46 Imigran Ilegal Ethiopia Tewas Tenggelam di Lepas Pantai Yaman

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 07 Jun 2018, 20:20 WIB
Naiki Perahu Karet, Pengungsi dan Imigran Ini Berniat Menuju Eropa

Liputan6.com, Sana'a - Sebanyak 46 orang imigran ilegal asal Ethiopia dilaporkan tewas tenggelam dalam perjalanan menggunakan perahu menuju Yaman pada Rabu 6 Juni 2018.

Menurut laporan lembaga migrasi PBB, puluhan orang lainnya masih belum ditemukan, dan hanya menyisakan belasan korban selamat.

Dikutip dari Time.com pada Kamis (7/6/2018), sedikitnya 100 orang imigran ilegal asal Ethiopia naik ke kapal penyelundup yang meninggalkan Pelabuhan Bossaso, di Somalia.

Setelah mengarungi laut selama hampir dua hari, perahu tersebut terjebak hantaman gelombang tinggi di lepas pantai Yaman di sekitar Teluk Aden.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengatakan bahwa puluhan orang tenggelam, termasuk di antaranya 37 orang pria dan sembilan orang wanita.

Adapun korban tenggelam yang masih dalam pencarian adalah sebanyak 16 orang, dan diduga kuat telah tewas.

"Tragedi migrasi di Teluk Aden adalah hal yang memalukan karena seolah tersembunyi di depan mata," kata Mohammed Abdiker, Direktur Operasi dan Keadaan Karurat IOM.

Ditambahkan oleh Abdiker, bahwa sebanyak lebih dari 7.000 orang imigran gelap asal Afrika berusaha menyeberangi perairan Teluk Aden dan Laut Merah setiap bulannya.

"Mereka (imigran gelap) kerap diperlukan secara kurang manusiawi dan melewati kondisi yang mengerikan. Ini harus berakhir!" tambahnya.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 of 2

Yaman Bukan Negara Aman

Digempur Saudi, Istana kepresidenan Yaman Hancur Berantakan
Dua orang wanita berjalan melewati puing-puing gedung yang runtuh di kompleks kepresidenan, di Sanaa, Yaman (7/5). Jet tempur koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan udara ke istana kepresidenan Yaman. (AP Photo/Hani Mohammed)

Sementara itu, menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, hampir 290.000 imigran gelap telah menyeberangi Teluk Aden menuju Yaman sejak 2013.

Banyak dari meeka merupakan pengungsi yang berupaya melarikan diri dari konflik peperangan di kampung halaman.

Adapun Yaman sengaja dipilih sebagai titik transit karena memiliki kelonggaran dalam menyikapi arus imigran.

Meski begitu, Yaman bukanlah tempat yang aman karena negara ini, menurut laporan PBB, dilanda perang saudara dan krisis kemanusiaan selama bertahun-tahun, yang menyebabkan jutaan orang berada di ambang kelaparan.

Sementara itu, wabah kolera juga tercatat merengut lebih dari 2.000 nyawa di Yaman di sepanjang 2017 lalu.

Pekan ini, IOM mengabarkan telah membantu lebih dari 100 imigran Ethiopia meninggalkan Yaman menuju Djibouti.

Hal itu dilakukan sebagai tindak penyelamatan dari risiko kekerasan di kota pelabuhan Hudaydah, yang terletak di wilayah barat Yaman.

Lanjutkan Membaca ↓