Lepas Jilbab untuk Aksi Protes, Wanita di Iran Dipenjara 20 Tahun

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 11 Jul 2018, 13:02 WIB
Diperbarui 13 Jul 2018, 12:13 WIB
Vida Mohaved, seorang wanita Iran yang memprotes pemerintah melalui aksi buka kerudung - AP

Liputan6.com, Teheran - Pengadilan tinggi di Teheran, resmi menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara terhadap seorang wanita yang sengaja melepas jilbab ketika melakukan aksi protes pada Desember lalu.

Shapark Shajarizadeh, nama wanita tersebut, mengunggah artikel pendek di situs pribadinya, mengabarkan bahwa ia dijatuhi hukuman penjara karena "menentang kewajiban berjilbab" di Iran, dan melambaikan bendera putih --tanda perdamaian-- di hadapan publik.

Dikutip dari Time.com pada Rabu (11/7/2018), tidak ada konentar langsung dari para pejabat Iran tentang putusan hukum tersebut.

Kilas balik pada Februari lalu, polisi Iran menangkap 29 orang setelah tertangkap kamera melakukan aksi lepas jilbab, dalam unjuk rasa bertajuk "Rabu Putih".

Nasrin Sotoudeh, pengacara hak asasi manusia terkemuka yang mewakili Shajarizadeh dan wanita lainnya, juga turut ditangkap bulan lalu.

Shajarizadeh yang berusia 42 tahun, sempat dibebaskan dengan jaminan pada akhir April. Namun, keberadaannya sempat tidak diketahui, hingga kemudian dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Di Iran, wanita yang menunjukkan rambutnya di depan umum, terancam dikenai sanksi hukum, mulai dari denda US$ 25 (sekitar Rp 359 ribu), hingga kurungan penjara.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Ditangkap Karena Menari

Ilustrasi bendera Iran
Ilustrasi (iStock)

Sementara itu, sebelumnya otoritas Iran telah menangkap sejumlah orang karena mengunggah video di Instagram, termasuk seorang wanita muda yang memicu kemarahan publik akibat menari dengan iringan musik.

Sosok wanita muda yang menuai kontroversi itu diketahui bernama Maedeh Hojabri, yang diperkirakan berada di penghujung usia belasan.

Dikutip dari The Guardian pada Senin, 9 Juli 2018, akun Instagram Hojabri yang memiliki lebih dari 600 ribu pengikut, telah diblokir atas desakan otoritas komunikasi setempat.

Bersama tahanan lainnya, Hojbari muncul di sebuah program televisi negara untuk membuat pengakuan, yang menurut para aktivis dinilai sebagai paksaan oleh otoritas Iran.

elevisi nasional Iran menayangkan seorang wanita muda yang wajahnya dikaburkan, menangis, dan terlihat gemetar ketika menyampaikan pengakuannya.

"Saya punya beberapa pengikut dan video-video ini untuk mereka. Saya tidak memiliki niat untuk mendorong orang lain melakukan hal yang sama ... Saya tidak bekerja dengan tim, saya tidak menerima pelatihan. Saya hanya melakukan senam," kata Hojabri seraya terisak.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait