Benarkah Jus Mumi Mesir Mengandung Khasiat Magis? Ini Kata Ilmuwan

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 28 Jul 2018, 21:00 WIB
Diperbarui 28 Jul 2018, 21:00 WIB
Sarkofagus di Alexandria
Perbesar
Tiga kerangka dan limbah cair ditemukan di dalam sarkofagus tersebut. Tulang belulang itu diyakini sebagai perwira tentara Mesir kuno. (Foto: Kementerian Barang Antik dan Benda Kuno Mesir)

Liputan6.com, Kairo - Pada Kamis 19 Juli 2017, para arkeolog Mesir membuka sarkofagus misterius berusia 2.000 tahun yang ditemukan di Distrik Sidi Gaber. Peti batu berwarna hitam tersebut mungkin adalah yang terbesar yang ditemukan di Alexandria.

Awalnya, banyak orang menduga bahwa kutukan kuno akan menimpa siapapun yang berani membuka tutup peti tersebut, seperti yang konon menimpa mereka yang membuka makam Firaun Tutankhamun pada awal 1900-an. Namun, setidaknya hingga saat ini, hal itu tak terjadi.

"Kami membukanya, dan syukurlah, dunia tak lantas jatuh dalam kegelapan," Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir atau Supreme Council of Antiquities, Dr Moustafa Waziri seperti dikutip dari News.com.au, Sabtu (28/7/2018).

"Saya yang pertama kali melongok ke dalam sarkofagus tersebut. Dan saat ini saya berdiri di depan Anda. Dalam kondisi baik-baik saja," kata dia beberapa waktu lalu.

Para arkeolog justru menemukan tiga kerangka manusia, yang diduga tentara pada masa lalu, terbaring di genangan air berwarna kemerahan.

Sarkofagus granit hitam berusia 2.000 tahun ini ditemukan di Alexandria, Mesir. Di dalamnya, para arkeolog menemukan campuran kotoran dan kerangka. (Foto: Kementerian Barang Antik dan Benda Kuno Mesir)

Dr Waziri kemudian menepis spekulasi yang menyebut, peti tersebut berisi jasad Alexander Agung. Ia menyebut, jasad di dalamnya mungkin adalah pendeta.

Namun, temukan bekas luka panah di salah satu tengkorak mengarah pada dugaan bagwa mereka adalah anggota militer.

Sebelumnya, sempat beredar spekulasi bahwa peti batu seberat 30 ton berisi jasad Alexander Agung -- yang mendirikan kota pada 331 Sebelum Masehi, yang hingga kini masih menyandang namanya: Alexandria.

Legenda menyebut, penguasa Makedonia yang legendaris itu meninggal dunia pada 323 SM di Babilonia atau Irak namun jasadnya kemudian dipindah ke Alexandria. Namun, lokasi persis makam 'sang penakluk' itu masih jadi misteri.

Dr Waziri bahkan menyebut bahwa tiga jasad dalam peti tak berkaitan dengan anggota terkemuka Dinasti Ptolemaic (332 SM-30 SM) yang terkait dengan Alexander Agung, atau era penguasa Romawi berikutnya.

Pejabat kepurbakalaan Mesir itujuga membantah dugaan yang menyebut, cairan di dalam peti adalah 'jus mumi', ramuan yang konon akan membuat siapapun yang meminumnya mendapatkan kekuatan magis.

Pihak berwenang juga membantah bahwa cairan tersebut adalah merkuri merah. Itu hanyalah air limbah.

Dr Waziri mengatakan, kerangka dalam peti telah hancur sebagian karena air limbah dari sebuah gedung di dekatnya merembes masuk ke dalam sarkofagus -- melalui retakan kecil di salah satu sisinya.

Meski demikian, penjelasan pihak kepurbakalaan Mesir tak mampu membendung orang-orang yang penasaran ingin meminum cairan tersebut. Mereka bahkan menggelar kampanye di internet.

Petisi yang meminta agar jus mumi Mesir bisa dikonsumsi (change.org)

 

"Kami harus meminum cairan merah dari sarkofagus terkutuk tersebut, dalam bentuk semacam minuman energi berkarbonasi, sehingga kami bisa merasakan kekuatannya dan akhirnya mati," demikian ditulis pencetus petisi, Innes McKendrick di situs change.org.

Hingga Sabtu malam pukul 20.00 WIB, petisi tersebut telah didukung hampir 30 ribu tanda tangan.

Kata Ahli Mikrobiologi

Sarkopagus itu tingginya hampir dua meter dan panjang tiga meter. (Foto: AFP)

Sementara itu, seperti dikutip dari situs sains, LiveScience, ahli mikrobiologi, Rolf Halden berpendapat, alih-alih mendapat kekuatan magis, mengonsumsi cairan dari peti berisi mumi itu justru berbahaya bagi peminumnya.

"Bukan ide bagus untuk meminum air limbah, tak peduli seberapa tua cairan itu," kata pengajar sekaligus direktur Center for Environmental Health Engineering di Biodesign Institute, Arizona State University.

Alasannya, air limbah, dan serpihan dari jenazah yang telah terurai, mengandung banyak mikroorganisme yang beberapa di antaranya berpotensi bahaya.

"Kemungkinan besar ada virus, bakteri, dan patogen lain dalam cairan itu, termasuk beberapa bakteri yang dapat membentuk "endospora", yang sangat sulit untuk dibunuh, kata Halden.

Spora diketahui dapat bertahan hidup dalam spesimen yang membusuk selama ribuan, dan bahkan jutaan tahun.

Hal tersebut menjadi alasan kuat mengapa cairan yang disebut 'jus mumi' itu tak layak dikonsumsi.

Meski demikian, Halden menambahkan, "jika seseorang merasa harus meminumnya, material tersebut harus disterilkan."

Dan, walaupun tak menyarankan siapapun meminum cairan itu, Halden mengatakan, laboratorium di lembaganya dengan senang hati akan menganalisis cairan itu. Menurut dia, hanya dibutuhkan beberapa mililiter agar jus mumi tersebut bisa dianalisis.

 

Saksikan video terkait mumi Mesir berikut ini:

2 dari 2 halaman

'Obat Mujarab' Berbahan Mumi

Museum Mesir Pamerkan Mumi Menjerit
Perbesar
Anak-anak melihat 'Mumi Menjerit' yang dipamerkan di Museum Mesir, Kairo, Selasa (14/2). 'Mumi Menjerit' tersebut diduga membunuh ayahnya dan dijatuhi hukuman mati dengan digantung. (KHALED DESOUKI/AFP)

Meski terdengar aneh, kebiasaan mengonsumsi mumi kuno ternyata pernah dipraktikkan manusia pada masa lalu.

Seperti dikutip sebagian dari situs www.thevintagenews.com, Kala itu, pada Abad ke-17, para orang kaya di Eropa kerap mengonsumsi bagian tubuh mumi Mesir yang digiling halus dan ditambahkan bahan-bahan lain.

Ramuan semacam itu dianggap mujarab dan punya khasiat magis. Tak heran, sejumlah mumi Mesir, Mesopotamia, Mesopotamia, dan Mesoamerika berakhir di pencernaan orang-orang tajir kala itu.

Arkeolog melakukan penelitian pada tengkorak yang ditemukan di sebuah makam kuno di kota Luxor, Mesir (9/9). Menurut Menteri Purbakala Mesir, mumi-mumi tersebut merupakan mumi pandai emas kerajaan dan keluarganya. (AFP Photo/Khaled Desouki)

Berkat kemajuan ilmu pengetahuan pada Abad ke-18 dan 19, serta pendekatan riset yang bertujuan menciptakan obat-obatan, orang-orang secara bertahap meninggalkan praktik yang dipertanyakan kegunaannya itu.

Meski demikian, fakta bahwa bubuk obat mahal yang mengandung bagian mumi kuno yang digiling masih ada di katalog medis Jerman pada awal Abad ke-20 membuktikan bahwa orang mudah dibujuk untuk membeli apa pun yang berlabel "mistis" atau "penyembuhan alami."

Lanjutkan Membaca ↓