Paparkan Konsep Indo-Pasifik ke ASEAN, Menlu Retno Marsudi: Semua Dukung Sentralitas ASEAN

Oleh Afra Augesti pada 08 Agu 2018, 19:15 WIB
Diperbarui 08 Agu 2018, 19:15 WIB
Akrabnya Menlu Retno Bersama Julie Bishop saat Hadiri Pertemuan Menlu se-Asean
Perbesar
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi (tengah) foto bersama dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop (kanan) saat menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri Asean ke-7 di Manila, Filipina (7/8). (AFP Photo/Pool/Aaron Favila)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi baru saja mengadiri sejumlah acara penting di Singapura pekan lalu, di antaranya ialah pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-51 dan Post Ministerial Conference ke-19 yang diselenggarakan pada tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2018.

Di sana, Menlu Retno menghadiri 19 rangkaian pertemuan tingkat Menlu ASEAN, antara lain ASEAN Ministerial Meeting Plenary dan Retreat, ASEAN Regional Forum, 19th ASEAN Plus Three, 8th East Asia Summit, SEANWFZ, AICHAR Interface, serta pertemuan ASEAN dengan berbagai Mitra Wicaranya.

Selain serangkaian pertemuan Menlu ASEAN, Retno Marsudi juga melakukan sekitar 12 pertemuan bilateral. Pertemuan ASEAN dan Mitra Wicara ASEAN pada tingkat Menteri Luar Negeri tersebut membahas mengenai Review of Cooperation and Future Direction ASEAN serta Exchange of Views on International and Regional Issues.

Beberapa isu yang menjadi perhatian Indonesia dalam pertemuan antar menlu ASEAN itu antara lain mengenai kerja sama penanggulangan terorisme, pemajuan perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), ekonomi kreatif, kerja sama penanganan resiko bencana, dan yang paling terbaru adalah pengenalan konsep Indo-Pasifik.

Ketika ditemui wartawan dalam peringatan 51 tahun ASEAN di Jakarta, mantan duta besar Indonesia untuk Belanda ini mengklaim bahwa seluruh negara-negara anggota ASEAN mendukung ide yang dipaparkan Indonesia dalam pertemuan tersebut. 

"Ini terasa sekali di EAS (East Asian Summit) kemarin, kelihatan sekali. Hampir semua negara tetap berikan dukungannya terhadap sentralitas ASEAN, bahkan di dalam pengembangan konsep Indo-Pasifik," kata Retno Marsudi usai memberika pidato pembuka peringatan 51 tahun ASEAN, Rabu (8/8/2018) di Sekretariat ASEAN, Jakarta.

Dia yakin bahwa sentralitas ASEAN bisa maju dengan pesat dan apabila hal ini diakui oleh semua pihak dan mitra, maka persatuan negara-negara ASEAN bisa terjaga. Sedangkan terkait Indo-Pasifik dan ASEAN, Retno mengatakan, nantinya konsep tersebut akan menjadi konsep bagi ASEAN dan ASEAN akan menjadi pusat diskusi mengenai Indo-Pasifik.

"Membahas satu konsep kerja sama baru bukan bicara satu hari, minggu, bulan, bahkan satu tahun. Tapi at least Indonesia sudah menyampaikan konsepnya, sudah edarkan perspektif, dan sudah konsultasi dengan negara ASEAN. Bahkan di AMM/PMC (ASEAN Foreign Ministers' Meeting / Post Ministerial Conference) kemaren, kita terjunkan satu tim khusus untuk lobi diskusi lebih lanjut mengenai masalah konsep Indo-Pasifik," jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya enggan menyebut soal target terealisasikannya konsep tersebut.

"Ini proses enrichment yang terus berjalan dan masing-masing (anggota ASEAN) punya perspektif. Ini yang harus kita tampung. Kekuatan ASEAN mampu menerima masukan, (lalu) dijadikan satu. Konsep ASEAN bukan tentang siapa yang menciptakan threat, tapi justru merangkul jadi kerja sama dan memperkokoh habit of dialogue," pungkas Retno Marsudi.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Melihat Kesiapan Asia Tenggara Menerima Kehadiran Kekuatan Besar Global

Suasana diskusi USINDO tentang isu pengaruh China dan AS di kawasan Asia Tenggara (Liputan6.com/Happy Ferdian Syah Utomo)
Perbesar
Suasana diskusi USINDO tentang isu pengaruh China dan AS di kawasan Asia Tenggara (Liputan6.com/Happy Ferdian Syah Utomo)

Sementara itu, jika negara super power global lainnya ingin masuk ke peta geopolitis suatu kawasan, tidak terkecuali Asia Tenggara, maka investasi berkualitas adalah kunci utamanya.

Pendapat yang disampaikan oleh kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Dr Siswo Pramono itu merupakan tanggapan terhadap adu pengaruh berbagai kekuatan global di kawasan Asia Tenggara.

"Tentunya investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi, atau dengan kata lain mendukung ketahanan nasonal. Hal ini jika terpelihara baik, dan kemudian dibawa ke forum regional ASEAN, maka dapat memberikan daya tawar tinggi kawasan," jelas Dr Pramono ketika ditemui di sebuah diskusi publik, yang digelar oleh Komunitas Amerika Serikat Indonesia (USINDO), pada Jumat 27 Juli 2018, di Jakarta.

Ditambahkan olehnya, bahwa investasi bukan sekadar tanam modal, melainkan juga harus menyertakan tiga manfaat utama, yang terdiri dari tingkat inovasi tinggi, hasil litbang yang teliti, dan memenuhi standar internasional.

Ketiga syarat di atas, menurut Dr Pramono, merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan ekonomi kawasan, yang manfaat positifnya bisa dirasakan seluruh negara anggota ASEAN.

"Itulah mengapa Indonesia menolak tegas pemecahan ASEAN oleh pengaruh China, Amerika (Serikat), dan kekuatan lainnya," ujar Dr Pramono.

"Tapi kenyataanyya, mereka (kekuatan berpengaruh) tidak bermasuk memecah, mungkin cara bicaranya yang tidak tepat dengan perspektif kita di ASEAN," lanjutnya.

Dr Pramono juga menyinggung tentang pentingnya dialog dalam menjembatani perbendaan kepentingan di kawasan Asia Tenggara, di mana hal itu disebutnya sebagai convergent of interest, atau tukar pendapat.

Menurutnya, sebuah pendapat bisa saja mirip atau memiliki kesinambungan dengan pendapat lain, sehingga ketika bertemu dalam satu forum, hal-hal tersebut dapat dikonvergensikan ke dalam komitmen nyata.

"Berbagai kepentingan pasti ada common interest-nya, meski value masing-masing berbeda. Inilah yang harus dibangun di Asia Tenggara, sekaligus membangun trust satu sama lain," pungkas Dr Pramono, seraya menyebut bahwa ASEAN adalah soko guru bagi Indonesia dan negara-negara anggota lainnya.

Lanjutkan Membaca ↓