PM Ethiopia: Reformasi Tetap Berjalan Meski Bom Melukai Ratusan Orang

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 24 Jun 2018, 15:03 WIB
Diperbarui 24 Jun 2018, 15:03 WIB
Perdana Menteri Ethiopia yang paling baru, Abiy Ahmed, yang dsebut sebagai pemimpin negara termuda di Afrika karena berusia 41 tahun. (AP Photo)
Perbesar
Perdana Menteri Ethiopia yang paling baru, Abiy Ahmed, yang dsebut sebagai pemimpin negara termuda di Afrika karena berusia 41 tahun. (AP Photo)

Liputan6.com, Addis Ababa - Perdana Menteri baru Ethiopia, Abiy Ahmed, telah berjanji untuk melanjutkan program reformasi radikalnya, setelah lebih dari 100 orang terluka akibat ledakan bom yang menyerang rapat umum di Addis Ababa pada Sabtu, 23 Juni 2018.

Mantan tentara berusia 41 yang mulai memimpin sejak April lalu itu, baru saja selesai berbicara ketika apa yang dianggap sebagai granat, dilemparkan ke atas panggung di Alun-Alun Meskel pusat ibu kota.

Dikutip dari The Guardian pada Minggu (24/6/2018), sebuah rekaman video menunjukkan PM Ahmed langsung diselamatkan oleh barisan penjaga keamanan.

Beberapa saat setelahnya, PM Ahmed menggambarkan ledakan itu sebagai "serangan yang diatur dengan baik", tetapi gagal mengenai sasaran.

"Beberapa warga Ethiopia terluka, dan ada beberapa orang yang kehilangan nyawa," kata PM Ahmed dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi nasional Ethiopia.

"Cinta selalu menang. Membunuh orang lain adalah kekalahan. Kepada mereka yang mencoba memisah persatuan kami, saya ingin memberi tahu bahwa Anda belum berhasil," lanjutnya mengecam.

Menurut Menteri Kesehatan Amir Aman, serangan ledakan tersebut setidaknya menyebabkan satu orang tewas, 153 orang terluka, dan 10 lainnya berada dalam kondisi kritis.

Seyoum Teshome, seorang anggota panitia penyelenggara, mengatakan bahwa serangan itu melibatkan sebuah granat. "Seseorang mencoba untuk melemparkannya ke panggung di mana perdana menteri itu berada," kata Teshome.

Saat serangan terjadi, puluhan ribu orang memadati alun-alun di pusat ibu kota untuk mendengarkan pidato PM Amhed, yang kala itu mengenakan kaus warna hijau dan topi fedora.

Para pengamat mengatakan, ukuran kerumunan itu menggarisbawahi dukungan luas untuk pemimpin nasional termuda Afrika tersebut.

Selain itu, hal di atas juga menjadi bukti keinginan mendalam terhadap 100 tahun lebih pemerintahan otoriter di negara yang berlokasi di timur Afrika itu.

PM Ahmed diangkat sebagai perdana menteri pasca-pengunduran diri tidak terduga dari pendahulunya, Hailemariam Desalegn, pada Februari.

Sejak itu, PM Ahmed terus mengatakan bahwa perubahan baik memerlukan dukungan orang banyak, dan tidak jalan untuk kembali.

Inilah, yang menurut pengamat, membentuk rasa kagum yang meluas dari rakyat Ethiopia terhadap PM Ahmed.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Gerak Progresif PM Ahmed

Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP
Perbesar
Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP

Sejak mengambil alih kekuasaan, PM Ahmed telah memerintahkan pembebasan ribuan tahanan, membuka perusahaan milik negara untuk investasi swasta, dan secara dramatis melonggarkan pembatasan pada media.

Baru-baru ini, dia mencengangkan warga Ethiopia dengan mengatakan siap untuk sepenuhnya menerapkan perjanjian damai 18 tahun dengan Eritrea, guna bertujuan mengakhiri perang bertahun-tahun di antara kedua negara.

Langkah ini adalah salah satu kebijakan, yang menurut para pengamat, bisa mengubah kondisi geopolitik Afrika Timur.

PM Ahmed juga mengatakan, ia akan menghentikan hambatan perdagangan dengan Somalia, dan berbicara tentang keinginannya untuk kerja sama lebih dekat dengan para negara tetangga, guna menciptakan pasar tunggal di kawasan Tanduk Afrika.

Lebih dari itu, PM Ahmed dikenal sebagai sebagai pemimpin pertama dari komunitas etnis terbesar di Ethiopia, Oromo, yang telah mengeluh selama beberapa dekade karena marjinalisasi ekonomi, budaya, dan politik.

Beberapa orang memuji dia sebagai Mikhail Gorbachev dari Ethiopia, sosok pemimpim yang identik dengan dorongan pemulihan cepat Uni Soviet "yang sakit" pada akhir 1980-an.

"Serangan granat di Addis Ababa mungkin terkait erat dengan kelompok garis keras yang tidak ingin melihat dialog dan konsiliasi dengan Eritrea," kata Ryan Cummings, seorang analis keamanan yang berbasis di Afrika Selatan.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait