Pemerintah Ekuador Akan Putuskan Masa Depan Pendiri Wikileaks Julian Assange

Oleh Liputan6.com pada 31 Jul 2018, 10:01 WIB
Diperbarui 31 Jul 2018, 10:01 WIB
Julian Assange fo Catwalk 0614

Liputan6.com, London - Presiden Ekuador Lenin Moreno mengatakan dalam wawancara dengan surat kabar terbitan Spanyol, El Pais, bahwa negaranya tengah membicarakan nasib pendiri Wikileaks, Julian Assange.

Pemerintah Negeri Khatulistiwa Latin itu akan segera memutuskan apakah Julian Assange bisa mendapat perpanjangan suaka politik, yang didapatnya sejak 2012 lalu. 

"Soal Assange sedang diurus dengan pemerintah Inggris. Kami sudah mengadakan kontak dengan pengacaranya, supaya kami bisa mencari jalan keluar," kata Moreno, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (30/7/2018).

"Assange sudah lebih dari lima tahun dalam situasi ini dan kami harus mencari jalan keluar baginya, yang mempertahankan haknya untuk hidup," tambah Moreno tentang pendiri Wikileaks.

Assange (47) mendapat suaka dan berlindung di Kedutaan Ekuador di London pada 2012, guna menghindari ekstradisi ke Swedia dalam tuduhan tuduhan melakukan kekerasan seksual, di mana hal tersebut dibantah keras olehnya.

Tuduhan tersebut diklaim oleh Julian Assange memiliki motif politik, yang dapat membuatnyta diekistradisi ke Amerika Serikat, dan diancam hukuman penjara karena WikiLeaks menerbitkan serangkaian dokumen rahasia militer dan kawat diplomatik Negeri Paman Sam pada 2010. 

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Ekuador Keluar Biaya Besar

Presiden Ekuador-Lenin Moreno
Presiden Ekuador Lenin Moreno menghadiri upacara Hari Kemerdekaan di Quito, Ekuador, (10/8). Ekuador merayakan kemerdekaannya dari Spanyol yang dikenal sebagai ‘El Primer Grito de Independence’ or 'The First Cry of Independence.' (AP Photo/Dolores Ochoa)

Pemerintah Ekuador disebut telah membiayai operasi mata-mata bernilai jutaan dolar, untuk melindungi dan mendukung Julian Assange di kedutaan besarnya di London, Inggris.

Menurut laporan The Guardian, operasi mata-mata itu bahkan turut mempekerjakan sebuah perusahaan keamanan internasional dan agen rahasia khusus, untuk mengawasi para pengunjung, staf kedutaan dan bahkan polisi Inggris.

Selama lebih dari lima tahun, Ekuador menggelontorkan setidaknya 5 juta dolar AS (sekitar Rp 70,5 miliar) ke dalam anggaran intelijennya.

Komponen biaya tersebut, salah satunya, digunakan sebagai 'ongkos' Operasi Hotel (Operation Hotel) yang bertujuan melindungi pendiri WikiLeaks ketika ia mendapat kunjungan dari Nigel Farage, seorang anggota kelompok nasionalis Eropa yang disebut memiliki keterkaitan dengan Kremlin.

Operasi mata-mata pemerintah Ekuador itu juga dilakukan terhadap tamu-tamu Assange lainnya, termasuk peretas, aktivis, pengacara, dan jurnalis.

Menurut dokumen milik Badan Intelijen Ekuador, yang dikenal dengan nama Senain, dari Juni 2012 hingga akhir Agustus 2013, Operasi Hotel telah menghabiskan biaya sebesar 972,889 dolar AS, atau setara dengan Rp 13,7 miliar.

Jumlah tersebut digunakan untuk membiayai pembelian dan perawatan kamera pengawas yang dipasang di seluruh sudut Kedutaan Besar Ekuador di London, sejak masuknya Assange lebih dari setengah tahun lalu.

Lanjutkan Membaca ↓