Panen Kabut Jadi Solusi Hadapi Kekeringan di Chile

pada 16 Jul 2018, 09:01 WIB
Diperbarui 18 Jul 2018, 08:13 WIB
Tak Hanya Cape Town, 2 Kota di Australia Juga Bakal Kehabisan Air

Coquimbo - Peternakan di utara Chile, adalah salah satu kawasan paling kering di dunia. Oleh karenanya, penduduk setempat belajar untuk beradaptasi dengan kekeringan, setelah menemukan sumber air baru, yakni kabut. Demikian seperti dikutip dari DW, Senin (16/7/2018).

Sejak Desember tahun lalu, daerah Coquimbo di bagian utara Chile sudah mengalami darurat kekeringan. Dan ini hanya kekeringan terakhir dalam dalam serangkaian tahun yang kering. Tapi sumber air baru yang mengejutkan, kini membatu petani lokal menghadapi cuaca kering.

Desa-desa di kawasan itu biasanya terdiri dari sejumlah gubuk tanpa air yang mengalir. Untuk mendapatkan listrik, masyarakat di kawasan itu kadang harus menggunakan generator. Mereka bergantung pada pemerintah lokal untuk mengangkut air dengan truk. Tapi itu juga tidak cukup.

Jose Ossandon tinggal di desa bernama Los Tomes bersama 19 keluarga lainnya. Sebagian besar dari mereka mempunyai hewan, baik sapi, kuda, domba dan kambing. Namun, kekeringan dan kemarau panjang membuat mereka merugi.

"Di tahun-tahun yang bagus, jika hujan cukup, kami bisa menjual ternak dengan harga baik," demikian dikatakan Ossandon kepada DW. "Tapi di tahun-tahun yang buruk, jika tidak ada hujan, sangat parah, karena tidak ada makanan bagi ternak, dan kami terpaksa menjual ternak dengan harga yang tidak bagus."

Memanen Kabut

Daniela Henriquez bekerja di bidang kebijakan masyarakat di universitas, dan jadi salah satu yang berwenang memimpin proyek, yang diadakan Universitas Katolik di bagian utara Chile.

"Kami memilih komunitas yang berlokasi 25 kilometer dari laut, atau lebih dekat, karena di situlah kami bisa menangkap kabut yang paling 'baik'," demikian dikatakan Henriquez.

Prosesnya mudah. Penangkap kabut ditempatkan di puncak gunung terdekat, di mana angin meniup udara lembab melalui jaring. Air kemudian menetes ke saluran air di bawah jaring, dan mengalir ke pipa.

"Kami punya dua penangkap kabut, yang airnya dialirkan ke tempat minum ternak," demikian Ossandon. "Kami punya hasil sangat baik dari itu. Hewan-hewan mendapat air bersih dan bisa tetap berada di bukit-bukit untuk memakan rerumputan, dan tidak perlu ke desa untuk minum."

Tangki-tangki air tersebar di seluruh bukit untuk mendorong hewan agar pergi ke daerah baru untuk memakan rumput. Ada juga rencana untuk menggunakan air dari kabut untuk mengairi kawasan baru untuk merumput.

Tergantung beratnya kabut, 1 meter persegi jaring bisa menghasilkan antara dua sampai tujuh liter air per hari. Jaring-jaring luasnya sekitar 60 meter. Di tengah kekeringan besar, air tambahan ini sangat berguna bagi komunitas lokal.

 

Simak pula video berikut:

2 dari 2 halaman

Jadi Harapan

ilustrasi kemarau dan kekeringan
Ilustrasi kekeringan dan kemarau berkepanjangan (File / Liputan6.com)

Harga sebuah jaring, termasuk penempatannya sekitar US$ 8.000. Komunitas tidak bisa membayar proyek jika ditanggung sendirian. Sebagian besar orang di kawasan itu berpendapatan hanya sekitar 100 sampai 200 dolar (atau Rp 1,5 juta) per bulan.

Universitas Katolik di Utara Chile dan pemerintah lokal membiayai proyek dengan tujuan menguji teknologi sambil menjaga cara hidup masyarakat di kawasan itu, dengan cara membantu mereka beradaptasi dengan kondisi yang berubah.

Akibat kekeringan, terutama warga muda meninggalkan komunitas itu. Ricardo Alvarez dari desa Majada Blanca yang juga jadi daerah ujian jaring kabut berharap, kaum muda kembali datang untuk membantu dalam menjalankan bisnis minyak zaitun.

Sementara di Los Tomes, putra Ossadon adalah murid terakhir di sekolah lokal. Keluarga-keluarga lainnya sudah pindah ke kawasan lain.

Meskipun situasi di sana menyedihkan, daerah-daerah lain sudah menggunakan jaring kabut lebih lama, sudah menunjukkan perbaikan besar.

Orang muda sudah terinspirasi untuk pulang ke daerah asal. Misalnya Jorge Velasquez dan saudaranya Salvador, yang kini memulai bisnis eko turisme.

Lanjutkan Membaca ↓