Iran Kehilangan 50 Ribu Lapangan Kerja dalam Tiga Bulan, Gara-Gara Sanksi AS?

Oleh Liputan6.com pada 30 Jun 2018, 06:48 WIB
Diperbarui 02 Jul 2018, 06:13 WIB
Ilustrasi bendera Iran

Liputan6.com, Teheran - Seorang pengusaha terkemuka di Iran mengatakan negaranya telah kehilangan puluhan ribu lapangan pekerjaan di sektor swasta dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi itu, katanya, menunjukkan memburuknya perekonomian Iran akibat langkah Amerika Serikat yang kembali memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi keras, usai Presiden Donald Trump menarik AS dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau Kesepakatan Nuklir Iran.

Dalam laporan Kamis 28 Juni 2018, kantor berita Iran ISNA mengutip pernyataan Wakil Kepala Kamar Dagang, Industri, Pertambangan dan Pertanian di Iran, Hossein Salavarzi, menjelaskan bahwa sekitar 50 ribu lapangan pekerjaan hilang dari Maret hingga Mei ini. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia (30/6/2018).

Periode tiga bulan yang dirujuk Salavarzi itu mewakili kwartal pertama di tahun Persia.

ISNA juga melaporkan, Salavarzi menyampaikan bahwa pernyataan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan para anggota parlemen dari provinsi Teheran.

Laporan itu tidak merinci bagaimana 50 ribu lapangan pekerjaan itu bisa hilang. Namun laporan dari media pemerintah dan media sosial dan aktivis-aktivis HAM di Iran menggambarkan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan pabrik di seluruh negara itu tahun ini.

Salavarzi juga mengatakan soal 'kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan satu juta lapangan pekerjaan di Iran tahun ini', yang dimulai Maret lalu.

Tak jelas kebijakan siapa yang Salavarzi rujuk, namun, pernyataan lebih lanjut darinya memaparkan bahwa hilangnya lapangan pekerjaan itu menunjukkan Iran jauh tertinggal dalam hal mencapai tujuan menciptakan target tersebut.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Nilai Tukar Mata Uang Iran Anjlok

Ilustrasi nuklir Iran
Ilustrasi Iran (AFP)

Amerika Serikat beberapa bulan lalu menarik diri dari JCPOA, memulai proses pemberlakuan kembali sanksi-sanksi yang tegas terhadap sektor energi Iran yang memproduksi minyak --komoditas ekspor utama negara itu.

Sejak itu nilai tukar mata uang real Iran di pasar gelap anjlok ke titik terendah terhadap dolar, karena kekhawatiran bahwa sanksi-sanksi Amerika itu akan menurunkan ekspor minyak yang menjadi sumber pendapatan utama Negeri Para Mullah.

Pada Selasa, 8 Mei 2018, Donald Trump menandatangani memorandum presiden yang menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran atau yang dikenali pula dengan sebutan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA). Tidak hanya itu, Donald Trump juga akan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran.

Presiden ke-45 Amerika Serikat tersebut mengklaim bahwa kesepatan nuklir Iran yang dianggapnya "cacat", tidak menghentikan Teheran mengembangkan bom nuklir.

Iran dituding gagal berlaku jujur tentang ambisi nuklirnya, mendukung kelompok teroris, dan bertindak dengan cara yang semakin bermusuhan di Timur Tengah.

Inggris, Prancis, dan Jerman mengutuk kebijakan Donald Trump. Ketiganya pun berjanji akan tetap bertahan dengan kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani pada tahun 2015, saat pemerintahan Barack Obama.

Dalam pernyataan bersamanya, Inggris, Prancis, dan Jerman menegaskan bahwa kesepakatan nuklir Iran merupakan satu-satunya cara untuk mencegah perlombaan nuklir di Timur Tengah.

Lanjutkan Membaca ↓