tak mau Tsafendas dianggap martir jika ia dieksekusi mati. Lebih jauh lagi, mereka tak ingin terlihat ada oposisi atas aturan apartheid yang diberlakukan.

Padahal, diduga kuat, Tsafendas merencanakan pembunuhan itu dengan cermat, mengaturnya sedemikian rupa menjadi tyrannicide -- pembunuhan terhadap seorang tiran yang lalim.

Ia yang berdarah campuran -- ayahnya adalah seorang insinyur berkulit putih asal Jerman sementara sang ibu yang asal Mozambik berkulit hitam -- berharap, tanpa sang arsitek apartheid, Afrika Selatan akan berubah, pemisahan rasial akan tamat.

Butuh waktu bertahun-tahun hingga transformasi itu terjadi. Baru pada 1990 apartheid dihapus.

Menurut media Inggris, The Guardian, Tsafendas bisa dibilang adalah seorang pria yang mengubah sejarah Afrika Selatan pasca-perang. Seorang pahlawan yang terlupakan.

Namun, Dimitri Tsafendas seakan menghilang dari sejarah. Dalam buku monumental karya Anthony Sampson, Mandela: The Authorised Biography hanya disebutkan bahwa Verwoerd "dibunuh oleh kurir kulit putih yang gila."

Sementara, sejarah akademis Afrika Selatan juga menyebut 'kurir di parlemen yang gila' dan The New Penguin Encyclopaedia hanya mengatakan Verwoerd "dibunuh di Cape Town." Tidak ada nama pelaku yang disebut.

Makamnya di sebelah rumah sakit jiwa di mana ia meninggal pada usia 81 tahun tetap anonim, ditutupi rumput, tanpa penanda.

Ia dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Jiwa Sterkfontein, Afrika Selatan akibat pneumonia.

 

Saksikan video menarik terkait Afrika Selatan berikut ini: 

2 of 2

Pemakaman Putri Diana

Hari pemakaman Putri Diana
Pangeran William dan Harry saat mengiringi peti jenazah ibunya, Putri Diana. (AP)

Selain pembunuhan Perdana Menteri Afrika Selatan Hendrik Verwoerd, sejumlah kejadian bersejarah juga terjadi pada 6 September.

Pada Pada 6 September 1997, dunia mengucapkan selamat tinggal kepada Putri Diana. Prosesi pemakaman Princess of Wales di London disiarkan langsung ke seluruh penjuru dunia, disaksikan kurang lebih 2,5 miliar orang.

Dikutip dari BBC, upacara pemakaman itu dimulai pada pukul 09.08 waktu setempat, ketika peti jenazah meninggalkan Kensington Palace--tempat tinggalnya semasa ia hidup.

Dari Istana Kensington, iring-iringan bergerak menuju St. James Palase melalui Hyde Park. Di sana, tubuh kaku Lady Di disemayamkan selama lima hari sebelum dipindahkan ke kediamannya di Kensington Palace.

Sementara itu jutaan orang berbaris di sepanjang jalan menuju Westminster Abbey. Pemandangan yang sama juga terlihat di rute menuju kediaman Spencer, di Northampthonshire.

Kebanyakan dari mereka dibungkam kesedihan mendalam. Namun banyak di antaranya yang tak kuasa menahan tangis, menyadari bahwa Putri Inggris yang mereka cintai telah tiada.

Di atas peti mati, terdapat kartu ucapan berwarna putih polos yang bertuliskan, 'Mummy'. Itu berasal dari putra bungsu Diana, Harry.

Berdiri di belakang mobil yang membawa jenazah Putri Diana ke Westminster Abbey adalah saudara laki-lakinya, Earl Spencer, Pangeran Charles, serta kedua buah hatinya, William dan Harry.

Tak hanya anggota keluarganya, sekitar lima ratus orang dari perwakilan badan amal di mana Putri Diana terlibat juga ikut mengiringi peti matinya.

Anggota keluarga kerajaan lainnya termasuk Ratu Elizabeth menyaksikan iring-iringan dari pintu gerbang Istana Buckingham.

Puncak dari prosesi pemakaman ini ada di Westminster Abbey. Dimulai pada pukul 11.00 waktu setempat, upacara yang berlangsung tertutup itu bergulir selama 1 jam 10 menit.

Terdengar sahabat sang putri, Elton John, menyanyikan Candle in The Wind. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, saudara laki-laki Diana, Earl Spencer, menggambarkan sosoknya sebagai "esensi dari kasih sayang itu sendiri".

Setelah menjalani upacara tertutup di Westminster Abbey, iring-iringan mengantar Putri Diana ke peristirahatan terakhirnya di sebuah pulau yang berada di lingkungan Althorp Park, kediaman keluarga Spencer selama berabad-abad.

Tubuh kaku Diana kala itu dikabarkan mengenakan gaun lengan panjang berwarna hitam rancangan Catherine Walker. Busana yang dipilihnya beberapa pekan sebelum kematiannya.

Ikut dikubur bersamanya saat itu adalah satu set rosario yang diletakkan di genggaman tangannya. Benda itu adalah hadiah dari Bunda Teresa.

Prosesi di Althorp berlangsung sangat pribadi karena hanya dihadiri oleh ibu, saudara-saudara kandung, teman terdekat, mantan suami, kedua putranya dan seorang pendeta.

Rencana semula, Diana akan dimakamkan di kamar makam milik keluarga Spencer yang terletak di sebuah gereja lokal di dekat Great Brington. Namun pihak keluarga mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan publik dari "serbuan" pelayat yang datang.

Lantas, keluarga Spencer memutuskan bahwa Diana akan dimakamkan di mana kuburannya dapat dengan mudah dirawat dan dikunjungi secara pribadi oleh William, Harry, dan kerabat lainnya.

Lanjutkan Membaca ↓