Berupaya Bunuh PM Inggris Theresa May, Anggota ISIS Ini Dipenjara Seumur Hidup

Oleh Afra Augesti pada 01 Sep 2018, 14:00 WIB
Diperbarui 03 Sep 2018, 13:13 WIB
ISIS di Inggris

Liputan6.com, London - Seorang anggota ISIS bernama Naa’imur Zakariyah Rahman dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau setara dengan 30 tahun, karena terbukti berencana membunuh Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Saat diinterogasi polisi, pemuda berusia 21 tahun itu mengaku akan meledakkan bom di gerbang kantor perdana menteri di 10 Downing Street, membunuh para penjaganya dan kemudian menyerang May dengan pisau atau pistol.

Rahman yang tinggal Finchley, London utara, diringkus oleh jaringan petugas khusus anti-terorisme dari Kepolisian Metropolitan, FBI dan MI5. Dia dinyatakan bersalah karena terbukti dengan sengaja menyiapkan aksi terorisme.

Pria berambut panjang tersebut ditangkap pada November 2017 ketika ia sedang mengumpulkan barang bukti dari sisa-sisa penyerangannya, seperti jaket dan ransel. Saat itu, polisi menjebaknya dengan petugas yang menyamar sebagai seorang penanggung jawab ISIS.

Selain itu, selama persidangan di Pengadilan Kriminal Pusat Inggris dan Wales, Old Bailey, Rahman juga mengaku sedang membantu seseorang untuk bisa bergabung dengan ISIS di Libya.

"Rahman adalah orang yang sangat berbahaya dan 'licin'. Sulit untuk memprediksi kapan Rahman berubah menjadi deradikal dan tidak lagi menjadi bahaya bagi masyarakat. Sikapnya bisa berubah dengan drastis," kata Hakim Charles Haddon-Cave, seperti dilansir dari The Guardian, Sabtu (1/9/2018).

Pengadilan kemudian menjatuhi Rahman dengan hukuman penjara seumur hidup dengan jangka waktu minimal 30 tahun. Selain itu, ia juga terlibat dalam pembuatan video tentang ISIS, maka hukumannya ditambah jadi enam tahun penjara untuk dijalankan secara bersamaan.

Hakim Charles menambahkan, petugas yang menyamar saat menyelidiki kasus Rahman menyebut Rahman adalah dalang dan otak di balik semua tindakan terorisme yang dijalankannya sendiri.

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Jadi Target Plot Teror

PM Inggris Theresa May
Perdana Menteri Inggris Theresa May saat memberikan keterangan terkait teror London. (Andrew Matthews/PA via AP)

Perdana Menteri Inggris Theresa May dilaporkan menjadi target sebuah rencana teror yang gagal.

Laporan Sky News yang dikutip dari News.com.au pada Rabu 6 Desember 2017 menyebutkan bahwa Andrew Parker, Direktur badan intelijen domestik Inggris (MI5), memberitahukan para menteri kabinet mengenai dugaan rencana tersebut pada hari Selasa waktu setempat.

Plot kelompok ekstremis tersebut melibatkan sebuah serangan bom di Downing Street, kediaman resmi PM Inggris, dan upaya untuk membunuh May dalam kekisruhan.

Polisi kemudian mengumumkan bahwa mereka mendakwa dua orang dengan pasal terorisme: Naa'imur Zaakriyah Rahman dan Mohammed Aqib Imran (22). Keduanya ditangkap dalam penggerebekan yang dilakukan polisi kontraterorisme Inggris pada November 2017.

Lebih lanjut, MI5 mengungkapkan bahwa dalam satu tahun terakhir, pihaknya telah mencegah sembilan serangan teror di Inggris. Namun beberapa serangan masih lolos.

Rentetan Teror di Inggris

Pada Maret 2017, Khalid Masood mengendarai mobil dan menabrak kerumunan pejalan kaki di Westminster Bridge. Ia juga menusuk seorang petugas polisi yang berjaga di gedung parlemen. Setidaknya lima orang tewas dalam peristiwa ini.

Mei 2017, 22 orang tewas saat pelaku bom bunuh diri, Salman Ramadan Abed, menargetkan penonton konser di Manchester Arena. Sebuah laporan resmi mengungkap peluang untuk menggagalkan aksi ini.

Teror di London Bridge pada Juni 2017 menewaskan 11 orang ketika pelaku menggunakan kendaraan dan pisau untuk menyerang orang-orang tak bersalah.

Pada bulan yang sama, seorang pria dilaporkan tewas dalam insiden di Masjid Finsbury Park di London utara. Dan pada September, sebuah upaya untuk mengebom kereta Tube di stasiun Parsons Green berhasil digagalkan.

Perdana Menteri Inggris sejak lama telah menjadi target teroris, meski saat ini Downing Street sendiri terlindungi dengan baik.

Langkah-langkah keamanan diperkenalkan pada 1970-an, namun ditingkatkan pada 1980-an mengingat meningkatnya ancaman dari Pasukan Republik Irlandia (IRA). Pada 1991, IRA pernah meluncurkan serangan mortir ke Downing Street dan peluru mendarat di kebun bagian belakang.

PM saat itu, John Major, tengah berada di dalam gedung. Namun ia tidak terluka.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by