Setelah Brexit, PM Inggris Berjanji Menjadi Investor Terbesar di Afrika

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 28 Agu 2018, 12:03 WIB
Diperbarui 30 Agu 2018, 11:13 WIB
20170608-PM Theresa May Berikan Suaranya-AP

Liputan6.com, London - Perdana Menteri Inggris Theresa May mengumumkan rencana untuk meningkatkan nilai investasi di Afrika setelah Brexit. Hal itu diumumkannya di sela-sela perjalanan perdana ke benua itu sebagai perwakilan tertinggi Negeri Ratu Elizabeth.

Pada sebuah pidato yang akan digelar di Cape Town, PM May diprediksi akan mengatakan bahwa Inggris "tidak ragu" menghabiskan banyak uang negaranya untuk membantu Afrika.

Dikutip dari BBC pada Selasa (28/8/2018), PM May juga disebut ingin Inggris mengambil alih peran Amerika Serikat sebagai investor terbesar G7 di Afrika pada 2022.

Anggaran bantuan luar negeri Inggris mencapai 13,9 miliar pound sterling (setara Rp 261 triliun) pada tahun 2017, meningkat sebesar 555 juta pound stering (sekitar Rp 10,4 triliun) pada 2016. Jumlah tersebut dikabarkan lebih tinggi dari kenaikan investasi serupa yang dilakukan oleh Prancis dan China dalam dua tahun terakhir.

Dalam lawatan tersebut, perempuan kedua yang jadi PM Inggris itu dijadwalkan mengunjungi tiga negara, yakni Afrika Selatan, Nigeria, dan Kenya. Beberapa pengamat menyebut agenda kunjungan tersebut, sang perdana menteri akan fokus memperdalam hubungan ekonomi dan perdagangan di Afrika menjelang Inggris keluar dari Uni Eropa pada 2019 mendatang.

Sesampainya di Afrika Selatan pada Selasa pagi, PM May diperkirakan segera mengumumkan "pendekatan baru yang ambisius" terkait bantuan Inggris di benua tersebut, di mana peruntukkannya akan menyasar pada investasi sektor swasta.

Investasi sektor swasta adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan dan "melepaskan semangat kewirausahaan" di Afrika, katanya.

Dalam pidatonya, PM May diharapkan untuk berkata bahwa menciptakan lapangan pekerjaan di benua itu --di mana banyak negara memiliki populasi muda yang besar-- adalah hal penting dalam mendukung keseimbangan ekonomi global.

Sejalan dengan prediksi tersebut, beberapa pengamat juga menyebut bahwa investasi Inggris adalah cara terbaik untuk mengatasi ekstremisme, ketidakstabilan dan arus imigran ke Eropa.

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Berpeluang Menjadi Kesempatan Unik

Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP
Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP

PM May sebelumnya mengatakan perjalanan itu akan menjadi "kesempatan unik pada waktu yang juga unik untuk Inggris". Sebanyak 29 delegasi bisnis turut serta dalam agenda lawatan tersebut.

Isu keamanan juga akan disunggung dalam kunjungannya itu, dan dia diharapkan turut membahas tentang ancaman Boko Haram di Nigeria, dan peran pasukan Inggris yang berbasis di Kenya, dalam membantu memerangi militan al-Shabab di Somalia.

Kunjungan PM May ke Nairobi akan menjadi yang pertama kali dilakukan oleh perdana menteri Inggris sejak Margaret Thatcher pada 198 silam. Kunjungan tersebut juga menjadi hal perdana ke kawasan Sub Sahara setelah terakhir oleh David Cameron pada 2013.

Seorang juru bicara Downing Street --kantor perdana menteri Inggris-- menambahkan: "PM akan menggunakan kunjungan untuk mengumumkan dukungan lebih lanjut dalam mengatasi ketidakstabilan di seluruh wilayah (Afrika), karena negara-negara di sana tidak bisa makmur tanpa itu."

Lanjutkan Membaca ↓