Payudara hingga Selaput Dara, Ini 7 Mitos Kuno tentang Keperawanan Gadis

Oleh Afra Augesti pada 23 Agu 2018, 21:00 WIB
Diperbarui 23 Agu 2018, 21:00 WIB
Payudara (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat yang hidup pada zaman dahulu kala sangat memegang teguh budaya leluhur dan segala sesuatunya tentang tradisi, bahkan yang sudah turun temurun, termasuk soal keperawanan seorang gadis.

Keperawanan seseorang merupakan sesuatu yang sangat berharga dan dianggap sebagai 'kehormatan' dari seorang perempuan. Namun banyak mitos beredar tentangnya. Tidak hanya pada zaman kuno saja, masyarakat modern saat ini pun masih ada yang terpatok pada 'omongan orang tua'.

Bagi kebanyakan manusia, status keperawanan seseorang dinilai sebagai sebuah 'simbol' pengendalian diri. Kehilangan keperawanan sebelum menikah dianggap 'aib' dalam sejumlah budaya dan lingkungan keagamaan.

Walaupun begitu, setidaknya masyarakat telah melupakan kepercayaan 'konyol', seperti menguji keberadaan selaput dara dengan menyuruh gadis duduk di atas tungku yang di bawahnya terdapat batu bara menyala.

Tidak hanya itu, kepercayaan untuk melakukan uji coba perawan tersebut tidak hanya dilakukan dengan batu bara, tapi juga dengan benang, reaksi binatang, dan melihat ukuran payudara yang relatif kecil.

Berikut 7 mitos yang masih dipercaya tentang keperawanan gadis, seperti dikutip dari Bustle.com, Kamis (23/9/2018).

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 8 halaman

1. Selaput Dara Berada Jauh di Dalam Vagina

Vagina - Alat Reproduksi wanita (iStockphoto)
Ilustrasi Vagina - Alat Reproduksi wanita (iStockphoto)

Ini adalah jenis mitos umum yang banyak beredar di masyarakat bahwa selaput dara berada jauh di dalam vagina. Faktanya, selaput dara berada sangat dekat dengan bbibir vagina, setidaknya berjarak 1 hingga 2 inci.

3 dari 8 halaman

2. Berdarah Saat Hilang Keperawanan

Vagina Alat Kelamin Perempuan
Ilustrasi Foto Vagina (iStockphoto)

Pendarahan saat hilang keperawanan tidak selalu berkaitan selaput dara, sebab selaput dara adalah jaringan yang sangat tipis dan memiliki sedikit darah.

Sebaliknya, perdarahan biasanya ada hubungannya dengan jaringan di dalam vagina itu sendiri, yang halus dan memiliki banyak sel darah. Selain itu, ada juga anggapan yang menyebut bahwa rasa sakit yang timbul ketika pertama kali berhubungan intim disebabkan karena robeknya selaput dara. Ini adalah kesalahan besar.

Korona vagina dapat sobek beberapa kali selama hidup seseorang. Hal ini bergantung pada tingkat kekuatan dan ketebalan korona vagina tersebut. Korona vagina sebenarnya cukup lentur dan bisa melar ketika menghadapi 'tekanan' kecil.

Menurut sebuah survei, 63 persen gadis perawan mengaku tidak mengalami rasa sakit ketika melakukan seks untuk pertama kalinya. Rasa sakit yang timbul ketika seseorang kehilangan keperawanan bisa disebabkan karena alat kelamin perempuan tersebut dalam kondisi kering.

4 dari 8 halaman

3. Gadis Perawan Jarang Buang Air Kecil

Vagina Alat Kelamin Perempuan
Ilustrasi Foto Vagina (iStockphoto)

Pada zaman dulu orang-orang percaya bahwa gadis perawan lebih jarang buang air kecil.

Tabib kala itu -- seperti Pliny the Elder hingga dokter Abad Pertengahan asal Jerman, Albertus Magnus -- percaya bahwa tubuh seorang perempuan tak perawan lebih 'bocor'. Artinya, sang perempuan tersebut akan lebih sering kencing.

Ada sejumlah mitos untuk menguji keperawanan gadis. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan lignite atau batu bara muda yang dimasukkan ke dalam air dan kemudian diminum.

Waktunya akan dihitung, berapa lama yang dibutuhkan oleh seorang perempuan untuk buang air kecil. Jika sangat lama, mengartikan perempuan itu masih perawan. Namun jika cepat, wanita itu akan dinyatakan tidak lagi perawan.

Salin itu, cara lainnya yakni dengan membakar lignite dan meletakkannya di antara kaki sang gadis. Jika dia bisa mencium bau asapnya, hal itu menandakan bahwa dia tidak perawan karena vaginanya telah ditembus asap, sehingga mengakibatkan asap tersebut masuk lewat vagina ke dalam tubuhnya.

5 dari 8 halaman

4. Tes Keperawanan dengan Benang

Vagina Alat Kelamin Perempuan
Ilustrasi Foto Vagina (iStockphoto)

Di kalangan sejumlah masyarakat kuno, benang menjadi alat penguji keperawanan seorang perempuan. Hal itu dikemukakan oleh Helkiah Crooke. Ironisnya, ia yang merupakan seorang dokter terhormat pada masa Raja James I pada awal 1600-an, juga dikenal dengan hasil kerjanya dalam bidang anatomi.

Jadi, menurut Crooke jika sehelai benang ditarik dari puncak hidung seorang perempuan ke dasar tengkoraknya, kemudian ukuran itu muat ketika dilingkarkan di leher, maka dia masih perawan. Sebaliknya, jika panjang benang tersebut tidak pas dengan lingkar leher, maka dia dianggap tak lagi perawan.

6 dari 8 halaman

5. Mandi Darah Perawan Bikin Awet Muda

Ilustrasi darah
Ilustrasi darah. (iStock)

Mitos satu ini sering didengar dalam kisah-kisah horor. Namun, praktik mandi darah perawan pernah dilakukan oleh bangsawan Slovakia, Elizabeth Bathory.

Tak ada yang tahu berapa jumlah gadis yang telah dibunuhnya, tapi dialah yang bertanggung jawab atas kematian perempuan muda dan perawan di Kastil Hungaria.

Pada awal 1600-an, Bathory menyiksa banyak gadis dengan metode penyiksaan yang memungkinkan mereka mengeluarkan banyak darah. Sejarah mengatakan, dia meminum darah gadis tersebut. Sedangkan beberapa kabar menyatakan, Bathory menggunakan darah korbannya untuk mandi darah.

Tindakan ini dilakukan Bathory karena perempuan itu menduga, dengan minum dan mandi darah perawan dia akan tetap cantik dan awet muda.

7 dari 8 halaman

6. Hewan Bisa Mendeteksi Selaput Dara yang Masih 'Rapat'

Ilustrasi harimau putih. (AFP)
Ilustrasi harimau putih. (AFP)

Satu lagi mitos yang beredar pada zaman dulu kala, yakni keperawanan seseorang bisa terdeteksi dari reaksi alami hewan dan tumbuhan saat disentuh oleh seorang gadis. Menurut anggapan tersebut, perawan dapat menjinakkan hewan buas, seperti unicorn yang merupakan hewan mistis liar dan sulit untuk ditaklukan.

Contoh lainnya menyebut, pada Abad Pertengahan ada seorang perempuan Romawi tersesat di hutan rimba. Di sana, banyak binatang buas mengintainya, termasuk harimau. Gadis yang seharusnya sudah bisa diserang dan dimangsa harimau itu justru mampu menjadikan hewan liar tersebut bak kucing peliharaan.

Orang-orang yakin karena sang gadis masih perawan.

Mitos lainnya yang dituliskan dalam buku karangan pemikir Jerman, Heinrich Kornmann pada 1619 menyebut, perawan lebih menderita karena gigitan kalajengking, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak lagi perawan.

Selain itu, konon setiap kali seorang gadis perawan memetik hasil panen pertama, maka tanaman tersebut akan mati.

Masyarakat Yunani Kuno juga percaya bahwa ular hanya mau diberi makan oleh seorang perempuan yang masih 'suci'.

Sementara itu, warga Inggris zaman dahulu percaya, bila ada perempuan yang dapat berjalan di antara kerumunan serangga tanpa disengat, berarti dia masih perawan.

8 dari 8 halaman

7. Bentuk Payudara Kecil

Payudara (iStock)
Ilustrasi payudara. (iStockphoto)

Menurut buku tulisan Hanne Blank, Virgin: The Untouched History, salah satu cara terbaik untuk menentukan keperawanan seseorang adalah dengan cara melihat payudaranya.

Jika gadis itu memiliki payudara yang lebih kecil, puting berwarna merah muda dan 'naik', maka dia masih perawan.

Hal ini diakibatkan kerana dulu masyarakat percaya bahwa jika seseorang pernah mengandung, maka dia akan memiliki payudara yang lebih besar dan lebih 'turun'.

Ada pula yang percaya bahwa jika sperma memasuki vagina perempuan, protein tersebut akan 'berenang' di dalam payudaranya dan membuat dada perempuan lebih besar.

Lanjutkan Membaca ↓