Foto Mengerikan Desa yang Terhapus dari Peta Akibat Letusan Gunung di Guatemala

Oleh Afra Augesti pada 08 Jun 2018, 19:40 WIB
Diperbarui 10 Jun 2018, 19:13 WIB
Gunung Fuego di Guatemala mengalami erupsi dahsyat yang sebabkan tujuh orang tewas dan ratusan orang luka-luka (AFP/Guatemalan Government)

Liputan6.com, Guatemala - Sore itu, awan panas raksasa dan abu vulkanik mengepul di angkasa luas Guatemala.

Kedua material ini muncul dari Gunung Fuego yang meletus dengan dahsyat pada Minggu, 3 Juni 2018, dan membakar orang-orang yang tinggal di lerengnya. Seluruh kota terkubur dalam waktu singkat, semua berubah menjadi warna abu. Tercatat, hampir 100 warga tewas.

Foto-foto satelit menampakkan kota yang terdampak, sebelum dan sesudah letusan. Seluruh pinggiran kota dihapus dari peta karena ratusan rumah ambruk ketika berton-ton abu jatuh menghancurkannya.

Semua rata dengan tanah. Yang dulunya merupakan kumpulan ngarai hijau, lereng bukit, dan ladang, kini berubah jadi abu.

San Miguel Los Lotes yang samar-samar utuh setelah tersapu abu vulkanik Gunung Fuego. Kota tersebut

Gunung Fuego memuntahkan abu setinggi 20.000 kaki ke udara, mengirimkan aliran piroklastik ke tujuh desa terdekat dalam letusan terbesar selama empat dekade.

Sedangkan letusan kedua, yang terjadi pada hari Selasa, mengembuskan abu setinggi lebih dari 16.000 kaki di atas permukaan laut, mengirim lebih banyak material vulkanik ke pemukiman di timur dan timur laut.

La Reunion Golf Resort terbungkus material vulkanik dengan bangunan yang rusak berat. (AP)

Tim SAR telah mengevakuasi 99 jenazah yang terkubur abu dan puing-puing bangunan, hanya 28 yang berhasil diidentifikasi. Setidaknya, 197 orang dinyatakan masih hilang. Lebih dari 1,7 juta orang terkena dampak letusan dan 12.000 orang dievakuasi ke pusat-pusat bantuan.

Salah satu penduduk lokal, Alfonso Castillo, menceritakan kisahnya menyaksikan langsung bencana alam tersebut. Tempat tinggalnya di Desa San Miguel Los Lotes benar-benar dilenyapkan oleh lautan abu panas, membunuh orang, hewan peliharaan dan satwa liar.

"Dalam hitungan tiga atau empat menit, desa itu lenyap," kata petani berusia 33 tahun ini, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (8/6/2018).

Tim SAR terlihat sedang mencari para korban di El Rodeo, salah satu dusun yang terdampak letusan Gunung Fuego. (AP)

"Tidak ada yang ingin kembali ke sana. Anak-anak saya mengatakan mereka lebih suka berada di jalanan. Ada banyak orang yang membantu kami, tetapi kami tidak memiliki apa pun. Kami tidak bisa mengeluarkan apa pun. Bagi kami, tidak ada hari esok," kenangnya lagi.

Petugas pemadam kebakaran melaporkan, suhu di area Gunung Fuego yakni sekitar 750 hingga 1.300 derajat Fahrenheit. Kondisi ini membuat penyelamatan menjadi sulit dan berbahaya.

"Tidak ada yang bisa mengeluarkan mereka atau mengatakan berapa banyak yang terkubur di sini," kata Efrain Suarez sembari berdiri di tengah spot yang dulunya adalah desa San Miguel Los Lotes.

Abu vulkanik menyelimuti rumah dan pohon di dekat Gunung Fuego. Terlihat tim SAR sedang berkumpul di dusun El Rodeo Escuintla. (AP)

"Seluruh jenazah diperkirakan sudah hangus. Dan jika menggunakan kendaraan berat untuk melakukan pencarian, dikhawatirkan tubuh mereka akan terkoyak," kata sopir truk berusia 59 tahun itu.

Letusan Gunung Fuego di Guatemala menelan banyak korban jiwa, tim SAR berjuang untuk mencari korban selamat di mana rumah dan jalan-jalan hangus dan diselimuti abu. (AP)

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Korban Tewas Erupsi Gunung Fuego Ditemukan dalam Kondisi Mirip 'Patung'

Usai Letusan Gunung Feugo, Tim Penyelamat Melakukan Evakuasi
Tim penyelamat membongkar atap rumah warga untuk mencari korban dari letusan gunung Feugo di desa San Miguel Los Lotes, Guatemala (5/6). Hingga kini dilaporkan, sedikitnya 69 orang tewas akibat letusan gunung Feugo. (AFP/Johan Ordonez)

Gunung Fuego di Guatemala terus bergolak. Erupsi dahsyatnya sejauh ini telah menewaskan 99 orang. Meski demikian, baru 25 jasad yang sudah teridentifikasi.

Sulitnya proses identifikasi akibat panas ekstrem dari aliran vulkanik yang membakar tubuh para korban, sehingga sebagian besar jasad tidak dapat dikenali lagi.

"Sangat sulit bagi kami untuk mengidentifikasi mereka, karena beberapa korban tewas telah kehilangan sidik jari mereka akibat lahar panas," kata Direktur Institut Ilmu Forensik Nasional, Fanuel Garcia seperti dikutip dari News.com.au, Kamis 7 Juni 2018.

"Kami harus menggunakan metode lain ... jika memungkinkan mengambil sampel DNA untuk mengidentifikasi mereka."

Letusan Gunung Fuego yang terjadi pada Minggu 3 Juni membuat penduduk dusun di pegunungan terpencil di dekatnya terjebak, tak memiliki waktu dan kesempatan untuk melarikan diri ke tempat yang aman.

Menggunakan sekop dan backhoe, pekerja darurat menggali puing-puing dan timbunan lumpur. Mereka berjibaku dengan waktu di medan penuh bahaya yang masih membara akibat hujan abu, asap dan batuan cair.

Jasad para warga yang ditemukan tertutup abu vulkanik begitu tebal, sehingga mereka terlihat seperti 'patung'.

Tim penyelamat menggunakan palu godam untuk membongkar atap rumah yang terkubur material vulkanik, untuk memeriksa apakah yang terperangkap.

Hilda Lopez mengatakan, ibu dan saudara perempuannya masih hilang setelah awan panas, abu dan batu menerjang desanya di San Miguel Los Lotes, tepat di bawah lereng Gunung Fuego. 

"Kami berada di sebuah pesta, merayakan kelahiran seorang bayi, ketika salah satu tetangga berteriak pada kami untuk keluar. Kami menyaksikan kemunculan lahar yang siap menerjang," kenang Lopez.

"Kami tidak percaya awalnya, dan ketika kami keluar, lumpur panas sudah turun ke jalan. Ibuku terjebak di sana, dia tidak bisa keluar," ucap Lopez sambil menangis dan menutupi wajahnya.

Juru bicara Badan Bencana Guatemala, David de Leon mengatakan, 18 jasad ditemukan di San Miguel Los Lotes.

Suami Lopez, Joel Gonzalez mengatakan juga kehilangan ayahnya dalam peristiwa tersebut. Pria sepuh tersebut diduga kuat  dapat menyelamatkan diri dan diyakini terkubur di sana, di dalam rumah.

Lanjutkan Membaca ↓