Kabar Plastik Popok Bekas di Dalam Perut Ikan Sungai Brantas Mendunia

Oleh Afra Augesti pada 03 Agu 2018, 20:40 WIB
Diperbarui 03 Agu 2018, 20:40 WIB
Demo Limbah Popok, Aktivis Lingkungan Datangi Kementerian PUPR

Liputan6.com, Surabaya - Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), menguak fakta mengejutkan tentang ikan-ikan yang hidup di perairan Indonesia. Laporan ini sempat menjadi sorotan media internasional, salah satunya Daily Mail dari Inggris.

Empat sungai di Tanah Air, termasuk Sungai Brantas, berada di peringkat ke-20 sebagai sungai paling tercemar di dunia. Oleh sebab itu, para ilmuwan meneliti air dan ekosistem di dalamnya, termasuk ikan.

Mereka memeriksa limbah yang dikumpulkan di satu pintu gerbang air Sungai Brantas.

Sekitar 80 persen ikan yang diperiksa oleh para ilmuwan diklaim telah menelan serat plastik kecil dari popok sekali pakai atau diaper, termasuk dua spesies yang jadi bahan makanan penduduk setempat.

Mereka mengatakan, popok bekas mudah rusak di bawah sinar matahari. Benda ini kemudian berubah menjadi potongan-potongan mikroskopis yang mudah ditelan oleh ikan, lalu berpindah ke tubuh manusia melalui daging ikan.

Gambar ini adalah gambar mikroskopis dari perut ikan, dengan serat popok yang disorot. (Ecoton)

Perlu diingat bahwa potongan mikroskopis dari popok bekas mengandung serat beracun yang berbahaya bagi kesehatan tubuh seseorang. Bahkan mereka yang tidak mengonsumsi ikan juga berisiko terkena pencemaran, yakni melalui air yang diambil atau diolah dari Sungai Brantas.

Setelah 30 kali pembersihan dilakukan di pintu air selama 12 bulan, para peneliti menggarisbawahi bahwa setengah metrik ton sampah plastik dibuang ke sungai terpanjang di Provinsi Jawa Timur ini setiap tahun.

Peneliti juga mengumpulkan anggota 21 spesies ikan di pintu air dan memeriksa isi perutnya. Tim menemukan serat plastik dari diaper di 80 persen ikan yang mereka periksa, termasuk rengkik, nila, keting, bader putih dan jendil.

Andreas Agus, seorang peneliti dari Ecoton, mengatakan bahwa warga di kota terdekat Surabaya biasanya makan ikan keting dan rengking.

Sementara itu, Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi berkata, "Ketika popok sekali pakai terendam dalam air dan terkena sinar matahari, seiring waktu berjalan, benda ini akan terurai menjadi potongan-potongan yang lebih kecil."

"Ikan-ikan di Sungai Brantas itu menelan potongan-potongan tersebut, yang dapat mengkontaminasi daging ikan. Ketika orang makan ikan, plastik akan berpindah ke tubuh mereka," ujar Prigi seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (3/8/2018).

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Imbauan Kepada Warga

Demo Limbah Popok, Aktivis Lingkungan Datangi Kementerian PUPR
Sejumlah Aktivis Lingkungan menggunakan pakaian antiradiasi dan masker melakukan aksi protes pencemaran sungai Brantas di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta, Jumat (19/1). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Tim peneliti Ecoton menyebut, 3 juta pelanggan air keran di Surabaya berada dalam bahaya. Kelompok ini mendesak para pejabat untuk melindungi sungai-sungai di Indonesia dari limbah padat, terutama popok sekali pakai.

Ecoton juga meminta masyarakat untuk beralih menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali, demi mengurangi limbah.

"Konsumen harus mengubah perilaku mereka ke produk yang lebih ramah lingkungan, agar hidup kita semakin tidak terancam," kata Agus.

Juru bicara otoritas Jawa Timur mengatakan, walikota setempat telah diminta untuk membangun lebih banyak fasilitas penampungan limbah dan menginstruksikan warganya untuk tidak membuang sampah ke sungai.

Trash Free Seas Alliance (TFSA), sebuah LSM Amerika Serikat, mengungkapkan pada bulan Desember bahwa mikro-plastik telah ditemukan pada 28 persen ikan di pasar Indonesia.

Mikro plastik berasal dari sampah plastik yang masuk sungai dan berakhir di laut.

Lanjutkan Membaca ↓