Gerhana Bulan Terlama Abad Ini Akan Hiasi Angkasa pada 27 Juli 2018

Oleh Liputan6.com pada 11 Jul 2018, 07:48 WIB
Diperbarui 13 Jul 2018, 07:13 WIB
Super Blue Blood Moon

Liputan6.com, New York - Para pengamat fenomena angkasa akan disuguhkan pemandangan menarik pada 27 Juli waktu setempat, saat di mana gerhana Bulan total terlama di abad ini menghiasi angkasa di malam hari. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Selasa (10/7/2018).

NASA menyatakan, gerhana Bulan akan berlangsung selama 1 jam dan 43 menit yang akan terlihat di Afrika Timur dan Asia Tengah. Warga di bagian lain benua Afrika dan Asia selain juga mereka yang tinggal di Eropa, Australia, dan Amerika Selatan akan dapat menyaksikan sebagian dari gerhana bulan tersebut.

Para pengamat angkasa di Amerika Utara tidak akan dapat melihat kejadian langka ini dan harus menunggu hingga tahun 2020 untuk menyaksikan gerhana bulan total.

Selama berlangsungnya gerhana, Bulan akan tampak kemerahan karena posisinya tepat segaris dengan Bumi dan matahari sehingga bayang-bayang Bumi menghalangi cahaya matahari secara total.

Bulan akan kehilangan kecemerlangannya yang biasa yang disebabkan oleh pantulan cahaya matahari dan berubah dengan memantulkan sinar kemerahan yang tampak menyeramkan, sehingga gerhana Bulan ini disebut sebagai "Bulan Darah" atau Blood Moon.

Para ilmuwan mengungkap alasan mengapa gerhana Bulan ini berlangsung lama. Pasalnya Bulan hampir melintasi tepat bagian tengah dari bayang-bayang Bumi. Sebagai perbandingan, lintasan gerhana Bulan ini berlangsung hampir 4 menit dari waktu gerhana Bulan terlama yang mungkin terjadi.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Supermoon

Proses Terjadinya Gerhana Bulan
Gerhana bulan "super blue blood moon" terlihat di atas langit Jakarta, Rabu (31/1). Fenomena alam yang langka ini terjadi hanya sekali dalam 150 tahun. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Awal tahun ini, sebuah gerhana Bulan terjadi pada Januari di waktu yang hampir berbarengan dengan fenomena "Bulan Super" atau dikenal sebagai Supermoon, yang berlangsung saat sebuah Bulan purnama berada pada titik orbit terdekatnya dengan Bumi.

Ini membuat Bulan tampak lebih terang dan besar dari biasanya. Kejadian tersebut menimbulkan kegembiraan di antara para pengamat Bulan dengan terjadinya fenomena Blood Moon dan Supermoon di saat yang sama.

Untuk mereka yang tidak mampu untuk menyaksikan gerhana Bulan ini, Juli akan mempersembahkan hiburan lain bagi para pengamat angkasa.

Di akhir bulan ini, planet Mars akan medekati Bumi, mencapai titik orbit dimana planet itu akan berada posisi terdekatnya dengan planet kita. Mars akan tampak 10 kali lebih cerah dari biasanya, dengan puncak kecerahannya yang terjadi pada tanggal 31 Juli.

Semua orang di dunia akan memiliki peluang untuk menyaksikan fenomena tata surya ini, dengan syarat langit cerah.

3 of 3

Gerhana Bulan Total di Indonesia

Proses Terjadinya Gerhana Bulan
Pemandangan gerhana bulan yang terlihat di atas langit Jakarta, Rabu (31/1). Gerhana Bulan Total ini disertai dengan Supermoon dan Blue Moon. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Sementara itu di Indonesia, gerhana Bulan total akan berlangsung pada 28 Juli. Demikian menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam sebuah pernyataan.

BMKG menuliskan bahwa pada tahun ini setidaknya ada lima kali gerhana, tiga gerhana Bulan yang dapat diamati dari Indonesia dan dua gerhana matahari yang tidak dapat diamati dari Indonesia.

"Pada tahun 2018 ini diprediksi terjadi lima kali gerhana, yaitu: 1. Gerhana Bulan Total (GBT) 31 Januari 2018 yang dapat diamati dari Indonesia, 2. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 15 Februari 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia, 3. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 13 Juli 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia, 4. Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Juli 2018 yang dapat diamati dari Indonesia, dan 5. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 11 Agustus 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia."

Proses gerhana dimulai ketika piringan Bulan mulai memasuki penumbra Bumi, yaitu pada pukul 00.13 WIB. Setelah itu, sinar Bulan menjadi sedikit lebih redup dibandingkan sebelum gerhana. Namun demikian, perubahan ini tidak akan dapat dideteksi oleh mata telanjang.

Fase tersebut dapat dideteksi dari hasil perbandingan perekaman antara sebelum gerhana terjadi dengan setelah gerhana mulai terjadi. Ketika piringan Bulan mulai memasuki umbra Bumi, yang terjadi pada pukul 01.24 WIB, fase gerhana sebagian pun dimulai.

Hal itu ditandai dengan sedikit lebih gelapnya bagian Bulan yang mulai memasuki umbra Bumi. Semakin lama bagian yang gelap ini menjadi semakin besar, hingga akhirnya seluruh piringan Bulan memasuki umbra Bumi pada pukul 02.29 WIB.

Sejak waktu tersebut, bagian Bulan menjadi memerah dan mencapai titik puncak pada pukul 03.21 WIB. Memerahnya piringan Bulan ini terjadi karena adanya cahaya matahari yang dihamburkan oleh atmosfer Bumi, untuk kemudian bagian cahaya kemerahannya yang diteruskan hingga sampai ke Bulan.

Karena itulah, fase totalitas dalam Gerhana Bulan Total akan berwarna kemerahan. Peristiwa memerahnya piringan Bulan saat fase totalitas ini akan berakhir pada pukul 04.13 WIB, yaitu ketika piringan Bulan mulai memasuki kembali penumbra Bumi.

Sejak saat itu, piringan Bulan pun akan terlihat gelap kembali, ditambah adanya bagian terang pada piringan Bulan yang menandakan persitiwa gerhana Bulan sebagian kembali terjadi. Seiring waktu, bagian yang terang itu akan semakin besar hingga akhirnya seluruh piringan Bulan meninggalkan umbra Bumi pada pukul 05.19 WIB.

Pada saat tersebut, Bulan berada di bagian penumbra Bumi sehingga peristiwa gerhana Bulan penumbra pun kembali terjadi. Bulan kian cemerlang, meskipun tidak secrah purnama biasa, hingga akhirnya gerhana pun selesai pada pukul 06.30 WIB --ketika Bulan meninggalkan penumbra Bumi.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by