Salah Sasaran, Polisi Swedia Tembak Mati Pemuda yang Bawa Pistol Mainan

Oleh Tanti Yulianingsih pada 03 Agu 2018, 12:05 WIB
Ilustrasi garis polisi

Liputan6.com, Stockholm - Polisi Swedia di Stockholm menembak seorang pemuda yang membawa pistol mainan. Petugas mengira bahwa senjata itu sungguhan dan membahayakan banyak orang. Akibatnya, lelaki bernama Eric Torell ini tewas seketika di tempat kejadian.

Aparat terpaksa menembak Eric sebagai respons yang mereka sebut "situasi mengancam" pada Kamis, 2 Agustus 2018 pagi waktu setempat. Sementara itu, media lokal melaporkan bahwa Torell memiliki riwayat down syndrome dan autisme.

"Eric dilaporkan hilang setelah meninggalkan rumah beberapa jam sebelumnya," kata keluarga korban seperti dikutip dari BBC, Jumat (3/8/2018).

Ibu Eric, Katarina Söderberg, mengatakan pistol mainan yang membuat anaknya terbunuh itu adalah hadiah. Dia menyebut bahwa putranya adalah "anak paling baik di dunia".

Söderberg mengatakan kepada kantor berita Swedia Expressen, bahwa Eric kesulitan berbicara dan hanya mampu mengucapkan dengan benar kata "mum". Dia lalu menggambarkan mainan plastik yang dia bawa pada saat penembakan menyerupai senapan mesin ringan.

"Insiden itu sulit dimengerti. Dia bahkan tak akan melukai seekor lalat, bagaimana bisa terlihat akan menyakiti orang lain," kata Söderberg.

Insiden itu terjadi sekitar pukul 04.00 waktu setempat di Distrik Vasastan di ibu kota Swedia, Stockholm, setelah polisi menanggapi laporan seorang pria yang memiliki senjata."

Tiga petugas dilaporkan tiba di tempat kejadian dan mendekati pria 20 tahun itu. Petugas lalu memerintahkan Eric untuk membuang apa yang mereka yakini sebagai senjata berbahaya. Dia kemudian ditembak karena tak mematuhi perintah dan bertindak "mengancam", kata polisi.

Eric sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong karena luka tembakan itu parah.

Söderberg mengatakan bahwa putranya telah meninggalkan rumah beberapa kali sebelumnya, tetapi selalu ditemukan atau dipulangkan.

"Investigasi atas kemungkinan adanya pelanggaran yang dilakukan polisi, sedang dilaksanakan," lapor kantor berita Swedia itu.

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 of 2

Kafe Down Syndrome

Restoran
Ilustrasi kafe. (iStockphoto)​

Berbicara soal down syndrome, sebuah kafe di Istanbul, Turki, menjadi tajuk utama dengan hanya mempekerjakan orang-orang penyandang down syndrome. Staf kafe yang disebut Down Cafe ini adalah pemuda-pemudi berusia 19 sampai 25 tahun, dan bertujuan memberdayakan mereka agar mandiri dan percaya diri.

Saruhan Singen, yang mendirikan kafe di Distrik Sisli Istanbul, Turki, mengungkapkan bahwa kafe ini terinspirasi dari pengalamannya membesarkan anak perempuan dengan down syndrome. Kini putrinya juga bekerja di kafe.

"Bagi saya, Sezil merupakan berkah dan membantu saya mengerti orang-orang lain seperti dirinya," tutur Singen pada Oddity Central, Jumat 3 Juli 2015. "Saat kita berpikir tentang jumlah orang pengidap down syndrome, tidak banyak pilihan karier yang tersedia.”

Menurut Asosiasi Nasional Down Syndrome Turki, hampir 15 ribu bayi yang dilahirkan setiap tahunnya menyandang down syndrome. Artinya, diperkirakan saat ini ada 100.000 orang dengan down syndrome tinggal di Turki.

"Perawatan medis yang maju adalah penting bagi mereka yang berkebutuhan khusus, namun lebih penting lagi untuk kita membantu mereka hidup mandiri dan penuh arti sebisa mungkin."

Singen mengaku, saat pertama kali membuka kafe di tahun 2011, bisnisnya berjalan lambat. Orang-orang ragu untuk datang ketika mengetahui tentang sistem staf yang tidak biasa. Namun, mereka yang sudah datang bisa menghargai suasana kafe begitu rasa kaget mereka hilang. Tidak lama, kafe pun dipenuhi pelanggan.

"Saya rasa kafe ini juga mambantu orang-orang menghilangkan prasangka mereka terhadap kaum difabel, dan memberi kesempatan bagi mereka penyandang down syndrome untuk membuktikan diri dan menunjukkan bakat mereka," ungkap Singen.

"Mereka ingin punya teman, mereka ingin diterima oleh masyarakat, dan mereka ingin bakatnya diakui. Inilah mengapa kita perlu sponsor, donor, dan yang paling penting pengunjung untuk meningkatkan jumlah kafe seperti Down Cafe."

Down Cafe merupakan proyek gabungan Istanbul Foundation for Mentally Disordered People dan kotamadya Sisli, disponsori oleh Alternative Life Association. Tempat ini buka dari jam 09.00 sampai 17.00 pada hari kerja, dan bisa menampung 40 pengunjung.

Lanjutkan Membaca ↓