Donald Trump Perintahkan Menlu AS Tunda Lawatan ke Korea Utara, Ada Apa?

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 25 Agu 2018, 13:33 WIB
Diperbarui 27 Agu 2018, 13:13 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AP PHOTO)

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (24/8) meminta Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo untuk menunda perjalanannya ke Korea Utara.

Alasannya, tak ada perkembangan berarti terkait denuklirisasi di Semenanjung Korea, seperti yang telah dijanjikan Kim Jong-un. 

Pernyataan itu disampaikan oleh Donald Trump, lewat akun Twitternya @realDonaldTrump. Padahal, Pompeo sendiri dijadwalkan akan bertolak ke Korut dalam waktu dekat.

Pada cuitan selanjutnya, Donald Trump menyalahkan China atas mandegnya proses negosiasi dengan Korea Utara.

Ia pun menyebut, pembicaraan dengan Pyongyang ditahan hingga Washington menyelesaikan perselisihan dagangnya dengan Beijing.

Meski demikian, Donald Trump juga menyampaikan salamnya kepada Presiden Korea Utara, Kim Jong-un. Ia pun berharap agar dapat kembali dengann Jong-un dalam waktu dekat.

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Bahas Isu Nuklir?

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo (AP PHOTO)
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo (AP PHOTO)

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dikabarkan akan melakukan kunjungan keempat ke Pyongyang dalam waktu dekat, guna mengadakan perundingan nuklir dengan Korea Utara.

"Korea Utara berencana untuk menyerahkan daftar lokasi situs uji coba nuklir rahasianya serta informasi tentang hulu ledak nuklirnya ke Mike Pompeo ketika ia mengunjungi Pyongyang bulan ini," The Korea Times melaporkan, mengutip sumber yang anonim, seperti dilansir The Guardian.

The Korea Times juga mengabarkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un akan bertatap muka dengan Pompeo.

Menetapkan daftar komprehensif mengenai ukuran program nuklir dan lokasi uji coba telah lama menjadi tuntutan para perunding AS, dan akan mewakili konsesi yang signifikan dari Korea Utara --jika Pyongyang berkehendak untuk memberikannya-- dalam hal untuk mencapai denuklirisasi.

Sebagai imbalan, Pyongyang kemungkinan akan mencari pernyataan resmi dari AS tentang akhir dari Perang Korea 1950-53, yang dulu hanya berakhir dengan gencatan senjata daripada perjanjian damai.

Itu juga akan memberikan perkembangan positif tersendiri bagi sang Menlu AS, yang selama ini bersikap skeptis atas rencana denuklirisasi Korea Utara.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait