Perdana dalam Sejarah, Amerika Serikat Punya Calon Gubernur Transgender

Oleh Afra Augesti pada 15 Agu 2018, 17:05 WIB
Diperbarui 17 Agu 2018, 16:13 WIB
Calon Gubernur Transgender

Liputan6.com, Montpelier - Banyak yang belum mengenal sosok Christine Hallquist, seorang transgender di Vermont, Amerika Serikat. Namanya kini tengah disorot media lokal dan internasional lantaran dirinya mencalonkan diri sebagai gubernur Vermont.

Bila dia terpilih nantinya, maka ia akan mencetak sejarah baru sebagai gubernur transgender pertama di Amerika Serikat, mewakili partai pengusungnya, Demokrat.

Hallquist membawa sejumlah visi dan misi untuk diajukan selama kampanye nanti, yaitu ingin memajukan platform progresif yang terfokus pada ekonomi dan keadilan sosial, termasuk upah minimum sebesar $ 15 atau sekitar Rp 219 ribu, pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta memperluas akses layanan internet.

Meski dia merupakan seorang transgender, namun Hallquist berhasil menyingkirkan para penantangnya di putaran pertama. Dia memimpin dengan mengantongi 39 persen suara, menurut hasil tidak resmi dari sebuah survei.

"Saya sangat bangga bisa mewakili Partai Demokrat malam ini," kata Hallquist, berbicara di hadapan para pendukungnya di sebuah pesta kemenangan pada Selasa malam, 14 Agustus 2018 waktu setempat.

Apabila benar-benar terpilih, nantinya Hallquist akan mereformasi sistem pendidikan di kotanya, memberlakukan upah layak bagi buruh, dan pengobatan merata. Dengan demikian, dia juga menjadi gubernur transgender pertama di negara adidaya itu.

Pada pemilihan umum yang jatuh November tahun ini, Hallquist akan menghadapi petahana Phil Scott. Wali Kota Houston, Annise Parker --yang merangkap presiden LGBTQ Victory Fund-- menuturkan bahwa Hallquist menjadi penentu kesetaraan gender di kotanya.

"Kemenangan Christine adalah momen yang menentukan untuk kesetaraan transgender dan ini adalah hal yang sangat luar biasa, mengingat masih sedikitnya pejabat dari kalangan transgender di tiap tingkat pemerintahan," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari ABC, Rabu (15/8/2018).

Hallquist bergabung dengan tiga kandidat LGBTQ untuk pencalonan gubernur pada tahun 2018-- jumlah yang ttinggi secara historis. Mereka adalah Lupe Valdez dari Texas, Kate Brown dari Oregon dan Jared Polis dari Colorado, semuanya berasal dari Partai Demokrat dan pendukung LGBTQ.

Hallquist adalah mantan CEO dari Vermont Electric Cooperative. Dia menekankan bahwa media asing kerap memfokuskan pemberitaan mengenai dirinya dari sudut "wanita transgender".

Padahal dia juga ingin dipandang sebagai insinyur, inovator dan seseorang yang maju.

Selama putaran pertama, Hallquist menerima dukungan dari Justice Democrats --komite aksi politik progresif yang didirikan oleh mantan pemimpin kampanye Bernie Sanders, termasuk The Young Turks 'Cenk Uygur' yang membantu "superstar" sayap kiri Alexandria Ocasio-Cortez meraih kemenangannya atas New York awal musim panas ini.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Pertama Kalinya, Transgender Berebut Kursi Parlemen Pakistan

Maria Khan, wanita transgender yang berebut kursi parlemen di Pakistan. (Maria Khan)
Maria Khan, wanita transgender yang berebut kursi parlemen di Pakistan. (Maria Khan)

Peran transgender di kursi pemerintahan tak hanya terjadi di Negeri Paman Sam. Maria Khan, seorang transgender asal Pakistan pun menjalani hal serupa. Dia terjun ke dunia politik dan giat melakukan kampanye dari pintu ke pintu di provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KPK).

"Saya ingin berbicara untuk rakyat Pakistan, mewakili mereka dan membantu mengakhiri masalah mereka," katanya kepada Al Jazeera yang dikutip Jumat 20 Juli 2018.

Wanita transgender berusia 38 tahun dari Mansehra, sebuah kota di timur Pakistan yang dikelilingi oleh pegunungan hijau itu tengah berkampanye untuk Pemilu Pakistan 25 Juli lalu. Ia maju sebagai kandidat independen.

Akan ada dua pemilihan, satu untuk dewan legislatif (DPR), lainnya untuk majelis provinsi (DPRD).

Khan adalah satu dari 11 orang transgender di Pakistan yang bertarung memperebutkan kursi majelis provinsi - dua lainnya mengajukan diri untuk kursi DPR. Demikian menurut pengumuman pada Rabu 18 Agustus di sebuah konferensi oleh All Pakistan Transgender Election Network and Election Commission of Pakistan.

Ini adalah tahun pertama mereka menyalonkan diri sebagai kandidat transgender, setelah undang-undang yang menjamin hak mereka disahkan pada Mei lalu.

"Saya melihat diri saya duduk di kursi dewan dalam beberapa minggu ke depan, saya tidak akan berhenti sekarang," kata Khan.

Wanita yang terlahir sebagai Alamgir Khan itu adalah satu-satunya transgender yang mencalonkan diri sebagai salah satu anggota parlemen Khyber Pakhtunkhwa. Ia akan mengambil satu dari 99 kursi dan melawan tiga orang dari konstituensi PK31 Mansehra. Menurut Komisi Pemilihan, total sebanyak 1.165 kandidat akan bersaing.

Setidaknya sebanyak 500.000 orang mengidentifikasi diri mereka sebagai transgender di Pakistan.

Menurut kelompok advokasi Aliansi TransAction, anggota komunitas transgender hingga kini terus mengalami pelecehan verbal dan fisik, meskipun Undang-undang Transgender Persons (Perlindungan Hak) disahkan pada bulan Mei -- yang menjamin hak seperti warisan dan mencalonkan diri untuk jabatan publik atau berkumpul dan melarang diskriminasi.

Undang-undang itu juga mengizinkan warga Pakistan untuk mengidentifikasi diri sebagai pria, wanita atau campuran dari kedua jenis kelamin, dan untuk memiliki identitas yang terdaftar di dokumen resmi.

Kembali di Mansehra, Khan mengatakan bahwa meskipun diberhentikan dari beberapa perguruan tinggi dan universitas karena jenis kelaminnya, ia terus berusaha untuk melanjutkan pendidikannya.

Kini ia tengah menuju diploma pariwisata dan perhotelan dari Universitas Hazara.

Simbol dalam pemilihannya adalah seekor domba, binatang yang mewakili pengorbanan.

"Kami mengorbankan domba untuk memberi kami makan, saya ingin mengorbankan segala sesuatu yang saya sayangi untuk rakyat saya," katanya.

Saadia Shah, seorang profesor yang berbasis di Mansehra, mendukung tawaran Khan.

"Orang-orang ini (kandidat transgender) harus diberi kesempatan untuk menjalankan kantor-kantor pemerintah, karena mereka menghadapi kesulitan, sehingga mereka akan memahami kami," katanya kepada Al Jazeera. "Tetapi bahkan jika dia menang, aku khawatir dia tidak akan dianggap serius atau dia bisa diserang."

Anees Ahmed, pendukung lainnya, mengatakan: "Dia bekerja sangat keras untuk menang. Ketulusan adalah apa yang diinginkan kebanyakan orang, jadi saya akan memilihnya juga."

Sebagai transgender, Khan mengatakan dia telah ditindas dan ditertawakan dalam perebutan kursi itu, dan mengklaim poster kampanyenya telah dirobek. Namun dia bersikeras untuk memenangkan kompetisi demi mengabdi pada masyarakat.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by