Menhan James Mattis: Kabar Tentang Rencana AS Akan Menyerang Iran adalah Fiksi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 29 Jul 2018, 18:03 WIB
Diperbarui 29 Jul 2018, 18:03 WIB
Menteri Pertahanan AS James Mattis
Perbesar
Menteri Pertahanan AS James Mattis (AP Photo/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington DC - Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis menyebut kabar tentang rencana AS untuk menyerang Iran adalah "fiksi".

Seperti yang diberitakan sebelumnya, seorang pejabat senior Australia yang anonim mengatakan kepada media ABC bahwa pemerintahan Perdana Menteri Malcolm Turnbull memperkirakan, Amerika Serikat tengah bersiap menyerang fasilitas nuklir Iran.

Kemungkinan serangan bisa dilakukan secepatnya bulan depan, dan Australia diperkirakan akan dimintai bantuan untuk menentukan sasaran yang akan dibom.

Merespons kabar tersebut, Mattis menyangkal adanya rencana semacam itu.

"Saya tak tahu dari mana para media berita Australia mendapat sumber informasi semacam itu," kata Mattis pada Jumat 27 Juli seperti dikutip dari ABC.net.au, Minggu (29/7/2018).

"Saya yakin bahwa hal itu (rencana AS akan menyerang Iran) bukan sesuatu yang tengah dipertimbangkan untuk saat ini. Dan saya yakin, hal itu sepenuhnya fiksi."

Senada menegaskan, Perdana Menteri Malcolm Turnbull hari Jumat 27 Juli 2018 mengatakan bahwa dia tidak merasa bahwa Amerika Serikat sedang mempersiapkan diri bagi konfrontrasi militer.

"Presiden Trump telah membuat sikap yang jelas (terkait Iran) kepada dunia, tapi cerita itu (rencana AS akan menyerang Iran) ... muncul tanpa ada konsultasi dengan saya, dengan Menteri Luar Negeri Australia, Menteri Pertahanan Australia, dan Kepala Staf Militer Australia," kata Turnbull menyangsikan laporan tersebut.

Keterangan yang disampaikan oleh seorang pejabat senior anonim Australia itu muncul di tengah semakin meningkatnya perang kata antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Keterangan yang diperoleh ABC menyebutkan bahwa fasilitas pertahanan Australia yang dirahasiakan tempatnya akan memainkan peran menentukan target sasaran di Iran.

Pihak lain yang juga dilibatkan adalah dinas intelejen Inggris.

Narasumber yang anonim itu menekankan adanya perbedaan besar antara memberikan data intelejen akurat dan analisa mengenai fasilitas Iran dengan keterlibatan dalam proses penyerangan.

"Membantu membangun informasi yang tepat sangat berbeda dengan berpartisipasi dalam serangan." kata sumber tersebut.

"Memberikan data intelejen dan memahami apa yang terjadi di lapangan dilakukan sehingga pemerintah dan pemerintah negara sekutu lainya betul-betul mengetahui saat mengambil keputusan. Itu berbedea dengan ikut melakukan serangan."

Fasilitas pertahanan Australia yang sangat dirahasiakan, Pine Gap di Northern Territory, dianggap sangat penting di kalangan mitra intelejen "Five Eyes" --AS, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru-- dalam peran mengarahkan satelit mata-mata Amerika Serikat.

Para analis dari Organisasi bernama Australian Geospatial-Intelligence Organisation --yang tidak banyak diketahui keberadaannya-- juga diperkirakan akan memainkan peranan.

Sementara beberapa kalangan di dalam pemerintahan PM Turnbull yakin bahwa Trump sedang mempersiapkan kekuatan militer terhadap Iran, yang lain melihat hal tersebut hanyalah sebuah ancaman belaka.

Ini disebabkan karena konflik dengan Iran akan menghasilkan respons yang tidak bisa diduga di Timur Tengah.

Bila ada serangan, Kanada besar kemungkinan tidak akan berperan dalam aksi militer ke Iran, demikian juga dengan Selandia Baru.

 

Simak video pilihan berikut:

Trump Mengancam Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AP PHOTO via Breitbart)
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AP PHOTO via Breitbart)

Awal pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait Iran lewat akun Twitter pribadinya @realDonaldTrump. Pernyataan itu diutarakan Trump pada Senin, 23 Juli 2018.

Lewat sebuah twit, Trump memberi peringatan kepada Presiden Iran Hassan Rouhani agar tidak mengancam Amerika Serikat.

Hal itu tampak sebagai respons atas komentar Rouhani yang mengatakan bahwa dirinya bisa saja menghentikan pengiriman minyak ke AS jika Trump terus memprovokasi Iran. Demikian seperti dikutip dari DW, Senin 23 Juli 2018.

Menanggapi pernyataan Rouhani, Donald Trump di akun Twitter menulis dengan huruf besar "JANGAN PERNAH MENGANCAM AMERIKA SERIKAT LAGI."

Selanjutnya dia balas mengancam dan mengatakan bahwa Iran "AKAN MENANGGUNG KONSEKUENSI SEPERTI YANG SEBELUMNYA HANYA PERNAH DIDERITA BEBERAPA PIHAK SEPANJANG SEJARAH."

 

Tanggapan Iran

Komandan pasukan khusus Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani (AP)

Seorang komandan pasukan khusus Iran telah memperingatkan Presiden Donald Trump, bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, semua yang dimiliki Negeri Paman Sam akan hancur.

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, nama komandan tersebut, bersumpah bahwa jika pasukan AS memulai perang, Republik Islam Iran akan menumpas habis, demikian seperti yang dilaporkan kantor berita nasional Tasnim.

Dikutip dari BBC, Jumat 27 Juli 2018, sikap tegas Jenderal Soleimani itu disampaikan untuk merespons twit Donald Trump di atas.

Mayor Jenderal Soleimani --yang memimpin Pasukan Quds dari pengawal revolusi elite Iran-- mengatakan pada Kamis, 26 Juli 2018, bahwa: "Sebagai seorang prajurit, adalah tugas saya untuk menanggapi ancaman Anda (Trump)."

"Bicaralah padaku, jangan kepada presiden (Hassan Rouhani). Ini bukan martabat pemimpin kami untuk menanggapi Anda. Jika Anda memulai perang, kami akan mengakhiri perang. Anda tahu bahwa perang ini akan menghancurkan semua yang kamu miliki."

Dia juga menuduh Presiden AS menggunakan diksi "klub malam dan ruang perjudian", pilihan kata yang dianggap tak sopan.

Pada akhir pekan lalu, Presiden Trump sempat membuat twit yang mengejutkan, sebagai bentuk kemarahan terhadap Presiden Iran.

Sebagaimana dilansir kantor berita Tasnim, Presiden Hassan Rouhani sempat mengatakan, "Mereka harus tahu bahwa perdamaian dengan Iran adalah awal dari semua perdamaian, dan perang dengan Iran adalah awal dari semua perang."

Akan tetapi, dua hari kemudian, ketika berbicara dengan kelompok veteran, Donald Trump mengatakan AS "siap membuat kesepakatan nyata" dengan Iran.

Lanjutkan Membaca ↓