Haus dan Lapar, Kawanan Burung Emu Menyerbu Permukiman di Australia

Oleh Afra Augesti pada 21 Agu 2018, 05:00 WIB
Diperbarui 21 Agu 2018, 05:00 WIB
Burung Emu di Healesville Sanctuary Park. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Burung Emu di Healesville Sanctuary Park. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Liputan6.com, Canberra - Kekeringan ekstrem melanda sebagian besar wilayah Australia. Termasuk ke lahan luas yang menjadi habitat burung emu (Dromaius novaehollandiae).

Akibatnya, kawanan burung asli Australia tersebut menyerbu pemukiman di Broken Hill, sebuah kota tambang di pedalaman New South Wales.

Menurut pihak lembaga penyelamat satwa, burung besar tanpa sayap tersebut putus asa mencari makanan dan air.

"Mereka berkeliaran di jalan utama. Kami melihat kerumunan burung itu," kata petugas penyematan satwa, Emma Singleton seperti dikutip dari BBC News, Senin (20/8/2018).

Media ABC Australia melaporkan, di Broken Hill, yang jaraknya sekitar 935 kilometer di barat Sydney, kawanan burung emu terlihat berkeliaran di jalan utama, memakan tanaman di kebun-kebun warga, dan menerobos ke lapangan tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola.

"Mereka sudah ada di kota itu selama berminggu-minggu, warga lokal di sana memberikan makanan dan minuman untuk hewan-hewan itu."

Di sisi lain, Emma Singleton mengungkapkan, pihaknya menerima dua atau tiga panggilan telepon per hari dari warga yang khawatir atas kehadiran burung-burung besar itu.

Setidaknya, sudah ada lima emu yang mati tertabrak mobil pekan lalu di New South Wales, Australia. Namun, menurut Singleton, kekhawatiran terbesar mereka adalah serangan anjing ke burung-burung tersebut.

 

Saksikan video menarik berikut ini: 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kekeringan Ekstrem

Australia Tenggara Alami Kekeringan
Perbesar
Rangkaian kereta melintasi padang yang terdampak kekeringan di Quirindi, New South Wales, Australia, 7 Agustus 2018. Di beberapa daerah yang kering, badai debu memaksa anak-anak mengenakan masker pelindung di peternakan. (GLENN NICHOLLS/AFP)

Sementara itu, Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull mengumumkan bantuan tambahan untuk para petani yang kesusahan akibat kekeringan.

"Saya ingin mengatakan pada para petani, kami mendukung Anda," kata Malcolm Turnbull kepada jurnalis, saat mengumumkan peningkatan dana senilai 1,8 miliar dolar Australia untuk membantu mengatasi kekeringan ekstrem di New South Wales.

Negara bagian paling padat penduduknya itu, yang menyumbang seperempat dari seluruh hasil pertanian yang dihasilkan Australia, secara resmi dinyatakan dalam kondisi kekeringan sepenuhnya pada 8 Agustus 2018.

Sebagian New South Wales mengalami curah hujan rendah pada bulan Juli, kurang dari 10 mm.

Selain gagal panen, para petani harus berjuang keras untuk tetap bisa memberi makan ternak peliharaan mereka. PM Turnbull mengatakan, beberapa petani terpaksa menghabiskan uang hingga 10.000 dola Australia untuk satu truk jerami.

Pada  Jumat lalu, konvoi yang terdiri atas 23 truk, yang membawa membawa 2.300 bal jerami, untuk lebih dari 200 petani, tiba di New South Wales dari Australia Barat, sekitar 3.500 km jauhnya.

Kekeringan juga memicu kebakaran semak di New South Wales.

Lanjutkan Membaca ↓