Tiga Jurnalis Investigasi Rusia Dibunuh Saat Meliput di Afrika Tengah

Oleh Afra Augesti pada 01 Agu 2018, 11:31 WIB
Diperbarui 01 Agu 2018, 11:31 WIB
Wartawan Rusia Dibunuh
Perbesar
Karangan bunga ditebarkan di Central House of Journalists di Moskow untuk mengenang tiga wartawan Rusia yang tewas di Republik Afrika Tengah. (Sergei Savostyanov / TASS)

Liputan6.com, Bangul - Tiga wartawan Rusia dilaporkan tewas dalam sebuah serangan yang terjadi di Sibut, Republik Afrika Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh para pejabat dari kedua negara pada Selasa, 31 Juli 2018.

Awal kejadian bermula saat ketiganya meninggalkan kota itu pada Senin malam, sekitar pukul 19.00 waktu setempat dengan menyewa sebuah mobil beserta sopir. Menurut seorang wakil pejabat Sibut, Marcelin Yoyo, mereka diserang secara tiba-tiba oleh 10 pria tak dikenal di sebuah desa, sekitar 23 kilometer (14 mil) dari Sibut.

"Pasukan keamanan yang berjaga di sana sudah mewanti-wanti agar mereka tidak pergi, karena hari sudah gelap," ucap Yoyo seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (1/8/2018). "Tapi mereka tetap nekat. Lalu kami menerima kabar bahwa ketiganya diculik oleh sekitar 10 orang berserban dan hanya bisa berbicara bahasa Arab."

Yoyo menambahkan, para wartawan Rusia itu langsung dieksekusi di tempat kejadian perkara, sementara pengemudi yang membawa kendaraan mereka berhasil melarikan diri. Ia memberi tahu pihak berwenang pada Selasa pagi.

Vladimir Monteiro, juru bicara PBB di Republik Afrika Tengah, mengatakan jenazah para korban telah ditemukan dan dibawa ke rumah sakit yang dibangun oleh badan tersebut di Sibut. Namun, ia tidak mengungkapkan mengenai identitas lengkap mereka.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut bahwa ketiga jurnalis yang dibunuh ialah Kirill Radchenko, Alexander Rastorguyev dan Orkhan Dzhemal. Hingga berita ini dibuat, pemerintah Negeri Beruang Merah mengaku sedang berupaya untuk memulangkan jasad ketiga wartawan tersebut ke negara asalnya.

Seorang juru bicara pemerintah Republik Afrika Tengah, Ange Maxime Kazagui, mengatakan bahwa kementerian komunikasi, keamanan dan pertahanan publik tidak mengeluarkan akreditasi kepada ketiga wartawan itu. Meski demikian, pemerintah setempat telah meluncurkan penyelidikan atas serangan tersebut.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Meliput Perusahaan Swasta Rusia di Republik Afrika Tengah

Pasukan patroli penjaga perdamaian PBB di Bangui, Republik Afrika Tengah (AFP)
Perbesar
Pasukan patroli penjaga perdamaian PBB di Bangui, Republik Afrika Tengah (AFP)

Radchenko, Rastorguyev, dan Dzhemal tengah menggarap sebuah film dokumenter dengan menggandeng agen media investigasi yang dijalankan oleh gembong Rusia, Mikhail Khodorkovsky. Media pemerintah TASS melaporkan, para wartawan itu sedang meliput kisah dari perusahaan swasta Rusia yang beroperasi di Republik Afrika Tengah.

Perusahaan tersebut dikenal memiliki pemasukan dari kekayaan mineral yang diolahnya, termasuk uranium. Padahal, Republik Afrika Tengah merupakan salah satu negara termiskin dan paling tidak stabil kondisi perekonomiannya di dunia.

Hal ini terjadi setelah pemimpin yang paling lama berkuasa di negara itu, François Bozize (menjabat sebagai Presiden Republik Afrika Tengah sejak 15 Maret 2003 hingga 24 Maret 2013), digulingkan oleh aliansi Muslim pemberontak pada 2013.

Sedangkan Faustin-Archange Touadéra, Perdana Menteri Republik Afrika Tengah yang menggantikan posisi Bozize untuk sementara waktu, hanya bisa menguasai sedikit wilayah yang berada di luar Bangui, ibu kota negara itu.

Ia memerintah dengan dibantu oleh pasukan keamanan PBB sebanyak 13.000 tentara dan polisi, mengingat sebagian besar Republik Afrika Tengah dikendalikan oleh militan yang mengklaim sebagai perwakilan komunitas Kristen atau Muslim. Namun pada dasarnya, ini merupakan misi besar yang dijalankan oleh pasukan penjaga perdamaian PBB di negara tersebut dan tak ada kaitannya dengan pemerintahan Faustin.

Jadi, tindakan PBB tersebut seolah-olah ditujukan untuk menopang pemerintah Repulik Afrika Tengah dan militernya yang lemah kronis -- pengecualian terhadap embargo senjata PBB yang diberlakukan saat pecahnya konflik pada 2013.

Ketika pasukan perdamaian PBB berada di sana, banyak kelompok militan yang gemar mengeksploitasi sumber daya alam secara sembarangan, termasuk dengan cara memblokir jalan. Di satu sisi, Rusia pun telah "terjun" ke dalam urusan ini sejak Desember tahun lalu dengan mengirimkan banyak senjata.

Inggris, Prancis dan Amerika Serikat menyuarakan keprihatinan atas kejadian itu. Tiga negara ini menuntut agar pengiriman senjata dibatasi dan mendesak Rusia untuk mengambil langkah-langkah konkrit dalam mencegah penjualan senjata di pasar gelap.

Seorang panel ahli di PBB memperingatkan bahwa pasokan senjata Rusia memicu peningkatan penggunaannya di Republik Afrika Tengah. Para pemberontak juga bekerja sampingan sebagai pedagang di Sudan demi mendapatkan pasokan senjata baru.

Rusia juga telah menandatangani berbagai kesepakatan dengan pemerintah Republik Afrika Tengah sejak saat itu, termasuk keamanan ekstra untuk Faustin, penasihatnya dan juga seorang pejabat Rusia di sana.

Lanjutkan Membaca ↓