Juru Bicara Gedung Putih Diusir dari Restoran karena Donald Trump

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 25 Jun 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 25 Jun 2018, 18:00 WIB
Sarah Huckabee Sanders (AFP)
Perbesar
Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders (AFP)

Liputan6.com, Washington DC - Sebuah pengalaman tidak menyenangkan dialami oleh juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, karena alasan ia bekerja untuk pemerintahan Donald Trump.

Ia dikabarkan diusir dari The Red Hen, sebuah restoran di kota Lexington, negara bagian Virginia, pada Jumat malam, 22 Juni 2018. Padahal saat itu, ia baru saja duduk untuk mulai memesan makanan, ketika sang pemilik menghampiri dan memintanya untuk pergi.

Dikutip dari Huffington Post pada Senin (25/6/2018), pemilik restoran tersebut keberatan dengan pekerjaan Sanders membela Presiden Donald Trump, yang beberapa waktu terakhir, dikecam luas atas kebijakan imigrasinya yang kontroversial.

Sanders mengonfirmasi insiden tersebut dalam sebuah twit: "Saya pergi dengan sopan. Saya selalu mengupayakan yang terbaik untuk memperlakukan orang, termasuk dengan mereka yang tidak sepaham, dengan hormat dan akan terus melakukannya."

Di lain pihak, pemilik restoran The Red Hen, Stephanie Wilkinson, berbicara kepada The Washington Post bahwa ada salah satu koki yang mengatakan padanya tentang kehadiran Sanders.

Wilkinson mengaku bahwa stafnya merasa tidak nyaman akan hal itu, dan meminta dirinya untuk mengusir Sanders secara baik-baik.

"Saya bukan penyuka konfrontasi," kata Wilkinson. "Saya punya bisnis, dan saya ingin hal tersebut berkembang. Ini terasa seperti momen dalam demokrasi kita, ketika orang harus membuat tindakan dan keputusan yang tidak nyaman untuk mempertahankan moral mereka."

Ditambahkan oleh Wilkinson bahwa sebagian besar staf restorannya tidak menyukai kepemimpinan Donald Trump. Ia juga menyebut bahwa beberapa karyawannya adalah gay, yang merasa sakit hati dengan kecenderungan pandangan negatif Presiden Amerika Serikat ke-45 itu terhadap kelomppok LGBTQ.

Wilkinson merasa benar dalam aksinya tersebut, karena melihat Sanders sebagai pejabat publik, bukan pelanggan biasa yang pandangan politiknya tidak ia setujui.

Meski begitu, Wilkinson memastikan bahwa ia dan Sanders sama-sama berpikiran dingin dalam menanggapi perbedaan tersebut.

"Kami melangkah keluar bersama, dan saya jujur apa adanya mengatakan tentang pandangan politik terhadap pemerintahan presiden (Trump). Dia (Sanders) menerima argumentasi saya, dan tidak masalah menerima keberatan itu," cerita Wilkinson.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Deportasi Tanpa Peradilan

Donald Trump Tinjau Tembok Prototipe di San Diego
Perbesar
Presiden AS, Donald Trump berbincang saat melihat prototipe tembok perbatasan AS dan Meksiko yang kontroversial di San Diego, Selasa (13/3). Untuk membangun tembok ini, Trump sudah mengajukan anggaran sebesar US$18 miliar kepada Kongres. (AP/Evan Vucci)

Sementara itu, Presiden Donald Trump telah menyerukan "deportasi cepat" yang memotong proses peradilan untuk imigran ilegal.

"Ketika seseorang datang, kita harus segera, tanpa hakim atau proses pengadilan, membawa kembali ke tempat mereka berasal," tulis Trump dalam sebuah kicauan Twitter pada Minggu, 24 Juni 2018.

Komentar itu muncul beberapa hari setelah Presiden Trump mengubah kebijakan untuk memisahkan anak-anak migran dari orangtua mereka, menyusul reaksi keras di dalam dan luar negeri.

Bulan lalu, sebagaimana dikutip dari Time.com, semua migran yang melintasi perbatasan AS secara ilegal menghadapi tuntutan pidana di bawah kebijakan "toleransi nol".

Aturan itu tidak memberikan perbedaan terhadap migran yang datang dengan alasan ekonomi atau mereka yang mencari suaka.

 

*Pantau hasil hitung cepat atau Quick Count Pilkada 2018 untuk wilayah Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Bali dan Sulsel. Ikuti juga Live Streaming Pilkada Serentak 9 Jam Nonstop hanya di liputan6.com.

Lanjutkan Membaca ↓